8 Tanda Orang Tua Overprotective dan Bahayanya buat Anak
Orang tua yang merasa khawatir pada si kecil sebenarnya wajar. Tapi, jangan sampai kekhawatiran membuat Anda menjadi orang tua yang overprotective.
Kenali tanda-tanda orang tua overprotective berikut ini agar tak sampai kebablasan dan berdampak negatif terhadap anak.
Overprotective sendiri didefinisikan sebagai sikap orang tua yang terlalu melindungi anak. Sikap ini biasanya muncul dengan kontrol berlebih dan banyak batasan yang ditetapkan orang tua.
"Pola pengasuhan yang terlalu protektif biasanya didorong oleh kecemasan orang tua. Hal itu berakar dari keinginan untuk mencegah anak mendapatkan pengalaman buruk," ujar psikolog klinis Maura Francis, mengutip Parents.
Perkembangan teknologi, seperti kehadiran media sosial, menurut Francis, memperburuk sikap protektif orang tua.
Padahal, menurut ahli psikologi dari Baylor College of Medicine, Profesor Eric Storch, mengalami suka dan duka kehidupan menjadi salah satu cara utama agar anak bisa berkembang.
"Suka duka kehidupan juga mengembangkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah dan mengatasi kesulitan," ujar Storch.
Tanda orang tua terlalu protektif
Setidaknya, ada beberapa tanda orang tua terlalu protektif. Orang tua perlu tahu untuk bisa mencegah dampak buruknya pada anak. Berikut di antaranya, mengutip laman Narrative Pathways.
1. Menyelesaikan semua masalah anak
Saat anak mengalami kesulitan, orang tua yang terlalu protektif akan ikut nimbrung. Bukan cuma membantu memberikan pendapat, tapi juga mengambil kendali untuk membantu menyelesaikan masalah. Hal ini dilakukan untuk memastikan anak terhindar dari rasa tidak nyaman.
2. Sering berkomunikasi dengan pihak sekolah
Alih-alih membimbing anak tentang cara mengatasi suatu masalah, orang tua yang terlalu protektif akan lebih sering menghubungi guru dan pihak sekolah lainnya untuk menyelesaikan masalah.
3. Melakukan segala cara agar anak sukses
Hal ini sebenarnya wajar dilakukan orang tua. Tapi, membiarkan jalan kesuksesan anak terlalu mulus tanpa kendala juga tak selalu berdampak baik.
Padahal, anak seharusnya bisa belajar dari kegagalan.
4. Terlalu bersimpati saat anak bermasalah
Membuat anak berani menceritakan masalahnya sebenarnya sudah bagus. Hanya saja, bukan berarti orang tua harus terlalu bersimpati terhadap kesedihan anak.
Anak-anak perlu belajar menghadapi kesedihan dan kemarahan. Jangan terlalu bersimpati, tapi bantu anak untuk belajar menerima dan mengatasi situasi sulit.
5. Mengatur lingkungan sosial anak
Pertemanan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Anak seharusnya bisa berteman dengan siapa saja. Hanya saja, orang tua yang terlalu protektif cenderung mengontrol pertemanan anak.
Orang tua akan melarang anak bergaul dengan anak-anak lain yang dianggap 'tidak pantas'.
6. Terlalu banyak bicara
Orang tua yang terlalu protektif selalu khawatir tentang kesejahteraan anak. Akibatnya, mereka bisa berbicara tanpa henti pada anak dan pihak-pihak lain untuk memastikan buah hatinya baik-baik saja.
7. Ikut campur
Karena terlalu khawatir, orang tua yang terlalu protektif biasanya selalu ingin tahu segala sesuatu yang terjadi pada anak. Mereka tidak bisa menghormati hak anak untuk memiliki dunia batin dan privasinya sendiri.
8. Mencegah anak mengambil risiko
Orang tua yang terlalu protektif melakukan upaya luar biasa untuk melindungi anak dari ancaman fisik atau pengalaman emosional yang tidak nyaman.
Hal tersebut membuat anak hanya mengambil sedikit risiko. Pasalnya, orang tua akan selalu ingin buah hatinya merasa nyaman.
Bahaya orang tua terlalu protektif
Sejumlah studi telah menemukan dampak buruk overprotective pada anak. Misalnya, pola asuh yang overprotective berpotensi membuat anak ketergantungan dan merusak harga diri anak.
Tak cuma itu, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development juga menemukan, overprotective membuat suasana hati anak, utamanya yang berusia remaja, semakin memburuk.
"Overprotective dapat menyebabkan orang tua lebih banyak ikut campur daripada apa yang dibutuhkan anak, sehingga berisiko menimbulkan frustrasi terhadap kebutuhan psikologis dasar remaja," catat studi tersebut.
Dalam praktiknya, hal ini sering kali berubah menjadi 'rebutan kontrol' antara orang tua yang khawatir dan anak remaja yang sedang membangun kemandiriannya.
Studi sebelumnya juga melaporkan hal serupa. Studi pada 2023 lalu menemukan, remaja dengan pola asuh overprotective mengalami lebih banyak kesulitan emosional dan perilaku antisosial. Sikap protektif orang tua juga ditemukan berdampak pada prestasi akademik yang memburuk.
(asr)