LAPORAN DARI MILAN

Tod's dan Gaya Hidup Italia dalam Bisikan Lantang

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Senin, 22 Jun 2026 12:15 WIB
Koleksi Tod's yang dipamerkan di Milan Fashion Week 2026.
Koleksi Tod's untuk musim panas 2027 tetap mengedepankan gaya elegan ala Italia yang menjadi ciri khasnya. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bahkan sebelum Tod's membuka pintu Villa Necchi Campiglio untuk mempresentasikan koleksi menswear teranyarnya, pertunjukan sesungguhnya telah dimulai di jalanan.

Di bawah terik panas Milan yang menyengat, para penggemar Han Ji-sung dari Stray Kids berkerumun di balik pagar pembatas, berharap bisa menangkap sekelebat sosok idolanya. Teriakan mereka memecah keheningan. Untuk sesaat, Tod's, jenama yang selama ini dikenal dengan kemewahan yang kalem, harus berbagi panggung dengan histeria pop global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di dalam villa, atmosfernya jauh lebih tenang. Han muncul mengenakan jaket kulit lembut, mengamati koleksi ini di antara ruangan-ruangan villa bersama Diego Della Valle, chairman Tod's yang selama puluhan tahun mengubah perusahaan barang kulit regional menjadi salah satu nama paling dikenal dalam barang mewah Italia.

Di bawah kepemimpinannya, Tod's tak pernah benar-benar hanya menjual sepatu, tas, atau jaket. Yang ia tawarkan adalah sebuah proposisi tentang Italia, yakni sebuah keanggunan tanpa pamer, kemewahan tanpa terlihat vulgar, dan keyakinan bahwa kualitas material dan kerja tangan dapat berbicara lebih lantang daripada sekedar logo.

Kehadiran Han di sisi Della Valle tampak seperti upaya menguji kode-kode lama Tod's di hadapan audiens global yang jauh lebih muda, lebih pop, dan lebih digital.

Villa Necchi Campiglio sendiri adalah salah satu vila di Milan yang keindahannya terasa hampir disipliner, dengan garis-garis rasionalis, ketenangan aristokratik dengan banyaknya karya seni di dalamnya. Tempat itu menjadi panggung yang tepat untuk koleksi bertajuk 'The Italian Wardrobe'.

Disini, Tod's tidak sedang berusaha menciptakan arketipe pria baru. Yang dilakukan Matteo Tamburini, creative director rumah mode ini, adalah memoles ulang arketipe lama, yakni pria Italia yang lebih menghargai kelembutan daripada swagger, kualitas material daripada agresi visual, dan keanggunan yang tampak seolah muncul secara alami.

Pusat dari koleksi ini adalah proyek Pashmy, eksperimen terbaru Tod's dalam mengubah kulit menjadi objek taktil. Jenama ini menyebutnya sebagai ekspresi tertinggi dari keahlian mereka dalam riset dan seleksi material.

Kulit Pashmy memiliki ketebalan hanya 0,3 milimeter, begitu tipis hingga hampir menantang persepsi tentang bahan kulit yang sering terlihat dan terasa 'berat'.

Perbandingan yang digunakan Tod's adalah pashmina. Sekalipun analogi semacam ini sering terdengar klise, hasilnya adalah sebuah material yang dirancang untuk bergerak seperti selembar kain.

Koleksi Tod's yang dipamerkan di Milan Fashion Week 2026.Koleksi Tod's untuk Milan Fashion Week 2026/2027 dipamerkan di showroom nya. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Brera bomber, dalam palet warna netral hangat, menjadi salah satu potongan paling meyakinkan. Siluetnya familier, dibuat dengan kulit yang luar biasa ringan. Castello jacket, blazer lembut dengan patch pockets yang jauh dari kakunya pakaian pria formal.

Lalu, ada Solferino shirt, menerjemahkan ide Pashmy itu sendiri, yang nyaris tampak seperti eksperimen dalam menghapus batas antara kemeja dan kulit kedua.

