Ziarah Taman Prasasti, Sejarah Batavia yang Berbaring di Batu Nisan

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Sabtu, 11 Jul 2026 16:20 WIB
Museum Taman Prasasti, Selasa (7/7)
Suasana Museum Taman Prasasti, Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici)

Salah satu monumen yang juga cukup mencolok adalah makam Pastor H. van der Grinten. Patung pastor berjubah yang menjulang di atas pedestal tinggi membuatnya mudah dikenali di antara deretan nisan lainnya.

Ada juga monumen yang paling unik adalah nisan bertuliskan Hier Rusten yang dihiasi bentuk alat musik lira (lyre). Dalam bahasa Belanda, Hier Rusten berarti 'di sini beristirahat'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berjalan di antara makam-makam tua membuat mata pun beberapa kali berhenti pada kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang masih terukir jelas.
Salah satunya berbunyi Onze Lieveling, yang berarti 'kesayangan kami' atau 'anak tercinta kami'.

Kalimat sederhana itu membuat makam-makam tersebut terasa lebih personal. Di balik nama dan tahun kematian, ada keluarga yang pernah berduka dan meninggalkan ungkapan terakhir untuk orang yang mereka cintai.

Nama-nama yang masih dikenang

Museum ini juga menjadi tempat mengenang sejumlah tokoh yang pernah hidup di Batavia.

Salah satunya adalah Olivia Mariamne Raffles, istri Thomas Stamford Raffles. Monumennya berada tidak jauh dari gerbang penghubung menuju Kantor Walikota Jakarta Pusat dan tampak berbeda karena dikelilingi pagar besi berwarna hijau.

Museum Taman Prasasti, Selasa (7/7)Suasana Museum Taman Prasasti, Jakarta. (CNN Indonesia/ Angela Merici Keraf)

Menurut pengelola museum, yang berada di lokasi saat ini merupakan prasasti atau penanda makam.

Selain Olivia, ada pula penanda untuk aktivis Soe Hok Gie. Bentuknya jauh lebih sederhana dibanding monumen-monumen lain karena jenazahnya telah dikremasi setelah pemindahan makam dilakukan.

Di area lain terdapat sebuah batu bertuliskan aksara Hanzi. Batu tersebut menjadi penanda keberadaan komunitas Tionghoa di Batavia. Menunjukkan bahwa museum ini tidak hanya menyimpan jejak masyarakat Eropa, tetapi juga sejarah panjang komunitas Tionghoa di Jakarta.

Beberapa makam menyimpan simbol-simbol yang menarik untuk diperhatikan. Salah satunya adalah makam yang dijaga dua patung singa. Dalam berbagai tradisi, guardian lions melambangkan perlindungan, kewibawaan, penjaga arwah, sekaligus penolak roh jahat.

Pada makam yang sama juga terukir kalimat "Sudah selesai" atau "Telah tergenapi", kutipan dari Injil Yohanes 19:30 yang merupakan ucapan terakhir Yesus di kayu salib.

Perpaduan simbol Kristen dengan ornamen singa bergaya Tionghoa memperlihatkan bagaimana berbagai budaya pernah bertemu dan saling memengaruhi di Batavia.

Bukan hanya makam

Museum Taman Prasasti ternyata tidak hanya menyimpan nisan. Di salah satu bangunan terdapat peti jenazah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang digunakan dalam prosesi pemakaman kenegaraan.

Ada pula kereta jenazah atau hearse yang dahulu dipakai mengangkut jenazah menuju kompleks pemakaman, lengkap dengan lonceng yang berfungsi sebagai penanda datangnya iring-iringan pemakaman.

Koleksi-koleksi itu memperlihatkan bahwa museum ini bukan sekadar bercerita tentang kematian, tetapi juga tradisi, ritual, dan perjalanan sejarah Indonesia dari masa kolonial hingga setelah kemerdekaan.

Di akhir kunjungan, tak lupa mampir untuk mengumpulkan cap atau museum stamp sebagai penanda bahwa kamu pernah singgah di Museum Taman Prasasti.

(asr/asr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2