Usai Kehilangan Jabatan, Mengapa Rasanya Menyakitkan? Ini Alasannya

CNN Indonesia
Kamis, 04 Jun 2026 19:30 WIB
Ilustrasi. Kehilangan jabatan atau pekerjaan bisa terasa menyakitkan. Ini dia beberapa alasan yang melatarbelakanginya. (iStock/NicolasMcComber)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam beberapa terakhir ini, banyak pejabat yang terpaksa turun dari jabatan karena terjerat kasus hukum. Mulai dari Kepala MBG dan dua mantan wakilnya yang ditahan Kejaksaan Agung, hingga Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana rasanya kehilangan jabatan secara mendadak dan mengapa rasanya sangat menyakitkan. Ini tak lepas dari kondisi yang disebut sebagai post-power syndrome.

Mengutip laman Kementerian Kesehatan, post-power syndrome merupakan kondisi kejiwaan yang umum dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan. Biasanya, kondisi ini diikuti dengan menurunnya harga diri.

Setidaknya ada tiga kategori gejala post power syndrome, yaitu gejala fisik, emosional, dan perilaku. Dari segi fisik, penampilan seseorang akan tampak kurang segar, kurang ceria, dan mudah sakit.

Adapun gejala emosional meliputi mudah tersinggung, suka menyendiri, dan pemurung. Gejala lainnya, antara lain bingung, sedih, kesepian, hingga ada perasaan hampa.

Hal ini kerap dialami oleh orang-orang yang mengalami pensiun, tetapi juga bisa terjadi pada orang yang baru kehilangan jabatan. Siapa pun bisa mengalami post-power syndrome, apalagi yang baru kehilangan pekerjaan.

Yuk, ketahui alasan di balik kesedihan dan rasa sakit yang menerpa ketika seseorang kehilangan pekerjaan atau jabatan.

Mengapa kehilangan jabatan terasa menyakitkan

Sebuah penelitian oleh Janske H.W. Van Eersel et al. yang dipublikasikan di jurnal Front Psychiatry (2022), mengungkapkan kehilangan jabatan atau karier bisa memicu respons kesedihan setara duka cita kehilangan orang terkasih.

Otak mengaktifkan pola emosional dan kognitif yang sama. Hal ini karena otak tidak menyimpan pikiran tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi dalam folder yang terpisah.

Lalu apa saja alasan di balik rasa sakit akibat kehilangan jabatan atau pekerjaan yang juga bisa Anda alami?

1. Kehilangan identitas

Menurut laman Reach Link, dari sisi psikologis, nama jabatan bukan sekadar deskripsi pekerjaan, tetapi menjadi bagian dari inti identitas.

Misalnya, jika Anda seorang insinyur, maka Anda adalah seorang problem solver. Adapun jika Anda seorang manajer, berarti Anda seorang pemimpin.

Ketika peran ini hilang, Anda mungkin merasa kehilangan bagian mendasar dari diri. Harga diri dan kepercayaan diri pun dapat terguncang.

2. Kehilangan interaksi

Kehilangan pekerjaan tak hanya kehilangan jabatan, tetapi juga kehilangan akses dengan interaksi sehari-hari yang nyaman Anda lakukan. Mulai dari obrolan pekerjaan di grup chat hingga janji makan siang bersama.

Kehilangan interaksi sosial ini bisa terasa lebih menyakitkan jika Anda sendiri sulit membangun koneksi di luar lingkungan profesional.

3. Tak ada lagi struktur kegiatan harian

Pekerjaan dapat memberi struktur yang jelas pada keseharian Anda. Mulai dari jadwal bangun hingga jadwal pulang kerja. Rutinitas inilah yang memberikan makna pada hidup.

Di luar rutinitas, pekerjaan dapat memberikan tujuan dan memunculkan perasaan dibutuhkan. Adapun perasaan ini merupakan kebutuhan dasar manusia. Jika kehilangan perasaan itu, akan menimbulkan kekosongan hati yang sulit diisi.

4. Sistem limbik tubuh tidak bisa membedakan kehilangan jabatan dengan kehilangan pribadi

Mengutip Psychology Today, sistem limbik merupakan pusat pemrosesan emosi di otak. Saat kehilangan jabatan, sistem ini mencatat ancaman terhadap kedudukan sosial, identitas, hingga ikatan sosial.

Adapun sistem ini tidak bisa membedakan antara kehilangan pekerjaan dan kehilangan seseorang. Keduanya memicu respons stres yang sama, termasuk peningkatan kortisol dan aktivasi area pemrosesan nyeri di otak.

5. Pekerjaan meningkatkan dopamin

Setiap kali Anda menyelesaikan suatu proyek atau mendapat tanggapan positif atas pekerjaan, otak biasanya melepaskan dopamin. Neurotransmiter ini menciptakan perasaan senang.

Selama bertahun-tahun berkarier, otak Anda belajar untuk mengaitkan pekerjaan dengan sistem penghargaan ini. Ketika kehilangan jabatan, otak menciptakan neurochemical withdrawal yang mirip dengan kehilangan hubungan.

Itu dia beberapa alasan mengapa kehilangan pekerjaan ataupun pekerjaan bisa terasa menyakitkan. Kehilangan pekerjaan bisa terjadi pada siapa pun. Ketika itu terjadi, Anda perlu mempersiapkan mental dengan lebih baik.

(rti)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK