Pahami Penyebab Kanker Paru Serta Cara Tepat Diagnosis & Pengobatannya

Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 10:16 WIB
Ilustrasi. (Foto: iStockphoto/Morsa Images)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kanker paru-paru masih menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tinggi di dunia. Penyakit ini sering dikaitkan dengan kebiasaan merokok, tetapi risikonya juga dapat dialami oleh perokok pasif maupun orang yang tidak merokok.

Kanker paru terjadi ketika sel-sel di jaringan paru tumbuh secara tidak terkendali. Berdasarkan asalnya, penyakit ini dibagi menjadi kanker paru primer yang bermula di paru-paru dan kanker paru sekunder yang muncul akibat penyebaran kanker dari organ tubuh lain.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru adalah gejalanya yang sering tidak disadari. Pada banyak kasus, penyakit baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Beberapa keluhan yang paling sering muncul antara lain batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, sesak napas, batuk berdarah, mengi atau suara seperti siulan saat bernapas, nyeri dada, hingga suara serak yang berkepanjangan.

Batuk berkelanjutan menjadi gejala yang paling umum ditemukan. Pada sebagian penderita, keluhan ini dapat memburuk saat makan atau minum karena adanya gangguan pada saluran pernapasan.

Sesak napas juga perlu diwaspadai. Kondisi ini dapat muncul akibat penumpukan cairan di sekitar paru atau karena penyebaran kanker yang mengganggu fungsi paru dalam menyalurkan oksigen ke dalam darah.

Sementara itu, batuk berdarah biasanya terjadi ketika tumor menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di paru. Gejala ini memerlukan pemeriksaan medis segera, terutama pada individu dengan riwayat merokok.

Dokter Spesialis Paru Subspesialis Onkologi Toraks dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Kuningan, dr. Jaka Pradipta, mengingatkan pentingnya mengenali gejala yang muncul.

"Sadari juga keluhannya agar Anda dapat memeriksakan diri bila dirasa mengalami hal serupa," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6).

Di samping gejala, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko kanker paru. Merokok aktif masih menjadi penyebab utama, namun paparan asap rokok sebagai perokok pasif juga berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko.

Asap rokok mengandung puluhan zat karsinogenik yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Paparan tidak langsung dalam jangka panjang, termasuk dari asap yang menempel pada pakaian dan rambut, tetap berpotensi membahayakan kesehatan.

Risiko juga dapat meningkat akibat paparan gas radon, yaitu gas radioaktif alami yang terbentuk dari peluruhan unsur tertentu di tanah dan batuan. Gas ini tidak berwarna maupun berbau sehingga sulit dikenali tanpa pemeriksaan khusus.

Selain itu, polusi udara dari asap kendaraan, pembakaran sampah, dan partikel berbahaya lainnya dapat meningkatkan risiko kanker paru jika terhirup secara terus-menerus dalam jangka panjang.

Paparan radiasi di area dada, misalnya pada pasien yang pernah menjalani terapi kanker tertentu, juga diketahui dapat meningkatkan risiko. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah paparan partikel asbes yang sering ditemukan pada lingkungan konstruksi dan industri tertentu.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan serangkaian pemeriksaan. Pemeriksaan awal dapat dilakukan melalui foto rontgen dada untuk melihat adanya kelainan pada paru.

Bila diperlukan, pemeriksaan dilanjutkan dengan CT scan yang mampu memberikan gambaran lebih rinci mengenai kondisi paru dan jaringan di sekitarnya.

Dokter juga dapat melakukan sitologi dahak untuk mendeteksi keberadaan sel kanker. Namun, metode yang dianggap paling akurat adalah biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan paru yang kemudian diperiksa di laboratorium.

Menurut Jaka, kewaspadaan terhadap gejala perlu ditingkatkan, terutama jika keluhan berlangsung lama atau semakin memburuk.

"Terutama keluhan yang mengkhawatirkan seperti batuk berkelanjutan dan batuk berdarah. Jadi, jangan sepelekan dan segera konsultasi ke dokter untuk mengetahui kondisi paru-paru Anda," ujarnya.

Pilihan pengobatan kanker paru ditentukan berdasarkan stadium penyakit, ukuran tumor, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Pada kasus yang masih terbatas di paru, operasi sering menjadi pilihan utama untuk mengangkat jaringan yang terkena kanker.

Selain operasi, kemoterapi masih banyak digunakan untuk menghancurkan sel kanker melalui pemberian obat-obatan, baik secara oral maupun infus. Lama terapi dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan sesuai kondisi pasien.

Terapi radiasi juga menjadi salah satu metode yang umum digunakan. Prosedur ini memanfaatkan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker secara terarah.

Pada tumor berukuran kecil dan stadium awal, dokter dapat mempertimbangkan radiosurgery, yaitu teknik radiasi berpresisi tinggi yang sering disebut sebagai operasi tanpa pisau bedah.

Perkembangan pengobatan juga menghadirkan terapi target yang bekerja menyerang sel kanker secara lebih spesifik sehingga dampaknya terhadap sel sehat dapat diminimalkan.

Untuk meningkatkan peluang kesembuhan, deteksi dini menjadi langkah penting. Skrining menggunakan Low-Dose CT Scan (LDCT) direkomendasikan bagi individu yang memiliki faktor risiko tinggi, termasuk perokok aktif maupun mereka yang memiliki riwayat paparan zat berbahaya yang berkaitan dengan kanker paru.

Dengan mengenali gejala sejak awal dan melakukan pemeriksaan secara tepat waktu, peluang penanganan kanker paru dapat ditingkatkan sebelum penyakit berkembang ke stadium yang lebih lanjut.

(rir)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK