Gultik Blok M, Kuliner Legendaris Penenang Perut Kala Dompet Tipis

Rhea Tritami | CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 16:00 WIB
Suasana dagangan para penjual gultik di sepanjang Jalan Mahakam, Blok M, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/5).
Ade Heri (35), salah satu penjual gultik di kawasan Blok M sedang menyajikan hidangan andalannya pada Kamis (21/5). (CNN Indonesia/Rhea Febriani)

Harga murah meriah jadi daya tarik utama

Soal rasa, memang tergantung dari selera masing-masing. Namun satu hal yang membuat gultik tetap bertahan di Blok M bertahun-tahun lamanya, ternyata karena harganya. Tak heran kalau kuliner ini jadi serbuan orang di kala dompet sedang menipis.

"Memang karena makanan murah, ya, terus daging-dagingan. Dari zaman dulu tuh, emang dia yang murah," ujar Jojo (59), salah satu pembeli saat ditanyai perihal apa yang menarik dari gultik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jojo ketika itu baru saja selesai berkegiatan bakti sosial bersama tiga rekannya di sekitaran Blok M. Ia mengajak rekan-rekannya untuk makan gultik karena sedang "ngidam." Maklum, Jojo sudah menyukai gultik sejak 1989.

"Saya dari zaman bujangan sudah main di sini. Kebetulan enggak jauh [dari] rumah mertua. Jadi, sama istri ke sini. [Saat] sudah punya anak, sama anak makan ke sini juga," tutur Jojo.

Soal porsi, Jojo mengaku dahulu bisa habis dua hingga tiga piring dalam sekali makan. Namun kini merasa satu piring sudah cukup. Ditambah lagi, ada makanan pendamping seperti sate-satean yang sebelumnya tidak dijual bersamaan dengan gultik.

"Ya, seadanya aja ini. Zaman dulu belum ada begini-begini [sate-satean]," ucap Jojo.

Fitri (37), pembeli lainnya, juga sepakat harga jadi daya tarik utama gultik. Sebagai warga Jakarta, Ia mengaku kenal gultik sejak zaman kuliah, sekitar 2009.

"Murah sih, Rp10.000 seporsi. Ya, buat jajanan anak kuliah, itu worth it, lah," ucap Fitri yang ketika itu sedang makan gultik bersama seorang kawannya.

Fitri lalu menceritakan suasana jualan gultik di Blok M dari zaman ia kuliah hingga sekarang. Menurutnya, jumlah penjual kini lebih ramai.

"Kalau yang sekarang tuh lebih rame. Kalau dulu, zaman gue ke sini, yang jadi pusatnya tuh memang di sekitar Barito. Sekarang itu, dari [Jalan] Bulungan sampai Blok M ujung Barito lagi, itu full orang jualan gultik," tutur Fitri.

Penjualan tak seramai dahulu

Soal harga gultik, Ade Heri juga mengatakan sejak lama harga tak berubah, masih di angka Rp10 ribu. Namun ia merasakan ada penurunan penjualan selama beberapa tahun ini.

Dahulu, pembeli sudah ramai berdatangan sejak sore. Kini, dagangan baru ramai diserbu selepas azan Magrib. Masalahnya, bukan pada selera orang yang berubah.

"Bukan, karena perekonomian, kita ngeliatnya gitu. Kalau perekonomian lagi maju, kita di sini rame, dah. Kalau perekonomian kecil, perekonomian rendah, di sini kelihatan. Mau jajan, mikir-mikir dulu dah buat jajan anaknya di rumah," ujar Ade.

Ade juga membandingkan dengan jumlah penjualan yang biasa ia hitung dengan skala literan nasi gultik. Dahulu, per harinya ia bisa jual 8-10 liter per hari.

"Sekarang paling 5-6 liter. Ya, minimal lah 5 liter. Senin, malam Selasa, malam Rabu, bisa 5 liter, tapi misalkan Kamis-Jumat bisa 6 liter," ucap Ade.

Meski demikian, Ade mengaku tidak mengalami rugi meski penjualan menurun. Pendapatan hariannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di rumah.

"Kalau masalah rugi sih, enggak. Tapi kita bertahan aja, karena kita di sini menunya KKN, 'Kurang-Kurang Nambah.' Kita alhamdulillah gitu, kan," ucap Ade sambil berkelakar.

(rti/asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2