Catat Baik-baik! 7 Kelompok Ini Perlu Batasi Asupan Garam
Garam merupakan bahan penyedap rasa makanan dan sumber nutrisi bagi tubuh. Namun, bagi sebagian orang, garam dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
Oleh karena itu, tak semua orang bisa mengonsumsi garam sembarangan. Lantas, siapa saja kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi garam?
Banyak orang mengonsumsi garam dalam jumlah lebih tinggi dari yang disadari. Tidak hanya berasal dari dapur, garam juga banyak ditemukan dalam makanan olahan, makanan kemasan, hingga hidangan siap saji yang sering dikonsumsi sehari-hari.
Meskipun begitu, tubuh hanya membutuhkan natrium dalam jumlah tertentu untuk menjaga keseimbangan cairan serta mendukung fungsi saraf dan otot. Ketika asupannya berlebihan, dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan yang serius, seperti tekanan darah tinggi.
Kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi garam
Dikutip dari berbagai sumber, berikut kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi garam untuk menjaga kesehatan.
1. Penderita tekanan darah tinggi
Penderita hipertensi atau darah tinggi harus membatasi konsumsi garam secara berlebihan. Menurut American Heart Association, kelebihan natrium dapat menarik lebih banyak air ke dalam pembuluh darah sehingga volume darah meningkat dan tekanan darah menjadi lebih tinggi.
Oleh karena itu, mengurangi asupan natrium dapat membantu menjaga tekanan darah tetap terkendali serta menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular.
2. Penderita gangguan ginjal
Dikutip dari The Nutrition Source, ginjal berfungsi mengatur kadar natrium dalam tubuh. Namun, ketika konsumsi garam terlalu tinggi, ginjal harus bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan natrium melalui urine.
Bagi penderita gangguan ginjal, kemampuan organ ini sudah menurun sehingga kelebihan natrium dapat menyebabkan penumpukan cairan dan memperburuk kondisi kesehatan. Oleh sebab itu, pembatasan garam sering menjadi bagian dari anjuran pola makan bagi pasien penyakit ginjal.
3. Lansia
Pertambahan usia dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah. Selain itu, risiko hipertensi dan penyakit jantung juga cenderung meningkat pada usia lanjut.
American Heart Association merekomendasikan asupan natrium pada lansia dibatasi kurang dari 1.500 miligeam (mg) per hari, terutama bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi.
4. Ibu hamil
Masa kehamilan merupakan periode yang memerlukan perhatian khusus terhadap pola makan. Meskipun tubuh tetap membutuhkan natrium untuk mendukung berbagai fungsi penting, konsumsi garam yang berlebihan sebaiknya dihindari.
The Nutrition Source mencantumkan bahwa kebutuhan natrium yang memadai bagi ibu hamil sekitar 1.500-2.300 mg per hari.
Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan mengonsumsi garam dalam jumlah wajar dan mengutamakan makanan segar dibandingkan makanan olahan yang umumnya tinggi natrium.
5. Anak-anak
Anak-anak juga termasuk kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi garam. Berdasarkan World Health Organization (WHO), kebutuhan natrium anak perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan energinya.
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam sejak dini dapat meningkatkan preferensi terhadap rasa asin dan berpotensi berdampak pada kesehatan di kemudian hari. Karena itu, orang tua perlu membiasakan anak mengonsumsi makanan dengan kadar garam yang tidak berlebihan.
6. Penderita osteoporosis
Konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh kehilangan lebih banyak kalsium melalui urine. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat tulang menjadi lebih rapuh dan meningkatkan risiko osteoporosis, terutama pada wanita pascamenopause dan orang lanjut usia.
7. Orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas
Makanan tinggi garam sering kali mendorong rasa haus sehingga seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak minuman. Jika yang dipilih adalah minuman manis, asupan kalori dapat meningkat dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
Nah, itulah kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi garam. Dengan menerapkan pola makan seimbang, risiko berbagai penyakit kronis dapat ditekan sekaligus membantu menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
(gas/asr)