Geger Hiu Raksasa 5,8 Meter Buntuti Kapal Turis di Selandia Baru
Sebuah foto spektakuler yang mengabadikan momen seekor hiu putih raksasa (great white shark) tengah membayangi kapal wisata di perairan Bluff, Selandia Baru, mendadak viral.
Meski ukurannya sangat masif, predator puncak tersebut ternyata bukanlah hiu terbesar yang berhasil terekam sepanjang musim ini.
Pihak operator wisata petualangan bawah air, Shark Experience, mengungkapkan bahwa takhta hiu terbesar musim 2025/2026 jatuh pada seekor monster laut sepanjang 5,8 meter yang dijuluki "Big Gal".
Melansir Stuff, ukuran raksasa ini bahkan disebut-sebut mendekati dimensi hiu mekanis sepanjang 7,6 meter yang digunakan dalam film Hollywood legendaris, Jaws.
Nikki Ladd, perwakilan dari Shark Experience, menjelaskan bahwa hiu betina raksasa yang tertangkap kamera membuntuti buritan kapal mereka merupakan spesimen yang sangat langka dan luar biasa.
"Dia adalah hiu betina yang sangat istimewa. Berdasarkan karakteristik fisik dan ukurannya, kami mengestimasi usianya telah melewati 60 tahun lebih," ujar Ladd.
Bluff yang terletak di ujung selatan Selandia Baru saat ini menjadi satu-satunya lokasi di negara tersebut-dan satu dari sedikit tempat di dunia seperti Afrika Selatan, Australia Selatan, dan California-yang menyediakan layanan wisata menyelam di dalam kandang besi atau cage diving bersama hiu putih.
Ketika beberapa titik global mulai mengalami penurunan populasi akibat perubahan suhu laut ekstrem, wilayah utara Kepulauan Titi di Selandia Baru justru relatif stabil.
Departemen Konservasi (DOC) setempat bahkan telah mengidentifikasi lebih dari 200 individu hiu putih yang selalu kembali ke kawasan Foveaux Strait ini setiap tahunnya, terpikat oleh melimpahnya populasi anjing laut bulu yang menjadi makanan utama mereka.
Meskipun lautan Bluff sedang dipenuhi oleh hiu-hiu dalam kondisi prima, industri pariwisata ini harus menghadapi tantangan makroekonomi yang berat di paruh pertama tahun 2026. Ladd mengakui terjadi penurunan jumlah wisatawan yang cukup signifikan pada musim ini.
"Kami memiliki hiu-hiu hebat di dalam air, namun kami kekurangan pasokan manusia (turis)," keluhnya. Penurunan ini dipicu oleh krisis bahan bakar global dan lonjakan biaya penerbangan internasional akibat dampak geopolitik dari perang yang tengah berkecamuk di Iran.
Sebelum pandemi melanda, 95 persen pangsa pasar industri cage diving ini dikuasai oleh turis mancanegara. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren bergeser seiring meningkatnya minat warga lokal Selandia Baru, khususnya kaum perempuan, untuk menguji nyali mereka di dalam air.
Menariknya, industri yang secara tradisional dianggap sebagai "klub pria maskulin" ini kini mulai didominasi oleh perempuan. Shark Experience kini mempekerjakan lebih banyak staf perempuan yang semuanya merupakan pencinta hiu garis keras, di mana sebagian besar dari mereka awalnya adalah penumpang reguler yang akhirnya kecanduan dengan pesona predator laut tersebut.
Untuk menjaga keamanan medis para penyelam dari risiko hipotermia di perairan dingin Selandia Baru, pihak kapal menerapkan ritual unik. Sebelum mengenakan baju selam tebal berukuran 7 mm, para turis diwajibkan berjoget untuk menghangatkan suhu tubuh mereka.
Pihak operator mengungkapkan bahwa lagu disko terfavorit pilihan para turis untuk ritual pemanasan ini adalah lagu legendaris milik Bee Gees yang berjudul "Stayin' Alive" -sebuah judul yang dinilai sangat pas untuk menggambarkan situasi menegangkan di bawah air.
(wiw)