Batik Mojokerto dan Tenun Lombok di Tangan Desainer Indonesia-Prancis

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia
Selasa, 28 Jul 2026 12:00 WIB
Program Pintu Residency menghadirkan kolaborasi antara desainer Indonesia dan Prancis di panggung JF3 Fashion Festival 2026.
Program Pintu Residency menghadirkan kolaborasi antara desainer Indonesia dan Prancis di panggung JF3 Fashion Festival 2026. (Arsip JF3)
Jakarta, CNN Indonesia --

Apa jadinya ketika wastra Nusantara diolah tangan-tangan kreatif desainer Indonesia dan Prancis? Program Pintu Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis untuk melahirkan koleksi kolaboratif yang memukau.

Pintu Incubator yang sedang berproses menjadi Yayasan Pintu Incubator Indonesia untuk kedua kalinya menyelenggarakan Pintu Residency. Desainer Indonesia dan Prancis selama sekitar empat bulan mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja dengan komunitas, dan mengembangkan koleksi busana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Desainer Mickael Nana, pendiri brand Marlon, berkolaborasi dengan desainer dan pendiri brand Noen, Beatrice Angelica mengembangkan koleksi "Garuda" di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu, desainer Lisa Rayar dari Prancis dan Gabriel Marcella menggawangi koleksi "Au Large" di Mojokerto, Jawa Timur. Kedua koleksi dipamerkan di JF3 Fashion Festival pada Kamis (23/7).

Mickael Nana x Beatrice Angelica - Garuda

Koleksi "Garuda" hadir dalam 10 looks pakaian pria dan wanita. Tajuk "Garuda" merujuk pada perayaan persatuan dalam keberagaman yang mengerucut dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika".

Akan tetapi keberagaman ini bukan soal busana warna-warni, "comot" sana-sini dan disatukan atas nama keberagaman. Lebih dalam dari itu, Mickael dan Beatrice mencoba menghadirkan perpaduan tradisi busana lokal dan Eropa. Keduanya mengambil inspirasi dari foto-foto arsip akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Indonesia.

Siluet-siluet khas Eropa begitu menonjol di koleksi ini. Tengok saja ada jas dengan bahu tajam, structured jacket, mantel, dan celana berpotongan lebar yang tegas. Kekakuan ini dilunakkan oleh kehadiran wastra Lombok yang tak sekadar jadi unsur dekoratif pakaian.

Tenun dan songket menyatu sempurna dengan material lain seperti denim dan beludru. Kemudian yang menarik adalah fashion statement yang jelas ditulis Mickael dan Beatrice pada salah satu atasan wanita.

"My friends went to Lombok and all I got is this designer piece," demikian yang tertulis pada busana.

Hal ini semakin meyakinkan bahwa produk artisan lokal layak bersaing secara global apalagi dikelola tangan yang tepat.

Lisa Rayar x Gabriel Marcella - Au Large

Lisa Rayar x Gabriel Marcella membawakan koleksiLisa Rayar x Gabriel Marcella membawakan koleksi bertajuk "Au Large" di JF3 Fashion Festival 2026. (Foto: Arsip JF3)

Indonesia dan Prancis sama-sama memiliki tradisi maritim yang unik. Koleksi bertajuk "Au Large" yang dalam bahasa Prancis berarti lepas pantai (off shore).

Desainer Lisa Rayar dan desainer sekaligus direktur kreatif Soeisoei, Gabriel Marcella menggambarkan dialog dunia maritim Prancis dan komunitas di pesisir utara Jawa terinspirasi dari penelitian Gabriel Marcella tentang tradisi Sedekah Laut.

Secara garis besar, koleksi menghadirkan siluet berpotongan lebar atau oversized, diracik dengan teknik draperi yang mengalir tapi terstruktur lewat tali-tali yang mengingatkan akan tali pada layar kapal.

Anda tidak akan menemukan seragam pelaut yang khas. Justru terdapat siluet-siluet yang merujuk pada resort wear tapi dibuat lebih terstruktur seperti long dress, setelan jas, jaket, celana panjang, dan mini dress.

Di antara material denim dan katun, keduanya menyuntikkan batik dengan motif orisinal khusus untuk proyek ini. Motif berupa kotak-kotak terinspirasi dari tartan Indonesia dan garis-garis maritim Prancis yang ikonik. Palet warna coklat-krem membuat tampilan busana jadi lebih lembut meski siluet dibuat begitu terstruktur dan tegas.

Lisa bercerita dirinya banyak bersentuhan dengan budaya Asia terlebih memiliki sang ayah berdarah India. Gabriel Marcella, lanjut dia, banyak membantunya berkenalan dan beradaptasi dengan material lokal.

"Kami ingin menggunakan batik dengan cara modern karena saya pikir orang Prancis bisa menyukainya, tapi kami ingin busana bisa dikenakan dengan cara kontemporer, tidak hanya jadi rok meski saya suka," ujarnya pada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Sebanyak 5 brand dan desainer memamerkan karya busana usai mengikuti program Pintu Incubator. Mereka telah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi hingga berkesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026Brand Lil Public mempresentasikan koleksi yang terinspirasi dari novel Zenitendo karya penulis Reiko Hiroshima. Brand sebelumnya telah mengikuti program Pintu Accelerator. (Arsip JF3)

Sementara itu, Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia dan co-initiator Pintu Incubator, berkata program Pintu Residency membuka kesempatan antara dua desainer dengan latar belakang berbeda untuk berdialog dan memberikan pandangan akan sesuatu yang mungkin biasanya dilihat biasa saja.

Desainer Indonesia bisa jadi sudah familiar dan terbiasa dengan wastra, tapi buat desainer Prancis tentu ini hal baru. Karena melihatnya sebagai hal baru, lalu ini memunculkan sudut pandang yang baru buat desainer Indonesia. Hal ini juga berlaku sebaliknya.

"Nah juga untuk sisi perajinnya, dengan challenge yang baru dari talenta baru begini, mereka juga jadi lebih bisa berkembang dan kesempatan mereka jadi lebih banyak. Program ini ujungnya supaya desainer bisa memproduksi koleksi mereka dengan kain hasil karya tangan perajin. Saya harap project ini bisa berkelanjutan," kata Thresia.

Selain Pintu Recidency, Pintu Incubator juga menginisiasi program Pintu Accelerator dengan peserta brand asal Bandung, Lil Public dan kolaborasi brand Denimitup dan brand Prancis Tareet. Program ini bertujuan memberikan pengalaman presentasi dan interaksi brand Indonesia di lingkungan mode internasional.

(els) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]