'Pria Akan Membuncit pada Waktunya', Apa Sebabnya?
Ada anggapan yang cukup akrab di masyarakat, semakin bertambah usia, semakin besar pula peluang seorang pria memiliki 'perut bapak-bapak' alias buncit.
Tak sedikit pria yang tubuhnya masih tergolong normal, tetapi bagian perutnya mulai menonjol. Kondisi ini sering kali dianggap sekadar akibat terlalu banyak makan atau kurang berolahraga.Sebenarnya, kenapa perut bapak-bapak lebih mudah buncit?
1. Pria memang lebih mudah menyimpan lemak di perut
Mengutip penelitian dari National Institutes of Health (NIH), secara biologis tubuh pria lebih cenderung menyimpan lemak di area perut, terutama dalam bentuk lemak visceral.
Lemak visceral adalah lemak yang tersimpan di sekitar organ-organ dalam, seperti hati, pankreas, dan usus. Berbeda dengan lemak di bawah kulit (subcutaneous fat), lemak visceral berada lebih dalam dan lebih aktif secara metabolik.
Karena itulah, pria lebih sering memiliki bentuk tubuh menyerupai apel, yakni tangan dan kaki relatif ramping, tapi perutnya maju.
Sebaliknya, perempuan sebelum menopause cenderung menyimpan lebih banyak lemak di bawah kulit, terutama di area pinggul dan paha.
2. Usia bertambah, testosteron perlahan menurun
Memasuki usia paruh baya, tubuh pria mengalami berbagai perubahan. Massa otot mulai berkurang, sementara kadar hormon testosteron perlahan menurun.
Kadar testosteron yang rendah ini pun berkaitan dengan peningkatan lemak visceral.
Sebaliknya, penumpukan lemak visceral juga dapat ikut menurunkan kadar testosteron. Akibatnya, lingkar perut bertambah sementara massa otot terus berkurang.
3. Terlalu banyak duduk
Gaya hidup modern juga ikut berkontribusi. Banyak pria menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di depan komputer, berkendara, atau bekerja tanpa banyak bergerak. Aktivitas fisik pun sering kali terbatas setelah pulang bekerja.
Studi dari BMC Public Health menemukan bahwa pekerjaan yang bersifat sedentari atau minim aktivitas fisik berhubungan dengan meningkatnya risiko obesitas abdominal, termasuk pada pria.
4. Kelebihan kalori tetap menjadi penyebab utama
Meski faktor hormon dan distribusi lemak berperan, penyebab paling mendasar tetap sama, yakni tubuh menerima lebih banyak energi dibanding yang dibakar.
Kelebihan kalori dapat berasal dari porsi makan yang berlebihan, camilan tinggi gula dan lemak, gorengan, minuman manis, makan malam dalam porsi besar, hingga kurangnya aktivitas fisik.
5. Alkohol juga bisa ikut berperan
Alkohol mengandung kalori yang cukup tinggi dan dapat memengaruhi metabolisme lemak. Pada sebagian orang, kebiasaan mengonsumsi alkohol juga kerap disertai pola makan yang kurang sehat dan aktivitas fisik yang minim.
Perut buncit sendiri bukan hanya persoalan penampilan. Yang perlu diwaspadai adalah penumpukan lemak visceral di baliknya.
Berbeda dengan lemak di bawah kulit, lemak visceral mengelilingi organ-organ vital dan lebih aktif menghasilkan berbagai senyawa yang berkaitan dengan gangguan metabolisme.
Penelitian di Indonesia dalam jurnal PLOS ONE menunjukkan, obesitas abdominal, yang mencerminkan penumpukan lemak visceral, memiliki hubungan yang lebih kuat dengan risiko penyakit kardiovaskular dibanding obesitas umum yang diukur menggunakan indeks massa tubuh (BMI).
Ini berarti seseorang bisa saja tidak terlihat terlalu gemuk, tetapi tetap memiliki risiko kesehatan yang meningkat jika lingkar perutnya terus bertambah.
(anm/asr)