Lari Marathon Bisa Picu Kerusakan Ginjal, Kenali Rhabdomyolysis
Menurut Tunggul, rhabdomyolysis sering kali terjadi ketika tubuh dipaksa bekerja terlalu keras tanpa persiapan yang memadai.
"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini adalah para pemula yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik berat. Tidak jarang seseorang langsung berolahraga dengan intensitas tinggi tanpa memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi terlebih dahulu.
"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu [rhabdo terjadi] terutama pada pemula," ujarnya.
Meski demikian, risiko rhabdomyolysis bukan hanya mengintai pelari pemula. Atlet berpengalaman sekalipun tetap bisa mengalaminya jika melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat secara mendadak atau melampaui batas kemampuan tubuh.
"Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.
Lihat Juga : |
Tunggul menambahkan, risiko serupa juga dapat muncul pada olahraga lain yang melibatkan kerja otot dalam intensitas tinggi, termasuk hyrox.
"Menurut saya, itu [hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," ujarnya.
Oleh karena itu, memahami batas kemampuan tubuh dan peka terhadap sinyal kelelahan menjadi hal yang penting selama berolahraga.
Kabar baiknya, rhabdomyolysis yang ditangani dengan cepat umumnya masih dapat dipulihkan. Menurut Tunggul, peluang pemulihan sangat bergantung pada tingkat keparahan cedera ginjal yang terjadi.
"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," jelas Tunggul.
Ia menegaskan, semakin cepat penderita mendapatkan penanganan medis yang sesuai, semakin besar pula peluang fungsi ginjal kembali normal.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google

