Kenapa Disebut Tiket Pulang-Pergi, Bukan Pergi-Pulang? Ini Jawabannya

CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 13:00 WIB
Kenapa Disebut Tiket Pulang-Pergi, Bukan Pergi-Pulang? Ini Jawabannya
Ilustrasi penumpang kereta api dalam sebuah perjalanan. (Istockphoto/Solovyova)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika memesan tiket perjalanan, masyarakat Indonesia tentu sering menemui istilah Pulang-Pergi (PP) dalam opsi pembelian.

Namun, sadar atau tidak, penggunaan istilah Pulang-Pergi tak jarang dianggap janggal, karena pilihan kata "Pulang" yang dipakai lebih dulu ketimbang "Pergi".

Padahal, saat melakukan perjalanan diawali dengan pergi, baru kemudian melakukan perjalanan pulang. Kendati demikian, istilah Pulang-Pergi ini tetap digunakan dan tidak berubah menjadi Pergi-Pulang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang pakar bahasa, Ivan Lanin, membeberkan mengenai kebiasaan penggunaan istilah Pulang-Pergi berdasarkan penjelasan dari tulisan di blog Rubrik Bahasa.

"Intinya, kita tetap mendahulukan tujuan. Dalam 'pulang pergi', 'pulang' lebih menjadi tujuan kita," kata Ivan kepada CNNIndonesia.com, dengan menyarikan isi tulisan dari blog Rubrik Bahasa.

Mendahulukan tujuan menurut Ivan juga terdapat dalam "jual beli" dan "maju mundur". Sementara dalam tulisan blog Rubrik Bahasa dengan judul "Bahasa dan Realitas" oleh Yanwardi, juga disebutkan bahwa sesungguhnya struktur setipe lain juga ada.

"Sesungguhnya dalam bahasa (Indonesia) struktur setipe 'keluar masuk' yang tampak tidak ikonis, cukup banyak. Yang saya maksud dengan struktur yang tampak tidak manasuka adalah bahwa antara penanda (bunyi, kata, frasa) dan petanda (obyek, yang diacu penanda realitas) seolah-olah tidak memiliki hubungan kronologis," jelasnya.

Dalam tulisannya, dia memberi contoh yang setipe dengan "keluar masuk" antara lain "turun naik", "pulang pergi", "tua muda", dan "datang pergi".

"Bahkan, uniknya bentuk yang bias dianggap tidak logis karena dianggap tidak sesuai dengan realitas, seperti bentuk 'keluar masuk' dan 'pulang pergi' sebenarnya juga logis dengan jenis kelejasan yang lain, yakni urutan kronologis dengan pelaku berada di dalam," tulisnya.

"Sebab itu, urutannya 'keluar' dulu, baru 'masuk'. Sementara 'pulang pergi' lejas atau ikonis secara psikologis, manusia secara naluriah ingin sampai di rumah dahulu. Sebab itu, urutannya, menjadi 'pulang' dahulu," lanjutnya dalam blog tersebut.

(wiw) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]