Jangan Dibiasakan, Ini 5 Efek Buruk 'Dry Texting' pada Hubungan
Sesekali atau dalam kondisi tertentu, membalas pesan hanya dengan satu kata sebenarnya boleh-boleh saja. Tapi, jangan dibiasakan terus-menerus.
Kebiasaan mengirim pesan singkat itu dikenal dengan istilah 'dry texting'. Sering kali, kebiasaan ini diidentikkan dengan sesuatu yang membosankan.
Menukil laman Mosaic Chats, ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan dry texting. Salah satu yang paling sering adalah kesibukan.
Selain itu, orang introvert juga disebut cenderung melakukan dry texting. Mereka umumnya tak suka dengan basa-basi.
Yang lebih parah, dry texting juga disebut-sebut bisa memperlihatkan kurangnya minat seseorang terhadap percakapan yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, mereka boleh jadi sedang mencoba menarik diri.
Namun, psikolog menyarankan siapa pun untuk menghindari kebiasaan dry texting. Pasalnya, jenis pesan seperti ini dapat membuat lawan bicara merasa tidak nyaman.
"Dry texting adalah serangkaian perilaku mengirim pesan teks yang dapat membuat seseorang tampak tidak tertarik atau tidak ingin terlibat," ujar psikolog Amelia Kelley, mengutip Parade.
Ada beberapa dampak dry texting pada hubungan yang bisa terjadi. Berikut di antaranya.
1. Menghancurkan hubungan
Pesan teks yang hambar bisa mengganggu keharmonisan hubungan. Dry text membuat 'api' terasa semakin mengecil.
Psikolog Denitrea Vaughan mengatakan, dry text bisa menghilangkan harapan akan tumbuhnya sebuah hubungan, baik itu hubungan romantis atau persahabatan.
"Karena Anda tidak memberi orang tersebut kesempatan untuk mengenal diri Anda pada tingkat yang lebih intim," ujarnya.
2. Menyakiti orang lain
Menyadari bahwa seseorang tidak punya keinginan dan usaha yang sama dalam menjaga hubungan akan terasa menyakiti.
"Dry text dapat disalahartikan atau tampak seolah-olah pengirim pesan tidak peduli," ujar Kelley.
3. Tidak terkesan profesional
Hindari dry texting dalam dunia kerja. Alih-alih mengirim pesan singkat, Kelly menyarankan Anda untuk membuat pesan yang lebih bijaksana.
"Dalam hubungan profesional, itu [dry texting] bukan ide yang baik," ujar dia.
Mengirim pesan singkat memberikan kesan bahwa Anda tidak mau meluangkan waktu untuk orang tersebut atau tidak peduli akan apa yang mereka butuhkan.
4. Terkesan kasar
Dry texting sama saja dengan bersikap kasar secara langsung. Hal ini bisa menyinggung perasaan lawan bicara.
"Terutama jika lawan bicara meluangkan lebih banyak waktu untuk mengekspresikan diri," ujar Kelley.
5. Komunikasi tidak jelas
Komunikasi yang sehat dan jelas punya peran penting dalam hubungan. Sementara pesan teks berpotensi memicu kesalahpahaman.
Kesalahpahaman akan makin terjadi dengan kebiasaan dry texting.
"Sulit untuk sepenuhnya menilai perasaan orang lain tanpa nada atau ekspresi. Jadi, kata-kata adalah satu-satunya yang diandalkan saat mengirim pesan teks," ujar Kelley.
(asr/asr)