Tumpahan Batu Bara Cemari Pantai Pangandaran, Habitat Penyu Terancam

CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 14:15 WIB
Sejumlah area pantai di kawasan Pangandaran tercemar material tumpahan batu bara. (Detikcom/Aldi Nur Fadillah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Area pantai di kawasan Pangandaran tercemar material tumpahan batu bara. Habitat penyu yang ada di sana pun ikut terancam.

Pencemaran salah satunya terjadi di Pantai Sukaresik, Pangandaran yang menghitam gara-gara bocornya kapal tongkang pengangkut batu bara. Air laut hingga area pesisir pantai menghitam.

Tak cuma mencemari pantai, tumpahan batu bara juga mengancam area pusat konservasi penyu di Pantai Batuhiu, Pangandaran.

Pegiat Konservasi Penyu Batuhiu, Ai Giwang Sari menilai, pihak perusahaan lamban dalam melakukan tindakan pembersihan tumpahan batu bara.

Lokasi kejadian sendiri berada di zona konservasi yang dilindungi oleh Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan. Salah satunya merupakan titik pendaratan utama bagi penyu untuk bertelur.

Lebih parah lagi, siklus bertelur penyu terjadi pada akhir bulan ini. Pendaratan induk penyu telah berlangsung sejak Mei lalu hingga Desember mendatang.

"Namun, akibat material batu bara yang terjadi sekarang, saya menduga mereka [penyu] gagal mendarat di sini, bahkan berpotensi mati," ujar Giwang, Selasa (23/6), mengutip detikJabar.

Tumpahan material batu bara, lanjut Giwang, mengandung senyawa asam serta logam berat seperti merkuri yang dikhawatirkan telah merembes dan diserap oleh pasir pantai akibat sapuan ombak. Kondisi ini mengancam keberadaan telur penyu yang sudah tertimbun di dalam pasir.

"Efek buruknya, telur-telur penyu yang berada di sepanjang pesisir dipastikan akan gagal menetas menjadi tukik," ujar dia.

Selain merusak area pendaratan penyu, sebaran limbah juga mengancam area tempat penyu mencari makan dan merusak ekosistem terumbu karang di kawasan Batu Hiu.

Giwang berharap, pemilik kapal tongkang bisa bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan akibat tumpahan batu bara itu.

Cemaran batu bara di Pangandaran mengancam habitat penyu. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

Sementara itu, hingga saat ini pengelola tongkang batu bara Nautika 22 belum memberikan keterangan jelas terkait bentuk tanggung jawab yang akan diberikan.

External Relation Trans Logistik Perkasa Agus Hermawan mengatakan, langkah pemulihan harus mengacu pada investigasi dan ketentuan yang berlaku.

"Artinya, bentuk tanggung jawab lingkungan itu ada ketentuan mengacu pada Permen Lingkungan. Maka, Kementerian Lingkungan sudah melakukan investigasi," kata dia.

Kapal tongkang yang membawa batu bara itu ditarik kapal Tugboat Titan 22 dari Palembang dengan tujuan Cilacap. Namun di tengah jalan, kapal karam lantaran adanya kebocoran. Perjalanan kapal pun berakhir di Pantai Batukaras pada Selasa (17/6) lalu.

(asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK