Mengapa Kita Harus Melawan Fast Fashion?

CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 11:15 WIB
Di balik tren pakaian yang cepat berganti, ada jejak limbah dan jejak eksploitasi yang jarang dibahas.
Ilustrasi. Di balik tren pakaian yang cepat berganti, ada jejak limbah dan jejak eksploitasi yang jarang dibahas. (MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fast fashion hadir sebagai jawaban instan atas keinginan untuk selalu tampil 'up to date'. Apa yang ditawarkan fast fashion menarik, dari harga murah, model cepat berganti, dan diskon yang seolah tak ada habisnya.

Namun dibalik kenyamanan belanja cepat dan murah ini, ada 'harga' yang harus kita bayar diam-diam: kerusakan lingkungan dari budaya konsumsi kita sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam hal ini, konsumen sebenarnya terdorong masuk jurang shopaholic yang dalam, menjadi pribadi dengan hasrat berbelanja tak terkendali berkategori 'kegilaan berbelanja'.

Di sini, mengikuti pandangan sosiolog Jean Baudrillard (1929-2007), barang yang dikonsumsi bukan lagi untuk pemenuhan kebutuhan, melainkan sudah berubah fungsi menjadi pemenuhan keinginan semu.

Sandang memang jadi salah satu kebutuhan dasar. Namun, kini tantangannya bukan pada kebutuhan berpakaian, melainkan cara kita memperlakukan pakaian yang terbentuk oleh industri fast fashion, yang ternyata merusak lingkungan.

Memopulerkan capsule wardrobe bisa menjadi salah satu langkah untuk mereduksi fast fashion. Bukan dengan mematikan kebutuhan fesyen, tetapi dengan mengubah kebiasaan.

Apa itu fast fashion?

Mengutip laman Britannica, fast fashion merupakan istilah untuk model produksi pakaian yang cepat, murah, tetapi sayangnya cenderung berkualitas rendah.

Karakter utamanya, yakni desain yang meniru tren populer dari brand besar maupun label independen, lalu ditawarkan dengan harga terjangkau agar konsumen bisa membeli cepat dan merasakan sensasi 'selalu baru'.

Model bisnis fast fashion dimulai di Barat dan berkembang sejak 1970-an. Kala itu, ritel mulai memindahkan produksi ke negara-negara lain, terutama di Asia, yang memungkinkan biaya produksi lebih rendah, termasuk upah.

Model bisnis ini lalu menguat pada 1990-an, saat perusahaan meningkatkan kecepatan produksi untuk mengejar arus tren yang makin cepat.

Jika dahulu koleksi baru umumnya hadir sekitar empat kali setahun, berdasarkan jumlah musim di Barat, kini fast fashion bisa menghadirkan lini baru jauh lebih sering.

[Gambas:Video CNN]

Akibatnya, tekanan untuk 'update' menjadi lebih intens. Di tingkat konsumen, secara psikologis, pakaian terasa seperti barang sekali pakai.

Namun, industri ini juga ikut meningkatkan biaya lingkungan yang besar. Berdasarkan data statistik dari Zippia, industri fesyen, terutama di sektor retail, memang mengalami pertumbuhan kuat.

Nilai pasar fesyen global diperkirakan sekitar US$1,9 triliun pada 2026, dengan laju pertumbuhan sekitar 5,8 persen dari 2023 hingga 2026. Sayangnya, skala industri ini berdampak pada lingkungan. Fesyen berkontribusi sekitar 10 persen emisi karbon global.

Tak cuma itu, industri ini juga disebutkan menghasilkan emisi karbon lebih besar dibandingkan penerbangan internasional dan pengiriman laut bila digabungkan.

Selain itu, industri fesyen juga menjadi konsumen terbesar kedua sumber daya air tawar di dunia. Jika dihitung secara akumulatif, industri mengonsumsi sekitar 93 miliar meter kubik air per tahun.

Masalah limbahnya juga serius. Setiap tahun, sekitar 85 persen tekstil yang diproduksi berakhir di tempat pembuangan akhir.

Dari sisi polusi laut, bahan pakaian sintetis (poliester, nilon, spandeks, dan semacamnya) berperan besar terhadap pencemaran mikroplastik. Material ini menyumbang 35 persen dari seluruh plastik mikroserat yang ditemukan di lautan.

Di Indonesia sendiri, fast fashion mulai berkembang pesat sejak awal 2010-an dengan masuknya beberapa brand global. Keberhasilan brand global mendorong sejumlah jenama lokal untuk mengadopsi bisnis fast fashion.

Nurul Anwar, melalui makalah yang dipublikasikan dalam jurnal Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, menyebut bahwa industri ini juga menimbulkan sejumlah dampak di Indonesia. Tak cuma berdampak pada dinamika garmen lokal serta UMKM, fast fashion di Indonesia juga ikut merusak lingkungan.

Kegiatan ini berdampak negatif pada kualitas air, tanah, hingga udara, terutama di sentra industri seperti Bandung, Solo, dan Pekalongan yang mengalami pencemaran air sungai akibat limbah pewarna tekstil.

Lebih dari 40 persen limbah cair tekstil di Jawa Barat melebihi ambang batas baku mutu. Adapun pembakaran limbah pakaian bekas menyumbang emisi karbon dan mikroplastik di udara.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google
Bagaimana dampak fast fashion di Indonesia? BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2