Turis Membeludak, Taman Monyet Salju Jepang Ini Batasi Pengunjung
Gara-gara pengunjung yang membeludak ditambah perilaku turis yang buruk, sebuah taman yang dikenal dengan 'monyet salju' di Jepang ini terpaksa membatasi jumlah kunjungan harian.
Selain lonjakan pengunjung, perilaku buruk turis juga tak bisa dibendung. Salah satunya, mencoba ikut berendam bersama para monyet di kolam mata air panas.
Taman tersebut, yakni Taman Jigokudani Yaen-Koen di wilayah Nagano tengah. Tempat wisata ini terletak di lembah dengan ketinggian 850 meter atau hampir 2.800 kaki di atas permukaan laut.
Jigokudani dihuni oleh para monyet makaka Jepang liar. Mereka kerap mandi di kolam mata air panas alami vulkanik di sana.
Pada musim dingin, ketika suhu sedang rendah dan bersalju, banyak monyet yang terlihat berendam di kolam mata air panas hingga berjam-jam.
Taman ini menjadi satu-satunya tempat di dunia yang menawarkan pemandangan monyet berendam di kolam air panas. Jadi, tak heran kalau Jigokudani disebut sebagai 'surga monyet.'
Dalam beberapa tahun belakangan, Jigokudani mengalami lonjakan jumlah turis yang sebagian besar berasal dari mancanegara. Dalam sehari, pengunjung bisa mencapai 3.000-4.000 orang kata seorang pengelola taman yang menolak disebutkan namanya.
"Kami telah melihat antrean pengunjung yang sangat panjang menunggu di luar loket tiket. Untuk mengurangi hal itu, kami akan meminta mereka membeli tiket terlebih dahulu" kata pengelola tersebut, seperti dilansir AFP.
Perubahan ke sistem pemesanan tiket secara online akan dimulai pada Agustus mendatang. Adapun jumlah kunjungan diperkirakan dibatasi jadi 2.000 orang per hari.
Pihak pengelola mempertimbangkan peningkatan jumlah kunjungan memicu insiden perilaku buruk turis. Misalnya, mencoba memberi makan atau menyentuh monyet.
Beberapa turis bahkan mencoba berendam di kolam mata air panas bersama para monyet, kata pengelola tersebut.
Tak hanya Jigokudani, berbagai tempat wisata populer juga melaporkan keluhan terkait padatnya pengunjung. Di Kyoto, ada beberapa turis yang dianggap tidak sopan dan mengganggu para penari geisha berkimono karena berupaya untuk minta berfoto.
Lalu pada Februari lalu, festival bunga sakura di Fujiyoshida yang menawarkan pemandangan indah Gunung Fuji, terpaksa dibatalkan setelah penduduk setempat mengeluh 'kehidupan tenang' mereka terancam.
Kota Fujiyoshida kewalahan akibat kemacetan lalu lintas yang parah, puntung rokok dibuang sembarangan, pelanggaran batas wilayah, bahkan banyak orang buang air besar di halaman pribadi warga.
Kepadatan pengunjung di Jepang ini tak lepas dari meningkatnya jumlah wisatawan pada 2025 lalu yang mencapai 42,7 juta orang. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Nilai yen yang lemah membuat turis mancanegara tertarik untuk datang ke Negeri Sakura ini.
(rti)