Di 'Negara Blok M', Jakarta Terus Menemukan Masa Mudanya
Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 08:40 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Blok M tetap tumbuh, nyawanya tak pernah hilang tapi terus berganti mengikuti pergerakan zaman. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di media sosial, istilah 'Negara Blok M' belakangan muncul hampir di mana-mana. Ada yang menggunakannya sambil bercanda, ada pula yang serius menganggap kawasan ini seperti 'dunia sendiri' di tengah Jakarta.
Gulir-gulir media sosial TikTok pun isinya Blok M yang penuh dengan antrean makanan viral, orang-orang berburu kopi artisan, toko vinyl yang ramai, hingga sudut-sudut estetik yang silih berganti muncul di lini masa.
Bahkan, bagi sebagian anak muda Jakarta, pergi ke Blok M bukan lagi sekadar mencari makan atau nongkrong. Kawasan ini telah berubah menjadi pengalaman sosial.
Orang datang untuk berjalan kaki, melihat keramaian, bertemu teman, memotret sudut kota, atau sekadar merasa menjadi bagian dari denyut urban Jakarta.
Menariknya, Jakarta sebenarnya punya banyak kawasan kultural lain. Ada Cikini yang lekat dengan sejarah seni dan intelektual, Kota Tua dengan romantisme masa kolonial, Pasar Baru yang menyimpan jejak belanja lawas Jakarta, hingga Sabang yang tak pernah benar-benar tidur karena kulinernya.
Namun, di antara semua itu, Blok M tetap terasa berbeda. Kawasan ini seolah selalu berhasil menemukan bentuk baru untuk tetap relevan bagi generasi muda.
Pengamat budaya pop, Hikmat Darmawan menyebut, fenomena tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Blok M memang nyatanya sudah tenar sejak dulu.
"Kalau kita bicara konteks youth culture Indonesia, tahun 1980-an sampai awal 1990-an itu Blok M sudah jadi pusat anak muda. Bedanya sekarang cuma viralitas media sosial saja," kata Hikmat saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Hikmat menyebut banyak orang saat ini terputus dari sejarah panjang Blok M sebagai pusat budaya populer Jakarta. Akibatnya, kawasan ini seolah dianggap baru hidup beberapa tahun terakhir. Padahal, denyutnya sudah terasa sejak puluhan tahun lalu.
Pada era 1980-an, bahkan pernah ada film berjudul Blok M yang merupakan kepanjangan dari 'Bakal Lokasi Mejeng' yang dibintangi Desy Ratnasari hingga Paramitha Rosady. Film itu sangat populer di kalangan anak muda pada masanya dan makin menguatkan citra Blok M sebagai tempat nongkrong anak muda Jakarta kala itu.
Bukan cuma film, Radio Prambors, yang saat itu menjadi radio anak muda paling populer di Jakarta, pernah menyiarkan langsung suasana 'mejeng' di kawasan Lintas Melawai. Anak-anak muda datang dengan pakaian terbaik mereka hanya untuk berjalan-jalan dan dilihat banyak orang.
"Orang-orang sengaja dandan lalu melintas saja, nanti dikomentari secara live oleh radio," ujar Hikmat.
Di masa itu, Blok M bukan sekadar titik pertemuan, melainkan panggung sosial bagi generasi muda kota.
Kawasan yang tak pernah benar-benar tidur
Ada alasan mengapa Blok M berbeda dari kawasan lain di Jakarta. Menurut Hikmat, kekuatan utamanya terletak pada mobilitas.
Blok M sejak awal berkembang bukan sebagai kawasan permukiman, melainkan ruang transit dan pergerakan manusia. Kehadiran Terminal Blok M sejak lama membuat kawasan ini menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat.
"Semua orang datang ke sana, tapi hampir tidak ada yang benar-benar tinggal di situ. Orang datang untuk makan, nongkrong, belanja, cari hiburan, lalu bergerak lagi," katanya.
Karakter itulah yang membuat Blok M terus berubah mengikuti zaman. Ketika budaya konsumsi berubah, wajah Blok M juga ikut berubah.
Pada era 1980-an dan 1990-an, kawasan ini dikenal lewat dingdong, toko kaset, diskotek seperti Lipstick, hingga budaya nongkrong di Melawai. Memasuki era mal, Blok M berkembang menjadi pusat belanja urban.
Kini, wajahnya berganti lagi menjadi ruang penuh kedai artisan, toko vinyl, coffee shop estetik, pop-up market, hingga jajanan viral. Namun benang merahnya tetap sama, menjadi ruang untuk anak muda.
"Watak BLOK M tak pernah berubah, yakni youth culture yang dibangun dari budaya konsumsi," kata Hikmat.
Budaya itu pun terus beregenerasi. Dulu anak muda datang mencari kaset dan kaus band, sekarang mereka berburu matcha latte, makanan Jepang viral, toko kamera analog, atau sudut foto yang estetik untuk dipamerkan di media sosial.
Baca selanjutnya di halaman berikut..
Serba ada
Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa Blok Mbisa begitu masif dibandingkan kawasan lain di Jakarta?
Padahal, Cikini juga punya sejarah budaya yang kuat. Kota Tua menjadi ikon wisata sejarah. Sabang terkenal sebagai pusat kuliner. Ada juga Kemang lama yang dikenal sebagai ruang nongkrong urban.
Menurut Hikmat, banyak kawasan lain punya karakter yang lebih spesifik dan terbatas. Kota Tua, misalnya, kuat sebagai destinasi historis, tetapi terasa jauh bagi sebagian warga Jakarta. Mobilitasnya tidak secair Blok M dan keramaiannya lebih terasa saat akhir pekan.
