ASI Berdarah, Apa Penyebabnya dan Kapan Perlu Waspada?
Perbincangan soal ASI yang bercampur darah ramai di media sosial. Memangnya, apa penyebab ASI berdarah?
Topik itu ramai di platform Threads. Seorang pengguna mengeluhkan darah yang ikut keluar bersama ASI. Banyak netizen merespons dengan berbagi hal serupa.
Lihat Juga : |
ASI yang berubah warna menjadi merah muda, kecokelatan, atau seperti air berkarat tentu bisa membuat ibu khawatir. Apalagi, jika kondisi ini muncul saat masa menyusui baru dimulai.
Warna ASI memang bisa berubah karena berbagai hal. Pada sebagian ibu menyusui, perubahan warna itu bisa terjadi ketika ada sedikit darah yang bercampur dengan ASI.
Kondisi ini tidak selalu berarti berbahaya, tetapi tetap perlu dikenali penyebabnya. Sebab, ASI berdarah bisa muncul karena hal ringan seperti puting lecet, hingga kondisi lain yang perlu diperiksa lebih lanjut.Berikut beberapa penyebab ASI berdarah yang perlu diketahui.
1. Puting lecet atau pecah-pecah
Mengutip laporan kasus Bloody Nipple Discharge Post Delivery: A Case of "Rusty Pipe Syndrome", darah pada ASI paling sering dikaitkan dengan puting lecet atau pecah-pecah.Kondisi ini bisa terjadi karena pelekatan bayi yang kurang tepat, gesekan saat menyusui, atau penggunaan pompa ASI yang terlalu kuat.
Darah yang keluar biasanya hanya sedikit. Tapi, sedikit darah saja sudah bisa membuat warna ASI berubah menjadi merah muda, kemerahan, cokelat, atau tampak seperti air karat.
2. Rusty pipe syndrome
Rusty pipe syndrome adalah kondisi ketika ASI tampak merah muda, oranye, cokelat, atau seperti air berkarat karena bercampur sedikit darah. Biasanya kondisi ini muncul pada akhir kehamilan atau hari-hari pertama menyusui.
Menukil studi dari jurnal BMC Pregnancy and Childbirth, kondisi ini termasuk penyebab jinak dan umumnya bisa membaik sendiri pada awal masa menyusui. Dalam banyak kasus, kondisi ini membaik sendiri dalam 3-7 hari setelah laktasi dimulai.
3. Trauma akibat pompa ASI
ASI juga bisa tampak berdarah jika ada pembuluh darah kecil yang pecah di sekitar payudara atau puting. Hal ini dapat terjadi karena tekanan berulang, penggunaan pompa ASI yang terlalu kuat, atau ukuran corong pompa yang tidak sesuai.
Karena itu, ibu perlu memastikan pelekatan bayi sudah tepat dan pompa ASI digunakan dengan tekanan yang nyaman.
4. Mastitis atau peradangan payudara
Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang sering terjadi saat menyusui. Gejalanya bisa berupa payudara nyeri, bengkak, merah, terasa hangat, demam, atau tubuh terasa seperti sedang flu.
Mengutip studi Academy of Breastfeeding Medicine, ibu menyusui perlu memperhatikan tanda seperti benjolan, nyeri, atau kemerahan pada payudara. Jika keluhan tidak membaik dalam 24 jam, ibu dianjurkan menghubungi tenaga kesehatan.
5. Intraductal papilloma
Penyebab lain yang lebih jarang adalah intraductal papilloma, yaitu benjolan jinak kecil yang tumbuh di saluran susu. Kondisi ini bisa menyebabkan cairan dari puting bercampur darah.
Tanda ini perlu lebih diperhatikan jika darah hanya keluar dari satu payudara atau satu titik saluran puting.
Kapan ASI berdarah perlu diperiksa?
ASI berdarah tidak selalu berbahaya, terutama bila terjadi pada hari-hari awal menyusui dan tidak disertai nyeri. Ibu perlu memeriksakan diri jika darah berlangsung lebih dari 5-7 hari, hanya keluar dari satu payudara, atau jumlahnya makin banyak.
Pemeriksaan juga diperlukan jika ASI berdarah disertai benjolan, nyeri berat, demam, kemerahan, payudara terasa panas, atau bayi tampak menolak menyusu.
Perlu diperhatikan pula, jika darah terus muncul atau disertai gejala lain, sebaiknya segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya bisa dipastikan.
(anm/asr)