Bukan Lagi Pesta, Gen Z Kini Cari 'High' di Jogging Track
Standar keren yang ikut bergeser
Media sosial boleh jadi salah satu faktor yang memicu pergeseran tentang apa yang dianggap 'keren' oleh sebagian anak muda masa kini. Namun, membaca tren hidup sehat di media sosial juga perlu berhati-hati.
Apa yang muncul di linimasa seseorang sering kali dipengaruhi algoritma, lingkungan sosial, dan kelas ekonomi pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Algoritmanya kan biasanya sesuai dengan latar sosial dan ekonomi penggunanya. Jadi orang-orang tertentu akan lebih banyak mendapatkan informasi kesehatan," kata pengamat budaya populer Hikmat Darmawan kepada CNNIndonesia.com.
Konten soal pola makan, diabetes, kesehatan seksual, olahraga, sampai kebugaran terus berseliweran dan membentuk percakapan baru soal cara hidup yang dianggap ideal. Pelan-pelan, hal itu ikut memengaruhi apa yang terlihat menarik di mata sebagian anak muda.
Bagi Hikmat, yang berubah bukan hanya aktivitasnya. Yang ikut bergeser adalah model ideal yang dijadikan rujukan anak muda.
"Kalau soal adiksi, itu, kan, konsumsi yang berlebihan. Menurut saya yang berubah sekarang itu model-model idealnya juga mulai berbeda. Yang dulu mungkin dianggap keren itu urakan, senangnya Rolling Stone. Nah, itu semuanya juga adiksi," katanya.
Setiap generasi memiliki simbol apa yang dianggap 'keren' masing-masing. Pada masa tertentu, perilaku yang dekat dengan alkohol, rokok, atau sikap rebel bisa dianggap menarik. Kini, sebagian anak muda urban justru menemukan identitas sosial melalui aktivitas yang berhubungan dengan kebugaran, komunitas olahraga, dan tubuh yang aktif.
"Yang berubah adalah apa yang dianggap keren, apa yang dikonsumsi, dan ruang sosial tempat anak muda mencari kesenangan itu," tuturnya.
Pergeseran itu juga tampak dari ruang-ruang yang kini akrab dengan anak muda urban. Gym, studio olahraga, komunitas lari, kelas yoga, sampai lapangan padel menjadi tempat baru untuk bertemu orang, membangun rutinitas, sekaligus menunjukkan identitas.
"Dulu ada pola-pola penggunaan ruang. Ada ruang-ruang kosong yang dekat-dekat dan terfasilitasi untuk adiksi terhadap narkotika dan macam-macam," kata Hikmat.
Kini, ruang semacam itu punya bentuk yang berbeda.
"Sekarang ada ruang-ruang artifisial, seperti gym. Paling tidak ada ruang untuk aktivitas fisik," tambahnya.
Rasa lega yang bikin ingin mengulang
Pesta memberi kesenangan cepat, tetapi juga terasa lebih mahal, melelahkan, dan kadang meninggalkan rasa kosong setelahnya. Olahraga, sebaliknya, memberi rasa lega yang muncul pelan-pelan, tetapi efeknya bisa terbawa sampai setelah aktivitas selesai.
"Sensasi lainnya, pikiran menjadi lebih tenang dan rasanya ringan," kata Anton.
Kharina merasakan hal yang sama. Setelah rutin bergerak, ia merasa suasana hatinya lebih stabil dan tubuh lebih enak dipakai beraktivitas.
"Yang gue rasain setelah rutin olahraga tuh mood jadi lebih stabil. Udah gitu, badan jadi lebih enteng buat dipakai beraktivitas," katanya.
Rasa itu yang membuat mereka kembali mengulang. Bukan hanya karena ingin tubuh lebih ideal, tetapi karena ada perasaan lebih beres setelah bergerak.
Ilustrasi. Olahraga memberikan rasa 'high' yang lebih tahan lama. (iStockphoto) |
Bagi mereka yang rutin berolahraga, yang dicari ternyata bukan sekadar tubuh lebih bugar. Ada rasa lega, puas, dan tenang yang membuat seseorang ingin melakukannya lagi.
Bagi Anton, rasa 'high' dari olahraga bukan euforia sesaat seperti yang mungkin dicari sebagian orang lewat alkohol atau zat adiktif. Ia memaknainya sebagai kondisi ketika tubuh dan pikiran terasa lebih hidup dari dalam.
"High menurutku bukan tentang euforia sesaat, tetapi kondisi saat seseorang termotivasi dan full energic dari dalam diri sendiri," kata Anton.
Kharina merasakan hal serupa dengan bahasa yang berbeda. Baginya, olahraga membuat ia lebih hadir di hari yang sedang dijalani, tanpa terlalu sibuk mengkhawatirkan masa depan atau menyesali masa lalu.
Aktivitas olahraga bisa jadi pelarian buat Kharina, tapi bukan pelarian yang membuatnya semakin kacau. Justru sebaliknya, ia merasa lebih tenang karena bisa kembali mendengarkan tubuhnya sendiri.
"Bisa jadi salah satu alternatif pelarian dari realita. Tapi kalau yang ini [olahraga] bisa bikin pikiran kita lebih tenang juga karena kita bisa dengar apa yang badan kita butuhin," katanya.
Di tengah tekanan kerja, biaya hidup, dan kehidupan sosial yang serba cepat, pilihan sebagian Gen Z untuk berlari, nge-gym, pilates, atau jalan kaki jauh mungkin bukan sekadar soal tren.
Bagi mereka, itu cara lain untuk mencari senang tanpa harus pulang dengan tubuh makin lelah, dompet menipis, atau pikiran makin penuh. Party, klub, alkohol, dan narkoba belum tentu hilang dari kehidupan anak muda. Akan tetapi, bagi sebagian Gen Z, cara mencari lega memang sedang berubah.
(asr/asr) Add
as a preferred source on Google



