Hati-Hati Produk Pelangsing, Ini Efek Sampingnya Kata Dokter
Saat ini banyak produk pelangsing di pasaran yang menjanjikan penurunan berat badan secara instan. Mulai dari pil, minuman, gummy, bahkan banyak pula klinik khusus yang menawarkan hasil cepat.
Dari sisi medis, penurunan berat badan yang terlalu drastis justru dapat menimbulkan risiko kesehatan karena yang berkurang bukan hanya lemak, tetapi juga cairan tubuh dan massa otot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dicky Levenus Tahapary, mengatakan penurunan berat badan yang cukup tinggi itu bagus, tetapi perlu bertahap dan tak boleh dilakukan secara ekstrem.
"Perlu diingat, badan kita itu ada otot, ada tulang, ada lemak, ada air. Biasanya kalau berat badannya turun cepat, itu yang berkurang airnya," kata Dicky saat ditemui usai Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).
Banyak produk pelangsing yang bisa membuat kita mengeluarkan cairan dalam waktu singkat. Menurut Dicky, produk tersebut biasanya bersifat diuretik, yang mendorong tubuh mengeluarkan cairan dari kencing.
"Nah kedua, kalau berat badannya berkurang cepat, biasanya enggak cuma lemaknya yang turun, ototnya bisa turun," ucap Dicky.
Penurunan massa otot tidak baik dalam jangka panjang. Otot penting dalam mengatur kecepatan metabolisme tubuh. Adapun jika pola makan lama kembali, kenaikan berat badan bisa terjadi lebih cepat.
Salah satu metode klinis yang terkadang tak digunakan sesuai indikasi, yakni pemberian hormon tiroid yang bisa memengaruhi massa otot.
"Hormon tiroid itu mempercepat metabolisme tubuh. Lemaknya turun, tapi ototnya juga turun," ucap Dicky.
Oleh karena itu, penurunan berat badan tak bisa semata-mata dilihat dari penurunan berat badan. Perlu ada pemeriksaan komposisi tubuh yang bisa mengukur komposisi lemak, otot, dan air dalam tubuh.
Cuma ada 3 jenis obat penurun berat badan di Indonesia
Dicky menjelaskan, di Indonesia baru ada tiga jenis obat saja yang disetujui untuk menurunkan berat badan. Itupun ketiganya harus berdasarkan resep dan pengawasan ketat dari dokter.
Pertama, ada diethylpropion untuk menekan nafsu makan. Kedua, orlistat yang bisa menghambat penyerapan lemak. Terakhir, GLP-1 yang juga untuk menekan nafsu makan.
"Cuma tiga di Indonesia yang di-approve untuk obesitas. Obat-obat yang lain enggak ada, [seperti] fentermin yang di luar negeri, enggak masuk ke sini," ucap Dicky.
Hanya saja yang perlu diwaspadai, tidak semua klinik pelangsingan terbuka mengenai penggunaan obat penurun berat badan. Bisa jadi label obat diganti atau diramu jadi satu, sehingga pasien tidak tahu asal-usulnya.
"Saya rasa kita perlu edukasi pasien untuk lebih pintar, ya. Tanyakan ke dokternya obatnya apa, efek sampingnya apa. Kan obat itu bukannya tanpa efek samping. Sebagus-bagusnya obat, pasti ada efek samping yang dokternya harus asesmen," tutur Dicky.
Jadi bagaimana penurunan berat badan yang ideal?
Ketika menurunkan berat badan, yang perlu ditargetkan adalah penurunan massa lemaknya. Penurunan berat badan yang terlalu cepat, selain menciptakan efek semu karena hanya menurunkan massa air dan otot, juga malah menaikkan hormon stres serta peradangan.
Ketika lemak yang berkurang, fungsi-fungsi tubuh lainnya bisa bekerja dengan lebih baik. Misalnya, mengurangi risiko perlemakan hati, diabetes, hingga tekanan darah tinggi. Lalu bagaimana penurunan berat badan yang ideal?
"Prinsipnya penurunan berat badan itu lebih bagus pelan-pelan tapi steady, dibandingkan langsung turun secara drastis. Makanya, biasa kita targetnya lima persen dalam tiga bulan itu sudah bagus," ujar Dicky.
Ia mencontohkan, seseorang dengan berat badan 80 kg idealnya turun 4 kg dalam waktu tiga bulan. Artinya, dalam sebulan penurunan berat badan sekitar 1 kg. Adapun penurunan 500 gram per minggu sudah tergolong bagus.
(rti) Add
as a preferred source on Google