"Masalahnya ada di transportasi dan mobilitas warga," kata Hikmat.
Cikini juga punya sejarah seni dan intelektual yang panjang, tetapi karakternya lebih formal dan kultural. Kawasan itu lekat dengan Taman Ismail Marzuki, ruang seni, dan komunitas yang lebih mapan.
Kata Hikmat, Blok M bisa berbeda karena ia seperti 'segala ada'. Ada pusat belanja, kuliner, hiburan malam, ruang seni, taman kota, transportasi publik, toko-toko niche, sampai area berjalan kaki yang nyaman. Semua bertumpuk dalam satu kawasan yang relatif mudah dijangkau.
"Blok M memenuhi syarat kawasan yang sangat mobile, metabolisme lifestyle-nya hidup 24 jam," ujar Hikmat.
Di kawasan ini, orang bisa datang hanya untuk makan siang, lalu tiba-tiba pindah ke toko buku bekas, lanjut nongkrong di coffee shop, membeli vinyl, lalu berjalan kaki ke taman kota atau naik MRT buat pulang.
"Pergerakan itu membuat Blok M terasa hidup hampir sepanjang waktu," kata dia.
Jika dulu budaya 'mejeng' di Blok M disiarkan radio, kini panggungnya berpindah ke TikTok dan Instagram.
Algoritma media sosial membuat Blok M seperti tak pernah berhenti menghasilkan tren baru. Tempat makan viral muncul hampir setiap pekan. Sudut kecil yang sebelumnya biasa saja bisa mendadak ramai karena satu video TikTok yang ditonton jutaan orang.
Fenomena itu dirasakan Ayla dan Lusi (27), pegawai swasta yang mengaku bekerja di kawasan Sudirman.
"Sering banget ke Blok M, sebulan bisa tiga atau empat kali. Bahkan kadang kalau makan siang kita sengaja ke sana karena tinggal naik MRT atau busway," kata Ayla.
Menurut mereka, salah satu daya tarik terbesar Blok M adalah selalu ada hal baru.
"Kayanya tuh kita ngedip bentar aja udah ada yang baru di Blok M. Entah makanan baru, spot foto baru, atau tempat nongkrong baru," ujar Lusi.
Blok M jadi salah satu kawasan di Jakarta yang tidak pernah 'tidur'. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Bagi generasi muda urban, kawasan ini memberi sensasi bahwa kota selalu bergerak. Ada rasa takut tertinggal tren jika terlalu lama tidak datang ke Blok M.
Namun, Hikmat mengingatkan bahwa yang baru sebenarnya bukan kultur nongkrongnya, melainkan kecepatan viralitasnya.
"Kalau sekarang viral itu sering dari tampilannya. Instagramable atau nggak," ujarnya.
Makanan bisa ramai hanya karena visual, lalu beberapa bulan kemudian menghilang dan digantikan tren lain. Pergantiannya sangat cepat. Blok M menjadi ruang yang cocok untuk siklus budaya konsumsi semacam itu karena kawasan ini memang terbiasa berubah sejak dulu.
Ada satu momen yang membuat wajah Blok M berubah drastis, yakni pembangunan MRT Jakarta. Setelah MRT beroperasi, Blok M seperti mendapat napas baru.
Akses menjadi jauh lebih mudah. Anak muda dari berbagai wilayah Jakarta kini bisa datang tanpa perlu memikirkan parkir atau macet. Jalur pedestrian diperbaiki, ruang publik diperluas, dan kawasan ini perlahan berubah menjadi area transit yang sekaligus nyaman untuk berjalan kaki.
Fenomena itu bahkan terasa hingga ke luar negeri.
Kehadiran MRT memberi napas baru untuk Blok M. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Eka Adrina (39), pekerja swasta yang kini tinggal di Yordania, mengaku sengaja memasukkan Blok M ke daftar tempat yang ingin ia kunjungi saat pulang ke Indonesia akhir tahun nanti.
"Sudah sekitar tujuh tahun belum ke Jakarta lagi. Dulu waktu masih kerja di Jakarta, Blok M biasa aja, malah sempat terlihat sepi waktu pembangunan MRT," katanya.
Namun, media sosial membuat pandangannya berubah.
"Sekarang kalau lihat TikTok atau Instagram kok jadi bagus banget. Makanya nanti pas pulang sudah diniatkan mau ke Blok M dan nyobain makanan viral di sana," ujar Eka.
Menurut Hikmat, pengembangan kawasan berbasis transit atau transit oriented development (TOD) memang menjadi salah satu faktor penting kebangkitan Blok M.
Kata Hikmat, Blok M memang bukan sekadar kawasan nongkrong. Ia adalah cermin bagaimana Jakarta bergerak dari masa ke masa.
Dari terminal, pusat belanja, ruang musik, budaya mejeng, hingga kini menjadi pusat viralitas media sosial, Blok M selalu menemukan bentuk baru untuk tetap hidup.
Kawasan ini juga terasa sangat 'Jakarta'. Tidak serapi distrik kota di Eropa, tidak sepenuhnya tertata, kadang semrawut, penuh kontradiksi, tetapi terus bergerak.
"Blok M seperti punya kemampuan untuk terus menyerap perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai ruang pertemuan anak muda kota. Dan mungkin itulah alasan mengapa, dari era 'Bakal Lokasi Mejeng' sampai 'Negara Blok M', kawasan ini tak pernah benar-benar kehilangan nyawa," Tutup Hikmat.