Mengenal Capsule Wardrobe, Konsep Bergaya yang Lebih Mindful
Capsule wardrobe merupakan konsep fesyen yang berfokus pada pakaian yang lebih minimalis, fungsional, dan mudah dipadupadankan. Nyaris sepenuhnya berbeda diametral dengan fast fashion.
Ide besarnya sederhana, kita tidak perlu punya banyak baju, tetapi memilih pakaian yang benar-benar bisa dipakai berulang dengan gaya yang tetap terasa 'nyambung'.
Dalam capsule wardrobe, setiap pakaian dan aksesori diharapkan saling melengkapi sehingga kita bisa membuat beragam tampilan dari kumpulan pakaian yang terbatas. Secara matematis, alternatif kombinasi saling-silang pakaian bisa luar biasa menghasilkan banyak gaya.
Jika ingin menerapkan capsule wardrobe sebagai salah satu cara melawan fast fashion, mari kenalan dahulu dengan konsep ini, mulai dari bagaimana asal-usulnya hingga apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum benar-benar menerapkannya.
Asal-usul capsule wardrobe
Istilah capsule wardrobe sering terdengar seperti tren terkini yang baru muncul, padahal konsepnya sudah ada sejak cukup lama. Dalam dunia fesyen istilah ini mulai mengarah pada ide koleksi terbatas yang terkurasi.
Sarah Jones dalam tulisannya di The Independent UK menjelaskan, istilah 'capsule wardrobe' sendiri mulai meluas tahun 1970-an.
Susie Faux, seorang pemilik butik di Inggris, tercatat menggunakan istilah tersebut saat membantu para perempuan merapikan lemari menjadi hanya berisi barang-barang esensial berkualitas yang bisa dipakai secara saling silang.
Lalu, konsep ini makin dikenal luas ketika memasuki periode 1980-an. Pada 1985, Donna Karan menghadirkan ide 'Seven Easy Pieces'. Ini merupakan koleksi outfit kerja yang bisa dipakai untuk berbagai situasi, sehingga satu rangkaian pakaian bisa mendukung transisi aktivitas dari siang ke malam.
Menariknya, menurut penulis fesyen Molly MacGilbert dalam tulisannya di Bust, capsule wardrobe sebenarnya sudah masuk ke dalam 'kesadaran kolektif' banyak orang sejak 1940-an.
Pada Juli 1938, majalah Vogue pernah memuat laporan berjudul "Summer Slip Covers". Intinya membahas kebahagiaan mix and match pakaian. Misalnya, memulai dari satu dress hitam yang bagus, lalu menambah variasi atasan, seperti kamisol atau sweater.
Beberapa tahun setelahnya, pada 15 Agustus 1941, konsep itu dibungkus ulang dalam istilah 'campus wardrobe' lewat edisi khusus majalah tersebut. Salah satu artikel merekomendasikan 16 fashion item dasar khusus untuk mahasiswa, seperti rok, blus, jaket, dan sebagainya.
Ide utamanya sama, yakni memiliki koleksi pakaian minimalis yang bisa dipadupadankan satu sama lain. Dari sana, konsep ini muncul lagi pada 1970-an dengan nama 'capsule wardrobe' yang dipopulerkan Susie Faux.
Lihat Juga :Jakarta Fashion Week 2023 Napas Baru dari Seonggok Sampah Mode |
Hingga kini, majalah dan situs mode masih acap membahas capsule wardrobe. Seringnya capsule wardrobe dikaitkan dengan koleksi pakaian minimalis untuk musim tertentu. Misalnya, di negara dengan empat musim, direkomendasikan koleksi pakaian yang berbeda pula.
Namun akhir-akhir ini, capsule wardrobe kembali mendapatkan perhatian besar karena banyak faktor, mulai dari meningkatnya kesadaran lingkungan, dorongan hidup minimalis, berhemat, hingga kelelahan psikologis karena lemari yang terlalu penuh.
Istilah capsule wardrobe kembali jadi perhatian di tengah tingginya paparan informasi digital yang membuat orang mudah tergoda belanja impulsif. Capsule wardrobe bisa menjadi semacam sistem rem: kita tetap bergaya, tetapi dengan batas yang masuk akal.
Baca halaman selanjutnya...