5 Cara Memuji Anak Tanpa Membuatnya Sombong, Tumbuhkan Mental Sehat
Sebagai orang tua, memuji anak adalah cara paling mudah dan sederhana untuk menunjukkan dukungan sekaligus menegaskan bahwa perilaku mereka dihargai.
Dengan pujian pula, anak jadi paham kalau usaha mereka diperhatikan dan tahu bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar. Ini penting untuk membentuk rasa percaya diri yang sehat di diri sang buah hati.
Akan tetapi, tidak semua bentuk pujian ternyata dapat berdampak positif. Selain itu, tak semua orang tua mungkin juga paham bagaimana memberikan pujian dengan tepat.
Pujian yang diberikan secara berlebihan, terlalu umum, bahkan membandingkannya dengan orang lain, seperti "kamu memang anak paling pintar di kelasmu", tidaklah tepat.
Dalam jangka panjang, pujian yang harusnya membangun, justru dapat membuat anak sombong, bahkan sulit menerima kritik.
Karena itu, orang tua perlu tahu bagaimana cara memberi pujian yang tepat pada anak agar mereka anak tumbuh jadi pribadi yang percaya diri tanpa merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Berikut cara memuji anak tanpa membuatnya jadi sombong, dilansir dari laman Evergreen Psychotherapy Center.
1. Fokus pada perilaku, bukan label anak
Berikan pujian yang spesifik pada tindakan, sikap, atau usaha yang dilakukan anak. Misalnya, "Ibu suka cara kamu membereskan meja makan tadi, terima kasih sudah membantu," daripada "Kamu anak yang rajin" atau "Kamu hebat".
Dengan begitu, anak memahami bahwa yang dihargai adalah perilaku spesifik yang telah dilakukan, bukan sekadar identitasnya.
2. Pastikan pujian benar-benar tulus
Jangan memberikan pujian jika tidak benar-benar dimaksudkan. Anak biasanya bisa merasakan ketidaktulusan dari nada suara atau ekspresi orang tua.
Pujian yang dibuat-buat justru mengurangi makna apresiasi yang sebenarnya dan membuat anak kurang percaya pada kata-kata orang tua.
Misalnya, ketika hasil gambar anak asal-asalan tetapi demi menyenangkan hatinya, Anda memuji tidak sesuai dengan kenyataannya, "Wah bagus sekali gambarnya, keren banget anak Ibu!".
Alih-alih berkata demikian, Anda bisa mengatakan "Kamu sudah berusaha, ya. Ibu lihat kamu menggambar banyak hal, ada pohon, rumah, dan burung." Dengan begitu, anak tetap merasa diperhatikan tanpa mendapat pujian yang dibuat-buat.
3. Hindari pujian yang terlalu melebih-lebihkan
Kalimat seperti "Ini gambar terbaik di dunia!" mungkin terdengar menyenangkan, tetapi jika terlalu sering diucapkan, pujian yang dramatis dapat membuat anak kehilangan kemampuan menilai realitas atau menjadi takut tidak bisa memenuhi ekspektasi tinggi di kemudian hari.
4. Biasakan mengapresiasi proses dan usaha
Alih-alih hanya menyoroti hasil akhir, fokuslah pada usaha yang dilakukan anak. Daripada hanya berkata, "Hebat, kamu bisa dapat nilai 100!", Anda lebih baik mengatakan, "Ibu bangga akan usaha kerasmu dalam belajar dan latihan soal dengan serius sampai mendapat nilai bagus."
Dengan begitu, anak memahami bahwa proses belajar dan ketekunan jauh lebih penting daripada hasil semata.
5. Hindari membandingkan dengan orang lain
Pujian seperti "Kamu lebih pintar dari teman-temanmu" bisa membuat anak terbiasa menilai diri dengan perbandingan. Hal ini berisiko menumbuhkan sikap kompetitif yang tidak sehat atau rasa unggul yang berlebihan.
Lebih baik arahkan pujian pada perkembangan diri anak sendiri, agar tidak merasa lebih unggul atau lebih rendah dari orang lain.
(fef)