15 Museum Hidden Gem di Jakarta, Sepi tapi Sarat Cerita

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 09:00 WIB
Museum di Jakarta yang terbilang jarang dilirik pengunjung. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jakarta selama ini identik dengan Museum Nasional, Museum Fatahillah, atau Museum Bank Indonesia yang hampir selalu dipadati wisatawan. Padahal, di balik museum-museum populer tersebut, ibu kota masih menyimpan banyak destinasi edukatif yang belum banyak diketahui masyarakat.

Museum-museum ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Ada yang mengajak pengunjung menelusuri jejak perjuangan bangsa, mengenal budaya Betawi, melihat karya maestro seni Indonesia, hingga memahami kekayaan hutan Nusantara.

Karena belum terlalu ramai, suasananya pun lebih tenang sehingga pengunjung bisa menikmati setiap koleksi dengan lebih leluasa. Bagi Anda yang sedang mencari alternatif wisata akhir pekan, berikut 15 museum hidden gem di Jakarta yang tak kalah menarik untuk dikunjungi:

1. Museum Kebangkitan Nasional

Museum ini berdiri di bekas gedung School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran pertama bagi pribumi yang menjadi tempat lahirnya banyak tokoh pergerakan nasional. Dari tempat inilah organisasi Boedi Oetomo berdiri pada 1908 dan menjadi tonggak awal Kebangkitan Nasional Indonesia.

Begitu memasuki area museum, pengunjung akan diajak menyusuri ruang kelas, laboratorium, asrama mahasiswa, hingga ruang praktik kedokteran yang masih dipertahankan menyerupai kondisi aslinya. Berbagai alat kesehatan tempo dulu, foto-foto bersejarah, serta dokumentasi perjuangan para mahasiswa STOVIA membuat suasana belajar pada masa kolonial terasa hidup kembali.

Tak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, museum ini juga menceritakan bagaimana pendidikan menjadi salah satu jalan lahirnya kesadaran nasional yang kemudian mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Museum ini bisa dikunjungi di Jl. Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Jakarta Pusat.

2. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Bangunan bergaya kolonial yang berdiri di kawasan Menteng ini merupakan rumah Laksamana Tadashi Maeda, lokasi Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada dini hari 17 Agustus 1945.

Memasuki museum, pengunjung dapat melihat ruang pertemuan tempat para tokoh bangsa berdiskusi sebelum merumuskan proklamasi. Di bagian lain terdapat ruang perumusan yang dilengkapi replika meja dan patung Soekarno, Hatta, serta Ahmad Soebardjo.

Tak jauh dari sana terdapat ruang pengetikan naskah hingga ruang pengesahan yang menjadi saksi perjalanan lahirnya Indonesia merdeka. Museum ini juga menyimpan berbagai foto dokumentasi, arsip perjuangan, perpustakaan, hingga bunker bawah tanah yang jarang diketahui pengunjung.

Suasana bangunannya yang masih mempertahankan arsitektur kolonial membuat pengalaman menyusuri museum terasa semakin berkesan. Mseum ini berada di Jl. Imam Bonjol No.1, Menteng, Jakarta Pusat.

3. Museum Gedung Joang '45

Museum ini dulunya menjadi tempat berkumpul para tokoh pergerakan nasional menjelang kemerdekaan Indonesia. Kini, berbagai koleksi sejarah seperti foto dokumentasi, senjata, artefak perjuangan, hingga kendaraan bersejarah dipamerkan untuk mengenang perjalanan bangsa menuju kemerdekaan.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah kendaraan dinas Presiden Soekarno yang masih terawat dengan baik. Selain itu, museum juga memiliki ruang pamer yang menceritakan dinamika perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah.

Menariknya lagi, museum ini dapat dikunjungi secara gratis sehingga menjadi salah satu pilihan wisata sejarah yang ramah di kantong. Berada di Jl. Menteng Raya No.31, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

4. Museum Sumpah Pemuda

Museum yang berada di Jalan Kramat Raya ini dulunya merupakan tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II. Begitu memasuki area museum, pengunjung akan disambut patung-patung para pemuda yang menggambarkan suasana kongres saat itu.

Di ruang utama, terdapat diorama serta berbagai koleksi yang menceritakan proses lahirnya Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan bangsa. Tak jauh dari sana terdapat ruang khusus yang mengenang Wage Rudolf Soepratman, lengkap dengan kisah perjuangannya menciptakan lagu Indonesia Raya.

Museum ini juga memiliki ruang pamer berisi berbagai kutipan perjuangan para tokoh bangsa yang masih relevan hingga sekarang. Bagi generasi muda, museum ini menjadi tempat yang tepat untuk memahami bagaimana semangat persatuan lahir dari perbedaan.

Museum Sumpah Pemuda merupakan sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)

5. Museum Satria Mandala

Berbeda dengan museum sejarah pada umumnya, Museum Satria Mandala mengajak pengunjung mengenal perjalanan Tentara Nasional Indonesia dari masa revolusi hingga era modern.