Tidak ada siluet atau warna yang mengejutkan. Daya tariknya justru terletak pada cara Tod's membuat sesuatu yang familiar terlihat mewah.

Keteguhan pada elevasi yang tenang inilah yang terus menjadi proposisi utama Tod's, dan Della Valle selalu merumuskannya secara singkat.

"Kualitas. Craftsmanship", ujarnya di tengah-tengah presentasi yang diikuti CNNIndonesia.com.

Di industri barang mewah yang tergila-gila pada storytelling, jawaban itu terdengar hampir anti-klimaks. Namun, justru di situlah kekuatannya.

Tod's, pada dasarnya, tidak pernah lebih rumit dari itu. Sebelum grup ini delisting dari bursa saham Milan pada 2024, Della Valle juga menegaskan kepercayaan dirinya pada posisi brand tersebut dengan nada serupa.

"Semua jenama [di bawah naungan Tod's Group] mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit, pada kurs tetap. Kami sangat puas telah mencapai tujuan yang telah kami tetapkan di awal tahun, meskipun dalam konteks makroekonomi yang sulit di tingkat internasional. Hasil yang sangat baik untuk jenama Tod's, yang semakin dihargai karena gayanya yang halus dan modern, sebuah ekspresi dari keahlian luar biasa dari Made in Italy; produk-produk ikoniknya semakin dicintai oleh semakin banyak pelanggan dari semua kelompok usia secara internasional," ujar Della Valle kala itu.

Koleksi ini jelas dirancang untuk menampilkan bahwa Tod's tidak perlu menjadi lebih bising, lebih trend-driven, atau lebih 'fashion' dalam pengertian konvensional untuk tetap relevan. Yang perlu dilakukan, Tod's justru semakin menjadi dirinya sendiri.

Untuk itu, rumah mode ini melakukan satu langkah yang cerdas selama presentasi. Alih-alih sekadar berbicara tentang craftsmanship, mereka menampilkannya secara langsung.

Para perajin dari atelier Tod's di Marche, wilayah yang selama ini menjadi tulang punggung industri kulit, dibawa ke Villa Necchi untuk memperagakan keahlian mereka di hadapan para tamu. Para undangan dapat melihat kulit dipilih, dipotong, dan dirakit oleh tangan-tangan yang selama ini hanya hadir sebagai abstraksi dalam bahasa pemasaran luxury.

Palet warna koleksi ini bergerak dalam logika yang sama. Rona beige, cocoa, ochre, sesekali diselingi Riviera blue dan pearl grey dipilih bukan untuk mengguncang atau mencuri perhatian, melainkan untuk menenangkan, dan membiarkan material berbicara.

Aksesori yang ditampilkan pun mengulang argumen yang sama. Red Dot sneaker, yang diposisikan sebagai ikon baru, berusaha menerjemahkan nilai lama Tod's ke dalam produk urban kontemporer: kemewahan sebagai kelembutan, keringanan, dan fungsionalitas.

Sementara Gommino kembali hadir sebagai pengingat bahwa keberhasilan terbesar jenama ini terletak pada kemampuannya membuat kesan kasual yang terasa aristokratik. Ultra-light loafer yang nyaris ambruk saking lembutnya hanya menegaskan hal itu sekali lagi.

Apa yang dipresentasikan Tod's di Villa Necchi bukanlah menswear yang radikal, namun sesuatu yang lebih sulit: sebuah bahasa yang koheren terhadap restraint di industri yang sering kali mengejar kebisingan.

Di luar, para penggemar berteriak histeris untuk idol K-pop. Sementara di dalam, Tod's menampilkan kemewahan yang tetap bermula dari tangan, dari kulit, dari kesabaran untuk menyempurnakan sesuatu yang nyaris tak terlihat.

Di sini, bisikan masih bisa terdengar. Dan untuk satu siang yang terik di Milan, bisikan itu justru lebih terdengar lantang.

(asr/asr) Add as a preferred
source on Google