Tak Cuma Strok, Dokter Sebut Hipertensi Bisa Bikin Pikun hingga Buta
Tekanan darah tinggi atau hipertensi selama ini identik dengan strok dan penyakit jantung. Namun, dampaknya ternyata jauh lebih luas dari yang banyak diketahui masyarakat.
Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Eka Harmeiwati mengungkap hipertensi juga dapat memicu gangguan penglihatan, demensia, hingga gejala mirip Parkinson akibat kerusakan pembuluh darah kecil di otak.
"Hipertensi bisa bikin buta. Kerusakan pada pembuluh retina," kata Eka dalam penjelasannya, Rabu (20/5).
Ia menjelaskan hipertensi pada dasarnya merupakan penyakit yang menyerang dinding pembuluh darah. Karena pembuluh darah terdapat di seluruh tubuh, dampaknya pun dapat menyerang banyak organ, termasuk mata dan otak.
"Hipertensi itu adalah penyakit dari dinding pembuluh darah. Jadi kerusakannya adalah di dinding pembuluh darah," ujarnya.
Menurut Eka, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada mata hingga berujung gangguan penglihatan permanen.
Tak hanya mata, hipertensi juga disebut dapat berdampak langsung pada fungsi otak meski pasien belum pernah mengalami strok.
Ia menjelaskan kondisi tersebut terjadi akibat cerebral small vessel disease (CSVD) atau gangguan pada pembuluh darah kecil di otak yang menyebabkan aliran darah terganggu secara perlahan.
"Tidak hanya demensia, kalau hipertensi itu ada cerebral small vessel disease bisa jadi vertigo, gangguan keseimbangan. Bisa kait ke gejala Parkinson juga," ujarnya.
Menurut Eka, hipertensi kronis dapat memicu munculnya bintik-bintik kecil atau penyumbatan kecil pada pembuluh darah otak bagian dalam. Kondisi itu paling sering ditemukan pada pasien dengan gejala demensia atau kepikunan.
Eka juga mengingatkan hipertensi tak lagi identik dengan usia lanjut. Pada kondisi tertentu, komplikasi hipertensi bahkan bisa muncul pada usia muda.
Ia menyebut kasus hipertensi pada usia muda biasanya berkaitan dengan hipertensi sekunder atau kondisi tekanan darah tinggi akibat penyakit lain, seperti gangguan hormon maupun kelainan jantung bawaan.
Selain itu, Eka juga mengimbau untuk memperhatikan tren olahraga berat tanpa pemeriksaan kesehatan yang kini semakin sering ditemukan pada anak muda.
Ia mengingatkan hipertensi yang tidak terdeteksi dapat meningkatkan risiko robeknya pembuluh darah besar atau aortic dissection saat melakukan aktivitas olahraga yang ekstrem.
"RS Harapan Kita sering menemukan pasien-pasien yang robek pembuluh darah," jelasnya.
Oleh karena itu, Eka mengingatkan agar rutin memeriksa tekanan darah sejak usia muda, terutama sebelum menjalani olahraga intensitas berat.
"Kalau mau olahraga berat, periksa kesehatan, cek tensi," ujar Eka.
(nga/fef)