SOCIAL EXPERIMENT

Coba-coba Berani Ikut Dinner with Stranger, Menakutkan atau Seru?

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 17:15 WIB
Dinner with stranger dari Mutual Friends di Jakarta pada Sabtu (9/5),
Kegiatan dinner with stranger dari Mutual Friends di Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici Keraf)

Dari sudut pandang psikologis, Dosen Psikologi UIN Jakarta, Ikhwan Lutfi, menjelaskan bahwa fenomena bertemu orang asing dapat dibaca sebagai respons terhadap kehidupan perkotaan yang paradoksal.

"Semua orang kumpul di kota besar. Tapi di sisi lain, banyaknya orang itu ternyata membuat alienasi. Bahasa gampangnya, kita merasa kesepian," jelas Ikhwan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/6).  

Lihat Juga :

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ikhwan, manusia pada dasarnya adalah makhluk komunal yang punya kebutuhan untuk terhubung. Kebutuhan itu makin terasa ketika pola kerja berubah, termasuk setelah WFH, kerja hybrid, atau perpindahan ke kota baru.

"Kebutuhannya adalah kebutuhan kita untuk terhubung kembali dengan orang lain. Tapi yang jadi masalah adalah, 'saya akan hubungi siapa?'" ujarnya.

Fenomena dinner with stranger juga berkaitan dengan kebutuhan akan authentic connectivity, yakni koneksi yang terasa lebih asli, lebih bebas, dan tidak terlalu dibebani peran sosial sehari-hari.

Pada sebagian orang, stranger justru memberi rasa bebas. Mereka bisa bercerita tanpa terlalu takut dihakimi karena orang yang ditemui tidak membawa riwayat masa lalu mereka.

"Fenomenanya adalah anonimitas yang membebaskan. Ketika kita ketemu dengan orang yang kita tidak takut identitas kita terbongkar atau masa lalu kita diketahui, kita bisa berekspresi secara bebas," katanya.

Dinner with Stranger dari Mutual Friends di Jakarta pada Sabtu (9/5),Inisiator Mutual Friends, Bella dan Klemens. (CNN Indonesia/ Angela Merici Keraf)

Hal ini juga menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih mudah curhat kepada orang asing dibanding orang dekat. Ada rasa aman karena pertemuan itu bisa saja hanya berlangsung dua atau tiga jam, lalu selesai.

"Kita curhat habis-habisan, dengan pikiran nanti enggak kenal ini, habis itu enggak akan ketemu lagi," ujarnya.

Selain kesepian, ada pula unsur novelty seeking atau pencarian pengalaman baru. Bagi sebagian orang, bertemu stranger menghadirkan rasa penasaran, pengalaman sosial yang segar, bahkan sensasi kecil karena keluar dari zona nyaman.

Berani, tapi tetap butuh batas aman

Meski terdengar menyenangkan, bertemu orang asing tetap punya risiko. Apalagi, orang yang datang tidak selalu bisa diketahui sepenuhnya latar belakangnya. Karena itu, faktor keamanan menjadi bagian penting dalam acara semacam ini.

Mutual Friends sendiri menerapkan biaya keanggotaan satu kali sebagai lapisan awal untuk menyaring akun spam atau orang yang tidak serius bergabung.

"Membership fee itu lumayan bantu nge-filter orang-orang yang nggak bertanggung jawab," ujar Bela.

Sementara itu, Kenal ID tidak mengumumkan lokasi restoran secara terbuka di media sosial. Alamat hanya dikirimkan kepada peserta yang sudah terkonfirmasi.

"Kenapa kita enggak share lokasinya dari awal di Instagram atau TikTok, supaya orang yang join di restoran tersebut memang yang sudah confirm," kata Dewi.

Kenal ID juga memilih ruang publik seperti restoran, bukan tempat privat. Menurut Dewi, hal ini membuat pertemuan lebih aman karena ada waiters, pengunjung lain, dan aktivitas umum di sekitar peserta.

Kendati demikian, Dewi mengingatkan bahwa tanggung jawab penyelenggara berada pada saat acara berlangsung. Jika setelah acara peserta memilih menjalin relasi personal, hal itu sudah berada di luar ranah penyelenggara.

Kegiatan seperti ini memang berdampak positif karena menjadi kanal untuk mengisi kekosongan sosial. Namun, Ikhwan mengingatnya adanya risiko keamanan..

"Risiko terbesar itu keamanan dan kenyamanan," ujar Ikhawan.

Untuk keamanan, Ikhwan menyarankan agar peserta memberi tahu orang terdekat saat mengikuti acara serupa atau bertemu orang asing. Dengan begitu, ada jejak informasi jika terjadi sesuatu.

Bagi Ikhwan, batas antara keberanian membuka diri dan sikap terlalu nekat terletak pada seberapa jauh seseorang membuka informasi personal.

"Seberapa dalam kita akan membuka informasi tentang diri kita. Itu hanya untuk sebatas di meja makan," katanya.

Pada akhirnya, dinner with stranger dan komunitas dengan orang asing memperlihatkan satu hal sederhana, banyak orang yang ingin bertemu, ingin ngobrol, ingin keluar sebentar dari ruang sosial yang terlalu monoton.

Di tengah kota yang ramai, media sosial yang riuh, dan pekerjaan yang sering membuat orang bergerak sendiri-sendiri, meja makan menjadi ruang kecil untuk merasa terhubung kembali.

Mungkin tidak semua pertemuan akan berlanjut menjadi pertemanan panjang. Bisa jadi hanya dua jam obrolan, beberapa tawa, lalu pulang ke hidup masing-masing.

Tapi bagi sebagian orang, dua jam itu cukup berarti. Sebab, kadang yang dicari bukan selalu sahabat baru, apalagi pasangan. Kadang, seseorang hanya ingin duduk sebentar, makan bersama, dan merasa bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian.

(asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2