Liburan ke Thailand Wajib Isi THIM Mulai Agustus 2026

CNN Indonesia
Senin, 29 Jun 2026 09:45 WIB
Ilustrasi. Liburan ke Thailand, siap-siap isi THIM. (AFP/ANTHONY WALLACE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi wisatawan yang berencana berlibur ke Thailand, proses pemeriksaan imigrasi di bandara kemungkinan akan menjadi lebih cepat dalam waktu dekat. Pemerintah Thailand tengah menyiapkan aplikasi baru bernama Thailand Immigration Management (THIM) yang memungkinkan pelancong mengisi data kedatangan secara digital sebelum berangkat.

Aplikasi tersebut saat ini masih berada dalam tahap uji coba di perangkat iOS dan Android. Peluncuran resminya ditargetkan berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026.

Melalui THIM, pemerintah Thailand ingin memangkas antrean di pos pemeriksaan imigrasi, mengurangi kepadatan di bandara, sekaligus membuat proses administrasi kedatangan menjadi lebih praktis.

Apa itu aplikasi THIM?

Mengutip TimeOut, THIM merupakan aplikasi imigrasi digital yang ditujukan bagi warga negara asing yang akan memasuki Thailand. Melalui aplikasi ini, wisatawan dapat mengisi berbagai informasi yang dibutuhkan sebelum keberangkatan, seperti data paspor, rencana perjalanan, serta alamat akomodasi selama berada di Thailand.

Aplikasi tersebut terintegrasi dengan sistem Thailand Digital Arrival Card (TDAC) yang mulai diterapkan pada 2025. Sebelumnya, TDAC hanya dapat diisi melalui situs web dan telah digunakan oleh lebih dari 10 juta pengunjung internasional.

Dengan hadirnya THIM, proses pengisian data dilakukan langsung melalui aplikasi sehingga lebih praktis dibandingkan sebelumnya.

Salah satu fitur unggulan THIM adalah kemampuan memindai paspor menggunakan kamera ponsel. Teknologi optical character recognition (OCR) berbasis kecerdasan buatan (AI) mampu membaca seluruh informasi penting pada paspor, mulai dari zona yang dapat dibaca mesin (machine-readable zone), halaman identitas, hingga data pada chip elektronik.

Fitur tersebut membuat wisatawan tidak perlu lagi mengetik sebagian besar informasi secara manual, sehingga mengurangi risiko kesalahan pengisian data.

Selain itu, THIM juga mendukung pendaftaran kelompok. Satu akun dapat mengirimkan data hingga 10 orang sekaligus, sehingga memudahkan keluarga atau rombongan yang bepergian bersama.

Bagi wisatawan yang sering berkunjung ke Thailand, aplikasi ini juga memungkinkan penyimpanan profil. Pada perjalanan berikutnya, pengguna hanya perlu memperbarui informasi seperti nomor penerbangan, tempat menginap, atau tanggal kepulangan tanpa harus mengisi ulang seluruh formulir.

Tak perlu lagi menunjukkan QR Code

Melalui sistem baru ini, wisatawan hanya perlu melakukan registrasi lengkap satu kali. Pada kunjungan selanjutnya, proses pembaruan data diperkirakan hanya memerlukan waktu sekitar satu hingga dua menit.

Saat tiba di Thailand, pelancong cukup menyerahkan paspor kepada petugas imigrasi. Data registrasi yang telah diisi melalui THIM akan langsung muncul di sistem setelah paspor dipindai sehingga wisatawan tidak lagi perlu menunjukkan kode QR secara terpisah.

Meski demikian, THIM tidak menggantikan kewajiban pengajuan visa. Wisatawan yang berdasarkan kewarganegaraan atau tujuan perjalanan masih memerlukan visa tetap harus mengajukannya sesuai aturan yang berlaku.

Aplikasi ini juga tidak menggantikan proses izin tinggal jangka panjang maupun kewajiban pelaporan 90 hari bagi warga negara asing yang memang diwajibkan melakukannya.

Salah satu tujuan wisata di Hat Yai, Chang Puak Camp yang menawarkan atraksi gajah. (Foto: CNN Indonesia/Suriyanto)

Ditargetkan layani 30 juta wisatawan

THIM dibangun sepenuhnya menggunakan infrastruktur komputasi awan Amazon Web Services (AWS). Sistem ini dirancang mampu menangani lonjakan data selama musim liburan sekaligus menjaga keamanan informasi pribadi wisatawan melalui enkripsi menyeluruh (end-to-end encryption).

Deputy Commissioner Thailand Immigration Bureau, Pratya Prasarnsuk, mengatakan THIM menjadi langkah penting dalam transformasi digital layanan imigrasi Thailand.

"THIM menempatkan Thailand di garis depan transformasi digital sistem imigrasi di Asia Tenggara melalui platform nasional berbasis seluler. Dengan teknologi cloud, kami berhasil memangkas waktu pemrosesan sekaligus memperkuat kemampuan keamanan nasional," ujarnya mengutip Biometric Update.

Saat ini aplikasi mendukung empat bahasa, yakni Inggris, Rusia, Jepang, dan Mandarin. Pemerintah Thailand berencana menambah sedikitnya 15 bahasa lain pada tahap pengembangan berikutnya.

Ke depan, THIM juga akan dikembangkan menjadi layanan imigrasi digital yang lebih lengkap. Selain pengisian kartu kedatangan, aplikasi ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk pengajuan dokumen, membuat janji layanan imigrasi, hingga mengakses layanan darurat Tourist Police selama 24 jam.

Pemerintah Thailand menargetkan THIM mampu melayani sekitar 30 juta wisatawan internasional setiap tahun, seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Negeri Gajah Putih tersebut.

(tis/tis)


Saksikan Video di Bawah Ini:

Gen Z: Mending Lari daripada Party

KOMENTAR

TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK