Alami Tik Sindrom Tourette dan Sebut 'Bom', Remaja Diusir dari Pesawat

CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 13:00 WIB
Ilustrasi Sindrom Tourette. (iStockphoto/designer491)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang remaja berusia 13 tahun penderita Sindrom Tourette dilarang naik ke dalam pesawat British Airways (BA) di Bandara Gatwick, Inggris.

Remaja bernama Mason Entwistle tersebut terpaksa digiring keluar dari area bandara oleh polisi bersenjata setelah secara tidak sengaja meneriakkan kata "bom" akibat keparahan gejala saraf yang dialaminya.

Melansir Stuff, insiden traumatis ini memicu protes keras dari pihak keluarga yang menuduh maskapai penerbangan nasional Inggris tersebut telah melakukan tindakan diskriminasi nyata terhadap penyandang disabilitas.

Sebagai informasi, Sindrom Tourette adalah kondisi neurologis (saraf) yang menyebabkan penderitanya mengeluarkan suara atau gerakan mendadak secara berulang dan tidak disengaja, yang dikenal sebagai 'tik' (tics). Kondisi ini umumnya dipicu oleh luapan emosi seperti stres berat, rasa cemas, kelelahan, atau kegembiraan.

Insiden bermula ketika keluarga Entwistle yang membawa rombongan 10 orang hendak terbang menuju Alicante, Spanyol, untuk berlibur. Sang ayah, Martyn Entwistle (39), menegaskan bahwa pihaknya telah melaporkan kondisi disabilitas putranya kepada pihak British Airways jauh-jauh hari sebelum jadwal keberangkatan karena menyadari sang anak sangat cemas menghadapi penerbangan.

Saat mengantre di gerbang keberangkatan, rasa cemas Mason memuncak. Di luar kendalinya, Mason yang saat itu mengenakan kalung tali sunflower (simbol disabilitas tersembunyi) dan membawa surat diagnosis resmi dokter, mendadak berteriak kata "bom" beberapa kali secara histeris.

Saat keluarga mencoba masuk ke garbarata, seorang manajer BA langsung menghadang dan menolak masuk seluruh keluarga. Dalam rekaman video konfrontasi di lapangan, petugas maskapai menyatakan:

"Kami tidak menolaknya karena dia memiliki disabilitas. Kami menolaknya karena ada ancaman yang dilontarkan bahwa dia membawa bom di tasnya. Hari ini Anda ditolak terbang murni demi keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan pelanggan lain, Anda sendiri, serta awak kabin kami."

Keputusan kaku maskapai tersebut seketika meruntuhkan mental sang remaja. Mason dilaporkan langsung terduduk di lantai bandara sambil menangis histeris dan berulang kali meminta maaf kepada semua orang di sekitarnya karena merasa bersalah atas kondisi medisnya.

Situasi kian mencekam ketika aparat kepolisian bersenjata lengkap datang ke lokasi untuk mengawal Mason, ayah, ibu (Gemma, 36), serta adiknya yang masih berusia satu tahun keluar dari terminal bandara.

Sementara itu, putri sulung mereka yang berusia 16 tahun diizinkan tetap terbang bersama teman-temannya. Rombongan keluarga ini terpaksa kehilangan tiket senilai 4.000 pound sterling atau sekitar Rp83 juta yang telah mereka bayar ke BA.

Meski sang istri dan anaknya sempat trauma dan ingin langsung pulang ke rumah, Martyn memutuskan untuk tetap membawa keluarganya berlibur ke Spanyol keesokan harinya menggunakan maskapai kompetitor, Vueling, dengan merogoh kocek tambahan sebesar 2.400 pound sterling atau sekitar Rp50 juta.

"Satu-satunya alasan saya memesan ulang tiket adalah karena saya ingin mengajarkan kepadanya bahwa dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Saya tidak ingin dia tumbuh dengan pemikiran 'Saya tidak akan pernah bisa pergi berlibur'. Ini soal prinsip. Dia berhak pergi berlibur," tegas Martyn penuh emosional.

Pihak British Airways dalam rilis klarifikasi terbarunya hanya menyatakan penyesalan dan berkilah bahwa keputusan tersebut diambil karena situasi di lapangan yang dinilai sangat kompleks, sulit, dan melibatkan banyak faktor kontribusi keselamatan penerbangan komersial yang tidak bisa diabaikan.

Pihak keluarga berharap insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh staf maskapai penerbangan dunia dalam memperlakukan penumpang berkebutuhan khusus.

(wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK