Kenapa Kita Lebih Nyaman Curhat ke Orang Asing? Ini Kata Psikolog

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 12:15 WIB
Bagi sebagian orang, bercerita kepada orang asing terasa lebih ringan dan nyaman.
Ilustrasi. Bagi sebagian orang, bercerita kepada orang asing terasa lebih ringan dan nyaman. (iStockphoto/Fly View Productions)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi sebagian orang, bercerita kepada orang terdekat justru terasa sulit. Ada rasa takut dihakimi, khawatir hubungan berubah, atau malu karena orang itu terlalu mengenal dirinya.

Sebaliknya, sebagian orang justru bisa lebih mudah membuka diri kepada orang asing. Cerita yang berat kadang terasa lebih ringan ketika disampaikan kepada seseorang yang tidak punya hubungan dekat atau riwayat panjang dalam hidupnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dosen psikologi UIN Jakarta, Ikhwan Lutfi mengatakan, fenomena ini berangkat dari kebutuhan manusia untuk merasa terhubung. Terutama di kota besar, kedekatan fisik dengan banyak orang tidak selalu berarti seseorang punya ruang sosial yang akrab.

"Kota menghadirkan paradoks. Semua orang kumpul di kota besar, tapi di sisi lain banyaknya orang itu ternyata membuat alienasi. Bahasa gampangnya, kita merasa kesepian," kata Ikhwan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/6).

Ikhwan menyebut sebagian orang merindukan authentic connectivity, yaitu koneksi yang terasa lebih jujur dan tidak terlalu dibebani basa-basi. Dalam situasi tertentu, orang asing bisa terasa seperti ruang yang lebih bebas untuk bercerita.

Orang asing terasa lebih aman secara sosial

Dalam psikologi, ada istilah stranger on the train phenomenon. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang lebih mudah bercerita kepada orang asing dalam pertemuan singkat, misalnya saat bertemu di kereta, karena kecil kemungkinan mereka akan bertemu lagi.

Melansir studi Online Self-Disclosure and the Role of Visual Anonymity, seseorang bisa merasa lebih nyaman membuka cerita personal kepada orang asing, terutama dalam hubungan yang sifatnya sementara. Risiko sosialnya terasa lebih rendah karena orang tersebut tidak terhubung langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Ikhwan menjelaskan, jarak sosial dengan orang asing membuat sebagian orang merasa tidak terlalu terbebani oleh penilaian jangka panjang.

"Kita akan mudah ngobrol dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Kita curhat habis-habisan dengan pikiran, nanti tidak kenal ini, habis itu tidak akan ketemu lagi," kata Ikhwan.

Faktor lain yang ikut berperan adalah rasa anonim. Mengutip studi bertajuk Anonymity and Online Self-Disclosure, anonimitas berkaitan dengan keterbukaan diri. Saat identitas seseorang tidak terlalu melekat, ia cenderung lebih berani mengungkapkan hal personal.

Dalam konteks ini, anonim tidak selalu berarti tanpa nama. Yang lebih terasa adalah jarak sosial. Seseorang bisa hadir sebagai orang baru tanpa beban citra atau penilaian lama.

Ikhwan menyebut, kondisi ini sebagai anonimitas yang membebaskan. Seseorang bisa merasa lebih leluasa karena tidak sedang berhadapan dengan orang yang mengetahui masa lalu atau lingkungan sosialnya.

"Ketika kita ketemu dengan orang yang kita tidak takut identitas kita terbongkar atau masa lalu kita diketahui, kita bisa berekspresi secara lebih bebas," ujarnya.

Tetap perlu batas saat membuka diri

Meski bisa terasa melegakan, Ikhwan mengingatkan keterbukaan kepada orang asing tetap perlu batas. Risiko terbesar adalah terlalu cepat percaya, terlalu berharap pada pertemuan singkat, atau membuka informasi pribadi terlalu jauh.

"Risiko terbesar itu keamanan dan kenyamanan. Secara psikologis, kadang kita tidak memberi batasan. Berharap terlalu banyak terhadap pertemuan itu," ucapnya.

Menurut Ikhwan, seseorang perlu sadar tujuan dan batas saat membuka diri kepada orang baru. Cerita boleh mengalir, tetapi informasi yang terlalu pribadi tetap perlu dijaga.

"Harus mindful. Kesadaran itu harus selalu dibangun dan dipertahankan selama proses berlangsung," katanya.

Fenomena nyaman curhat kepada orang asing menunjukkan bahwa banyak orang membutuhkan ruang aman untuk didengar. Bagi sebagian orang, ruang itu justru muncul dari pertemuan singkat dengan seseorang yang tidak membawa beban hubungan lama.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google