Coba-coba Berani Ikut Dinner with Stranger, Menakutkan atau Seru?
Suasana asing terasa saat puluhan orang datang satu per satu ke sebuah restoran yang cukup mewah untuk ukuran makan malam biasa.
Mereka bukan teman lama, bukan rekan kerja, bukan pula orang-orang yang sebelumnya saling mengenal. Mereka datang untuk satu alasan yang sama: bertemu orang asing. Di antara puluhan orang itu, saya termasuk salah satu yang datang sendirian.
Lihat Juga :![]() Social Experiment Coba-coba Pakai Kebaya dalam Sepekan, Ternyata Ini yang Terjadi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CNNIndonesia.com mengikuti salah satu kegiatan dinner with stranger dari Mutual Friends di Jakarta pada Jumat (9/5) sore. Konsepnya sederhana, makan malam bersama orang-orang yang belum dikenal.
Jujur saja, beberapa menit pertama terasa sangat menegangkan. Saya tidak mengenal siapa pun di ruangan itu. Sekitar 10 menit di awal, saya lebih banyak duduk sambil mengamati suasana, sesekali mengecek ponsel atau melirik peserta yang duduk paling dekat. Bukan karena tidak ingin mengobrol, melainkan karena bingung harus memulai dari mana.
Saat registrasi, setiap peserta mendapat gelang berwarna sesuai pilihan makanan dan papan nama sebagai pembuka kecil untuk saling menyapa. Seluruh peserta sebelumnya mendaftar melalui formulir di Instagram dan membayar sekitar Rp230 ribu per orang untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Untungnya, tidak lama kemudian acara dimulai. Lewat sebuah permainan sederhana, peserta diminta berkeliling mencari orang dengan kriteria tertentu, seperti memiliki zodiak yang sama, lalu menggambar wajahnya di kertas yang sudah disediakan. Aktivitas itu terdengar sepele, tetapi cukup ampuh memecah kebekuan. Orang-orang yang tadinya hanya saling melirik mulai punya alasan untuk saling menyapa.
Tanpa terasa, percakapan mulai mengalir. Nama, pekerjaan, tempat tinggal, hingga cerita keseharian muncul begitu saja. Orang-orang yang beberapa menit sebelumnya hanya saling melirik perlahan mulai saling bertukar cerita dan tertawa bersama.
Menjelang acara berakhir, rasa khawatir yang sempat muncul di awal perlahan hilang. Memang tidak semua percakapan berujung akrab, tetapi suasananya jauh lebih hangat dari yang saya bayangkan.
Orang-orang yang datang ternyata memiliki kegelisahan yang mirip: ingin bertemu orang baru, keluar dari rutinitas, atau sekadar mencari teman mengobrol di luar lingkaran yang itu-itu saja.
Di tengah banyaknya cerita menyeramkan tentang orang asing, keputusan untuk duduk makan malam dengan stranger mungkin terdengar berani. Bahkan bagi sebagian orang, agak nekat. Tapi bagi peserta yang datang sore itu, bertemu orang baru justru terasa seperti cara lain untuk keluar sebentar dari rutinitas.
Saat cari teman terasa makin sulit
Seorang peserta, Tommy (32), datang dengan alasan sederhana. Ia ingin menambah teman dan mencari kegiatan di luar rumah.
"Saya cuma pengin nambah teman-teman. Sama bosan kalau di rumah enggak ngapa-ngapain," ujarnya.
Tommy menyebut dirinya introvert. Pekerjaan yang lebih banyak dilakukan secara remote membuat kesempatan bertemu orang baru semakin terbatas. Karena itu, ia mencoba menjadwalkan diri untuk keluar rumah dan bersosialisasi setidaknya sesekali.
Cerita yang mirip datang dari Citra (29). Ia bukan asli Jakarta dan selama ini bekerja dengan sistem hybrid. Waktu di Jakarta tidak selalu panjang, sementara kesempatan membangun relasi baru juga terbatas.
Bagi Citra, datang ke acara dengan orang asing tetap menantang. Ia sempat merasa cemas sebelum akhirnya benar-benar ikut. Rasa khawatir itu membuatnya lebih dulu mengamati aktivitas Mutual Friends di grup dan media sosial.
"Itulah kenapa setelah lama aku join, baru ikut yang beneran ketemu. Karena sebelum itu aku melihat dulu, ternyata aktivitasnya oke juga, positif juga, dan orang-orang yang ada di grupnya juga welcome," jelasnya.
Dari beberapa peserta, ada pola yang berulang. Mereka bukan selalu datang karena benar-benar tidak punya teman. Sebagian punya teman, pekerjaan, dan rutinitas. Namun, di fase usia 20-an akhir hingga 30-an, mencari teman baru terasa tidak semudah dulu.
Pertemanan tidak lagi terjadi otomatis seperti saat sekolah atau kuliah. Setelah bekerja, pindah kota, WFH, atau hidup dengan ritme masing-masing, lingkar sosial pelan-pelan menyempit.
Bertemu stranger menjadi semacam jalan pintas yang terstruktur. Orang tidak perlu menebak siapa yang bisa diajak bicara, karena semua yang hadir memang datang dengan tujuan yang sama: membuka ruang obrolan.
Dinner with Stranger dari Mutual Friends di Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici Keraf) |
Mutual Friends sendiri berawal dari keresahan yang dekat dengan kehidupan banyak orang dewasa muda. Bella (28) dan Klemens (29), inisiator Mutual Friends, mulai merancang konsep ini pada 2025.
Menurut Bella, saat itu belum banyak acara yang mempertemukan orang asing untuk tujuan yang sederhana, yakni berteman. Banyak kegiatan serupa lebih dekat dengan dating, matchmaking, atau networking profesional.
"Se-simple pengin cari teman baru, kok, kayaknya susah," ujarnya.
Klemens mengatakan, acara pertama yang mereka unggah ke media sosial ternyata mendapat respons besar. Banyak orang bertanya bagaimana cara ikut kegiatan serupa.
Kini, Mutual Friends sudah menggelar hampir 30 acara offline resmi. Jika ditotal, menurut Klemens, sekitar 1.500 peserta pernah mengikuti aktivitas offline mereka.
Mayoritas peserta Mutual Friends merupakan pekerja profesional di rentang usia 25-35 tahun. Banyak di antaranya adalah pekerja rantau di Jakarta, pekerja hybrid, atau full remote.
"Mereka itu mengeluhkan hal yang sama, mereka susah banget cari teman," kata Klemens.
Fenomena ini tak cuma berlangsung di Jakarta. Di sudut Indonesia yang lain, ada platform bernama Kenal ID yang juga mempertemukan orang-orang asing. Tak cuma di Yogyakarta, pertemuan yang digelar Kenal ID merambah hingga Solo, Semarang, dan Surabaya.
"Banyak yang merasakan struggle serupa, merantau dan kekurangan teman main. Temannya cuma teman kantor doang," kata inisiator Kenal ID, Dewi (24), pada CNNIndonesia.com.
Sama seperti Mutual Friends, peserta yang tertarik mengikuti pertemuan Kenal ID akan diminta untuk mendaftar dan mengisi beberapa data yang diperlukan. Nantinya, pertemuan akan berlangsung dengan sekitar 5-7 orang.
Menurutnya, peserta datang bukan untuk networking profesional atau mencari pasangan, tetapi untuk mencari teman dalam arti yang lebih personal.
Simak alasan mengapa orang mau bertemu orang tak dikenal di halaman berikutnya..
Add
as a preferred source on Google