Berlokasi di kawasan Gatot Subroto, museum ini menyimpan berbagai koleksi persenjataan, kendaraan tempur, tank, helikopter, pesawat, hingga kapal perang yang pernah digunakan dalam berbagai operasi militer.

Sebelum memasuki gedung utama, pengunjung akan disambut deretan alutsista berukuran besar yang dipajang di area luar museum. Sementara di dalam gedung, terdapat diorama perjuangan TNI, koleksi seragam militer dari berbagai zaman, hingga dokumentasi operasi-operasi penting dalam sejarah Indonesia.

Tak hanya menarik bagi pencinta sejarah, museum ini juga menjadi destinasi favorit keluarga karena anak-anak dapat melihat secara langsung berbagai kendaraan tempur yang sebelumnya hanya mereka lihat di televisi atau buku pelajaran.

6. Museum Benyamin Suaeb

Nama Benyamin Suaeb sudah melekat sebagai salah satu ikon budaya Betawi. Kariernya sebagai aktor, penyanyi, pelawak, hingga budayawan membuat sosoknya dikenang lintas generasi. Untuk mengenang perjalanan hidupnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendirikan Museum Benyamin Suaeb di kawasan Jakarta Timur.

Bangunan museum memadukan konsep heritage dengan sentuhan khas Betawi. Halaman yang dipenuhi pepohonan membuat suasananya terasa teduh sejak pertama kali pengunjung datang.

Di dalam museum tersimpan berbagai benda pribadi milik Benyamin, mulai dari pakaian, alat musik, foto-foto perjalanan karier, penghargaan, hingga berbagai memorabilia yang menjadi saksi kiprahnya di dunia hiburan Indonesia.

Tak sekadar mengenang sosok Benyamin, museum ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya Betawi kepada generasi muda. Pengunjung dapat melihat bagaimana Benyamin menjadikan seni sebagai media untuk melestarikan identitas masyarakat Betawi.

Museum ini berada di Jl. Bekasi Timur Raya, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur.

Biang Kerok' di area Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Rabu (5/6/2024). (CNN Indonesia/Ramadhan Nur Fadillah)" title="Memorabilia Benyamin Sueb 'Biang Kerok'" />Pameran arsip Benyamin Sueb 'Biang Kerok' di area Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Rabu (5/6/2024). (CNN Indonesia/Ramadhan Nur Fadillah) 

7. Museum Betawi

Tak lengkap rasanya berbicara tentang Jakarta tanpa mengenal masyarakat Betawi sebagai penduduk asli ibu kota. Jika ingin memahami budaya Betawi lebih dekat, Museum Betawi bisa menjadi pilihan.

Museum yang berada di kawasan Jagakarsa ini dirancang sebagai etalase budaya Betawi. Begitu memasuki ruang pamer, pengunjung akan disuguhi berbagai koleksi pakaian adat, alat musik tradisional, miniatur rumah Betawi, hingga beragam perlengkapan rumah tangga yang digunakan masyarakat Betawi pada masa lalu.

Yang menarik, museum ini tak hanya menghadirkan koleksi benda, tetapi juga berbagai aktivitas interaktif sehingga pengunjung dapat belajar budaya dengan cara yang lebih menyenangkan.

Arsitektur bangunannya yang megah berpadu dengan interior modern membuat museum ini terasa berbeda dari museum sejarah pada umumnya. Tempat ini cocok menjadi destinasi keluarga maupun pelajar yang ingin mengenal sejarah dan budaya Jakarta secara lebih mendalam.

8. Museum Basuki Abdullah

Bagi pencinta seni rupa, Museum Basuki Abdullah adalah hidden gem yang tak boleh dilewatkan.

Museum ini merupakan bekas rumah pribadi pelukis legendaris Basuki Abdullah yang kemudian diubah menjadi museum. Suasananya terasa begitu personal karena sebagian besar ruangan masih mempertahankan nuansa rumah tinggal sang maestro.

Di lantai pertama, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi pribadi Basuki Abdullah, seperti wayang, patung, perlengkapan melukis, pakaian, buku-buku, hingga ruang memorial yang menyimpan kisah akhir hidupnya.

alt="" title="SANG PANGERAN DALAM INGATAN BANGSA" />"Pangeran Diponegoro Memimpin Pertempuran" karya Basuki Abdullah tahun 1950 pada pameran "Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa" di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2015. Pameran ini memajang sejumlah karya perupa dan koleksi museum yang terkait dengan Pangeran Diponegoro serta perupa yang mengintepretasikan Diponegoro dalam multi karya seni rupa. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Sementara itu, lantai dua dipenuhi puluhan lukisan karya Basuki Abdullah dengan berbagai tema, mulai dari panorama alam Indonesia, potret tokoh nasional, hingga karya-karya bernuansa romantis yang menjadi ciri khasnya.

Museum ini juga memiliki perpustakaan yang menyimpan ribuan koleksi buku seni sehingga cocok bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan salah satu maestro seni lukis Indonesia.

Museum ini berada di Jl. Keuangan Raya No.19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

15 Museum Hidden Gem di Jakarta, Sepi tapi Sarat Cerita


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :