Orang Sakit Liver Harus Minum Sirup, Mitos atau Fakta? Ini Kata Dokter
CNN Indonesia
Jumat, 19 Jun 2026 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Ada beberapa anjuran dan pantangan dalam menangani penyakit liver. Namun benarkah semua anjuran tersebut atau sekadar mitos? Ini penjelasan dokter. (iStockphoto/Milena Shehovtsova)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sakit liver atau penyakit hati bisa terjadi pada siapa saja. Baik itu karena infeksi virus seperti hepatitis, atau gangguan metabolik seperti perlemakan hati, sirosis, hingga kanker hati.
Namun ada satu anggapan yang cukup populer, yakni jika orang yang sedang sakit kuning alias sakit liver harus minum sirup, serta mengonsumsi makanan dan minuman manis lainnya.
Selain itu, ada pula pantangan makan makanan berlemak ketika sedang sakit. Apakah berbagai anggapan ini mitos saja atau memang benar adanya?
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rino Alvani Gani memberikan penjelasan medis mengenai anggapan ini.
Harus minum sirup ketika sakit liver, benarkah?
Rino menjelaskan, anggapan orang harus minum sirup atau minuman manis lainnya ketika sedang sakit liver, timbul karena ada pengertian bahwa liver jadi tempat tubuh menyimpan cadangan gula.
Pada mekanisme tubuh, gula yang masuk dalam tubuh diolah untuk menjadi energi. Namun jika ada kelebihan gula, dalam arti tidak dipakai untuk energi, gula kana disimpan dalam bentuk glikogen di liver.
"Kalau ada penyakit hati, maka simpanan glikogen itu tidak ada, tidak terbentuk, sehingga orang gampang mengalami gula darah rendah," ujar Rino kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).
Dengan adanya anggapan itu, banyak orang yang sering menganjurkan minum sirup atau minuman manis lainnya kepada orang yang sedang mengidap sakit liver. Namun kini cara tersebut harus mulai ditinggalkan.
"Karena pada kenyataannya, dilihat bahwa tubuh itu mempunyai mekanisme canggih untuk tetap mempertahankan konsentrasi gula darah. Jadi bukan hanya dari liver, tapi juga bisa dari cadangan lemak atau bahkan dari protein yang ada," tutur Rino.
Rino menyimpulkan, memberikan asupan yang manis kepada pasien penyakit liver tidak terlalu dianjurkan.
"Repotnya kalau memberikan makanan yang manis-manis itu justru bisa menimbulkan perlemakan dari hati ataupun perlemakan di tempat lain, dan dapat memperparah kondisi obesitas yang terjadi," kata Rino lagi.
Baca halaman selanjutnya terkait pantangan makanan berlemak dan keamanan minum herbal saat sakit liver...
Bagaimana dengan pantangan makanan berlemak?
Rino kembali menjelaskan bagaimana proses penyerapan lemakdi dalam tubuh. Ketika kita makan makanan yang berlemak, hati memang mengeluarkan cairan empedu untuk membantu penyerapannya.
Ketika sedang mengidap penyakit liver, kemampuan seseorang untuk memproduksi cairan empedu menjadi berkurang. Alhasil, kemampuan mencerna lemak juga berkurang.
"Tidak diperlukan cairan empedu yang banyak, sehingga kalau mau dari lemak nabati atau tumbuhan itu akan lebih baik," kata Rino lagi.
Ketimbang memberikan pantangan ini itu, Rino menyarankan porsi makan yang normal saja kepada pengidap sakit liver. Yang penting, jumlah kalori, protein, hingga lemaknya dalam jumlah yang cukup, tak perlu dikurangi.
Lalu, apakah aman mengonsumsi herbal saat sedang sakit liver?
Rino menjelaskan, zat apa pun yang masuk ke dalam tubuh pasti bisa menyebabkan efek samping, termasuk minuman dan suplemen herbal. Adapun keamanan sebuah suplemen herbal tergantung dari efek terapi dan efek sampingnya.
"Jadi, yang bagus itu efek terapinya banyak, efek sampingnya sedikit. Tapi ada juga obat-obat herbal yang efek terapinya ada, tapi efek sampingnya lebih besar. Untuk yang begini, tentu tidak bisa digunakan," tutur Rino.
Lalu bagaimana cara kita mengetahui keandalan herbal tersebut? Sebagai konsumen kita harus lebih jeli lagi mengecek apakah herbal tersebut memang sudah diuji secara klinis atau baru sekadar klaim secara empiris.
Hal ini penting mengingat efek herbal pada setiap orang bisa berbeda-beda. Di sisi lain, tak semua obat herbal memiliki studi klinis yang baik.
Kemudian, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai konsumen? Hal pertama yang disarankan Rino, yakni konsultasi dengan dokter terkait tentang kesehatan liver.
"Yang kedua, kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan, bisa dicoba dilacak di internet yang benar-benar punya reputasi dan kredibilitas yang baik. BPOM punya kok itu," ucap Rino.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sakit liver atau penyakit hati bisa terjadi pada siapa saja. Baik itu karena infeksi virus seperti hepatitis, atau gangguan metabolik seperti perlemakan hati, sirosis, hingga kanker hati.
Namun ada satu anggapan yang cukup populer, yakni jika orang yang sedang sakit kuning alias sakit liver harus minum sirup, serta mengonsumsi makanan dan minuman manis lainnya.
Selain itu, ada pula pantangan makan makanan berlemak ketika sedang sakit. Apakah berbagai anggapan ini mitos saja atau memang benar adanya?
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rino Alvani Gani memberikan penjelasan medis mengenai anggapan ini.
Harus minum sirup ketika sakit liver, benarkah?
Rino menjelaskan, anggapan orang harus minum sirup atau minuman manis lainnya ketika sedang sakit liver, timbul karena ada pengertian bahwa liver jadi tempat tubuh menyimpan cadangan gula.
Pada mekanisme tubuh, gula yang masuk dalam tubuh diolah untuk menjadi energi. Namun jika ada kelebihan gula, dalam arti tidak dipakai untuk energi, gula kana disimpan dalam bentuk glikogen di liver.
"Kalau ada penyakit hati, maka simpanan glikogen itu tidak ada, tidak terbentuk, sehingga orang gampang mengalami gula darah rendah," ujar Rino kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (11/6).
Dengan adanya anggapan itu, banyak orang yang sering menganjurkan minum sirup atau minuman manis lainnya kepada orang yang sedang mengidap sakit liver. Namun kini cara tersebut harus mulai ditinggalkan.
"Karena pada kenyataannya, dilihat bahwa tubuh itu mempunyai mekanisme canggih untuk tetap mempertahankan konsentrasi gula darah. Jadi bukan hanya dari liver, tapi juga bisa dari cadangan lemak atau bahkan dari protein yang ada," tutur Rino.
Rino menyimpulkan, memberikan asupan yang manis kepada pasien penyakit liver tidak terlalu dianjurkan.
"Repotnya kalau memberikan makanan yang manis-manis itu justru bisa menimbulkan perlemakan dari hati ataupun perlemakan di tempat lain, dan dapat memperparah kondisi obesitas yang terjadi," kata Rino lagi.
Baca halaman selanjutnya terkait pantangan makanan berlemak dan keamanan minum herbal saat sakit liver...
Benarkah Sakit Liver Pantang Makan Makanan Berlemak?
Ilustrasi. Ada beberapa anjuran dan pantangan dalam menangani penyakit liver. Namun benarkah semua anjuran tersebut atau sekadar mitos? Ini penjelasan dokter. (Istockphoto/magicmine)
Bagaimana dengan pantangan makanan berlemak?
Rino kembali menjelaskan bagaimana proses penyerapan lemakdi dalam tubuh. Ketika kita makan makanan yang berlemak, hati memang mengeluarkan cairan empedu untuk membantu penyerapannya.
Ketika sedang mengidap penyakit liver, kemampuan seseorang untuk memproduksi cairan empedu menjadi berkurang. Alhasil, kemampuan mencerna lemak juga berkurang.
"Tidak diperlukan cairan empedu yang banyak, sehingga kalau mau dari lemak nabati atau tumbuhan itu akan lebih baik," kata Rino lagi.
Ketimbang memberikan pantangan ini itu, Rino menyarankan porsi makan yang normal saja kepada pengidap sakit liver. Yang penting, jumlah kalori, protein, hingga lemaknya dalam jumlah yang cukup, tak perlu dikurangi.
Lalu, apakah aman mengonsumsi herbal saat sedang sakit liver?
Rino menjelaskan, zat apa pun yang masuk ke dalam tubuh pasti bisa menyebabkan efek samping, termasuk minuman dan suplemen herbal. Adapun keamanan sebuah suplemen herbal tergantung dari efek terapi dan efek sampingnya.
"Jadi, yang bagus itu efek terapinya banyak, efek sampingnya sedikit. Tapi ada juga obat-obat herbal yang efek terapinya ada, tapi efek sampingnya lebih besar. Untuk yang begini, tentu tidak bisa digunakan," tutur Rino.
Lalu bagaimana cara kita mengetahui keandalan herbal tersebut? Sebagai konsumen kita harus lebih jeli lagi mengecek apakah herbal tersebut memang sudah diuji secara klinis atau baru sekadar klaim secara empiris.
Hal ini penting mengingat efek herbal pada setiap orang bisa berbeda-beda. Di sisi lain, tak semua obat herbal memiliki studi klinis yang baik.
Kemudian, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai konsumen? Hal pertama yang disarankan Rino, yakni konsultasi dengan dokter terkait tentang kesehatan liver.
"Yang kedua, kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan, bisa dicoba dilacak di internet yang benar-benar punya reputasi dan kredibilitas yang baik. BPOM punya kok itu," ucap Rino.