Mengapa Ada Orang yang Tak Suka Mengikuti Berita? Ini Alasannya
Sering kali, orang menghindari baca berita terbaru bukan karena ketidakpedulian atau literasi yang rendah. Bisa jadi karena mereka mengalami yang namanya news fatigue, alias kelelahan mental akibat tingginya paparan informasi.
Adapun berdasarkan laporan "2025 Digital News Report" dari Reuters Institute menunjukkan jumlah orang ini tidak sedikit.
Lihat Juga : |
Dari hasil survei di beberapa negara, rata-rata 40 persen orang mengakui dirinya terkadang atau sering menghindari berita. Angka ini merupakan tertinggi yang pernah dicatat Reuters Institute.
Perilaku menghindari berita, paling tinggi terjadi di Bulgaria (63 persen), Turki (61 persen), Kroasia (61 persen), dan Yunani (60 persen). Adapun angka terendah didapatkan di sejumlah negara nordik dan Taiwan (21 persen) serta Jepang (11 persen).
Fenomena meningkatnya orang yang menghindari baca berita bisa dijelaskan dari perspektif ilmu psikologi. Apakah karena terlalu banyak berita negatif yang beredar?
Adanya kecenderungan bias negatif
Ada satu kecenderungan psikologis bawaan manusia yang bisa memengaruhi cara kita mengingat peristiwa, yaitu negativity bias atau bias negatif.
Kecenderungan psikologis ini lebih menekankan pengalaman negatif ketimbang yang positif. Adapun kecenderungan ini merupakan hasil evolusi.
Mengutip Verywell Mind, pada awal sejarah manusia, memperhatikan ancaman buruk di alam liar merupakan masalah hidup dan mati. Manusia lebih peka terhadap bahaya dan memperhatikan hal-hal buruk di sekitar untuk bertahan hidup.
Cara bertahan hidup mewariskan gen kepada keturunan manusia hingga saat ini yang membuat kita lebih waspada terhadap bahaya.
Pada zaman modern, kecenderungan bias negatif membuat manusia lebih sensitif terhadap berita negatif. Selain itu, berita negatif juga cenderung dianggap benar.
Hal ini karena berita negatif menarik perhatian lebih besar dan informasi tersebut juga mungkin dianggap memiliki validitas lebih besar.
Inilah yang membuat berita buruk tampak lebih menarik perhatian. Namun ketika orang mulai mengalami news fatigue, berita mulai dihindari, terutama berita buruk, sebagai mekanisme pertahanan diri.
Berita negatif bisa pengaruhi kondisi fisik
Beberapa studi, salah satunya yang dipublikasikan dalam jurnal Health Communication (2024), menunjukkan respons fisiologis yang terukur lebih kuat terhadap berita negatif ketimbang berita positif. Tubuh bereaksi sebelum pikiran memutuskan apakah ancaman tersebut relevan.
Studi yang dilakukan oleh Bryan McLaughlin et al. tersebut, menggunakan konsep konsumsi berita bermasalah (problematic news consumption/PNC) yang diperkenalkan McLaughlin, Gotlieb, dan Mills pada 2023.
PNC merupakan pola keterlibatan berita yang mengakibatkan obsesi, disregulasi, dan gangguan fungsi sehari-hari. Hasil studi menunjukkan, 17 persen partisipan memiliki tingkat PNC yang parah.
Dari 17 persen partisipan tersebut, 61 persen di antaranya melaporkan merasa tidak sehat yang cukup parah. Hanya 6 persen yang menyatakan baik-baik saja.
Ali Jasemi peneliti di bidang psikologi perkembangan dari Wilfrid Laurier University, Kanada, mengungkapkan berita negatif menjadi sumber news fatigue yang terbukti bisa memengaruhi kondisi fisik pula.
Ia berpendapat, news fatigue bisa lebih berdampak bagi kelompok minoritas. Meski kelompok yang dituju di dalam berita negatif bukan kelompoknya, tetapi dampak psikologisnya tetap signifikan terhadap orang-orang dengan afiliasi kelompok yang sama. Lalu apa solusinya?
"Bukan penghindaran. Demokrasi bergantung pada warga negara yang terinformasi," tulis Jasemi di SciTechDaily.
Penyebaran informasi, apalagi yang negatif, bisa jadi sumber stres utama. Namun menjauhi informasi yang akurat dan dapat dipercaya hanya memperdalam masalah.
Solusinya, yakni mengelola konsumsi dan sumbernya. Anda bisa membatasai konsumsi berita pada jangka waktu tertentu untuk mengurangi dampak news fatigue.
Selain itu, memilih artikel atau laporan panjang yang memiliki kedalaman informasi juga lebih bermanfaat ketimbang serangkaian unggahan acak dan tak dapat diandalkan di media sosial.
Terakhir, waspadai informasi atau konten bersifat provokatif, yang dirancang hanya untuk meningkatkan engagement di media sosial.
"Berita tidak akan menjadi kurang 'berat', tetapi hubungan kita dengan berita dapat menjadi lebih disengaja. Otak kita tidak dirancang untuk skala masukan sebesar ini. Namun, otak kita dirancang untuk belajar beradaptasi," kata Jasemi.
(rti)