Sempat Ramai di TikTok, Apa Itu FAFO Parenting?
Pernah dengar FAFO parenting dari TikTok? Apa itu FAFO parenting dan bagaimana cara mengaplikasikan pola asuh ini?
FAFO sendiri merupakan singkatan dari ungkapan bahasa Inggris yang secara sederhana dapat diartikan sebagai "mencoba sesuatu lalu menerima konsekuensinya."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam dunia parenting, konsep ini merujuk pada pola asuh yang membiarkan anak belajar dari akibat alami atas pilihan yang mereka buat sendiri.
Pengertian FAFO parenting
Jadi, apa itu FAFO parenting? Melansir dari laman Parents, FAFO parenting adalah pendekatan yang memberi anak kesempatan untuk merasakan langsung dampak dari keputusan mereka, selama situasinya aman dan tidak membahayakan.
Ketimbang terus-menerus mengingatkan, memaksa, atau menyelamatkan anak dari kesalahan kecil, orang tua memberikan peringatan seperlunya lalu membiarkan anak memahami pelajaran melalui pengalaman.
Misalnya, seorang anak menolak membawa jas hujan meski sudah diingatkan menurut prakiraan cuaca akan hujan. Orang tua tidak perlu memaksanya. Ketika hujan turun dan anak merasa basah atau tidak nyaman, ia akan memahami sendiri mengapa jas hujan penting.
Laman Calm juga menambahkan beragam manfaat dari FAFO parenting. Konon, konsekuensi alami yang didapatkan anak dapat membantu perkembangan anak. Beberapa manfaatnya antara lain:
- Melatih tanggung jawab terhadap keputusan sendiri.
- Mengembangkan kemampuan berpikir sebab-akibat.
- Meningkatkan keterampilan memecahkan masalah.
- Membangun rasa percaya diri dan kemandirian.
- Membantu anak belajar mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan.
Anak juga jadi belajar setiap pilihan memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan.
Bagaimana cara kerja FAFO parenting?
Inti dari FAFO parenting adalah membiarkan konsekuensi alami menjadi guru terbaik bagi anak. Anak diberi kesempatan untuk membuat keputusan dan melihat sendiri hasil dari pilihan tersebut. Dengan cara ini, mereka belajar tentang hubungan antara tindakan dan akibatnya.
Namun, pola asuh ini bukan berarti orang tua lepas tangan sepenuhnya. Orang tua tetap bertugas memberikan arahan, menetapkan batasan, dan memastikan keselamatan anak.
Terkait contoh penerapannya, berikut ini beberapa situasi yang sering digunakan dalam FAFO parenting:
1. Tidak mengerjakan tugas sekolah
Jika anak memilih mengabaikan tugas meski sudah diingatkan, mereka harus menerima konsekuensi berupa nilai yang kurang baik atau teguran dari guru.
2. Lupa membawa barang penting
Ketika anak lupa membawa buku atau perlengkapan sekolah setelah diingatkan, orang tua tidak langsung mengantarkannya. Hal ini membuat anak belajar untuk lebih bertanggung jawab pada kemudian hari.
3. Tidak mengisi daya ponsel
Remaja yang mengabaikan pengisian baterai ponsel mungkin akan kesulitan menggunakannya saat dibutuhkan. Pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran yang lebih efektif dibandingkan nasihat berulang kali.
Kapan FAFO parenting tidak boleh diterapkan?
Meski memiliki banyak manfaat, FAFO parenting tidak cocok untuk semua situasi. Pendekatan ini hanya bisa digunakan ketika konsekuensi yang muncul tidak membahayakan anak ataupun orang lain.
Misalnya, orang tua tidak boleh membiarkan anak menyeberang jalan sendirian tanpa pengawasan atau melakukan aktivitas yang berisiko terhadap keselamatan.
Selain itu, anak yang masih sangat kecil mungkin belum mampu memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi. Oleh karena itu, orang tua tetap perlu menyesuaikan pendekatan dengan usia dan tingkat kematangan anak.
Itu dia serba-serbi mengenai FAFO parenting yang sedang populer di TikTok. Apakah Anda tertarik untuk menerapkannya?
(sac/rti) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
