Snowplow Parenting, Pola Asuh yang Bisa Hambat Kemandirian Anak

CNN Indonesia
Selasa, 23 Jun 2026 06:00 WIB
ilustrasi anak
Ilustrasi. Pola asuh yang benar bisa membuat anak lebih mandiri, bukan memuluskan semua jalannya. (iStockphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Setiap orang tua tentu ingin anaknya sukses, bahagia, dan terhindar dari kegagalan. Namun, keinginan tersebut kadang membuat sebagian orang tua tanpa sadar menerapkan pola asuh yang disebut snowplow parenting.

Istilah snowplow parenting atau yang juga dikenal sebagai lawnmower parenting dan bulldozer parenting menggambarkan cara pengasuhan ketika orang tua berusaha 'menyingkirkan' semua hambatan di depan anak. Tujuannya sederhana: agar anak tidak merasakan sakit, kegagalan, atau ketidaknyamanan dalam proses tumbuh kembangnya.

Namun, di balik niat baik tersebut, ada dampak yang perlu diwaspadai. Sebab, pengalaman menghadapi tantangan justru merupakan bagian penting dalam membentuk kemandirian dan ketahanan mental anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sering disamakan dengan helicopter parenting

Mengutip WebMD, Snowplow parenting kerap disamakan dengan helicopter parenting, meski keduanya tidak sepenuhnya sama.

Pada helicopter parenting, orang tua cenderung 'mengawasi dari atas' dan langsung turun tangan saat masalah muncul. Sementara itu, pada snowplow parenting, orang tua berusaha mencegah masalah itu muncul sejak awal dengan cara menghilangkan semua rintangan.

Keduanya sama-sama menunjukkan keterlibatan orang tua yang sangat tinggi dalam kehidupan anak. Namun, keterlibatan berlebihan ini bisa berdampak kurang baik jika tidak dibatasi.

Pola asuh ini sering kali tidak disadari karena dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, orang tua merasa lebih cepat dan mudah jika mengerjakan sesuatu untuk anak dibanding harus mengajarkannya terlebih dahulu.

Beberapa tanda snowplow parenting antara lain:

• Orang tua melakukan hampir semua hal untuk anak, termasuk tugas sekolah atau aktivitas harian.

• Terlalu sering mengatur jadwal dan keputusan anak tanpa memberi ruang pilihan.

• Sangat protektif hingga membatasi aktivitas yang sesuai usia anak.

• Terlibat berlebihan dalam urusan sekolah, seperti menghubungi guru atau bahkan mengerjakan tugas anak.

• Berusaha menghapus setiap kegagalan atau konsekuensi yang dialami anak.

Pada tingkat yang lebih lanjut, pola ini bahkan bisa berlanjut hingga anak memasuki usia kuliah, misalnya orang tua masih mengatur jadwal harian, mengingatkan tugas, hingga berkomunikasi dengan dosen atas nama anak.

Mengapa orang tua melakukannya?

Ada berbagai alasan mengapa snowplow parenting bisa terjadi. Salah satunya adalah rasa khawatir yang berlebihan terhadap masa depan anak.
Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:

• Sikap terlalu melindungi, karena tidak tega melihat anak gagal atau kesulitan.

• Persepsi dunia yang berbahaya, terutama dipengaruhi oleh informasi dari media.

• Pengalaman pribadi orang tua yang ingin "menghindarkan" anak dari kesalahan yang sama.

• Kecemasan dan kebutuhan mengontrol, yang membuat orang tua sulit melepas kendali.

• Tekanan sosial dan budaya, terutama yang menekankan prestasi akademik dan kesuksesan.

• Persaingan sosial, sehingga orang tua merasa anak harus selalu unggul dibanding yang lain.

Dampak jangka panjang pada anak

Mengutip Verywell Mind, meski dalam jangka pendek snowplow parenting bisa membuat anak terlihat 'berhasil', misalnya mendapat nilai tinggi atau masuk sekolah favorit dampaknya tidak selalu positif dalam jangka panjang.

Anak yang terbiasa 'dipermulus jalannya' berisiko mengalami beberapa hal berikut:

• Kurangnya kemandirian, karena terbiasa dibantu dalam banyak hal.

• Ketergantungan pada orang lain, sehingga sulit menyelesaikan masalah sendiri.

• Kesulitan mengatur emosi, terutama saat menghadapi kegagalan.

• Meningkatnya kecemasan, karena tidak terbiasa menghadapi situasi sulit.

• Sikap merasa berhak (entitlement), yaitu menganggap selalu layak mendapatkan bantuan atau perlakuan khusus.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat anak kesulitan menghadapi dunia nyata yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]