Mengidap Neurocysticercosis, 38 Parasit Bersarang di Otak Wanita Ini
Seorang wanita asal Inggris mengalami peristiwa yang sulit dipercaya. Setelah cacing pita sepanjang sekitar satu meter keluar dari tubuhnya saat buang air besar, ia didiagnosis mengidap neurocysticercosis, yakni infeksi otak akibat larva cacing pita babi atau Taenia solium.
Wanita 43 tahun bernama Lowri Denman itu awalnya mengira masalahnya telah selesai setelah cacing pita keluar dari tubuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sekitar setahun kemudian ia mulai mengalami sakit kepala hebat, kejang mendadak, hingga harus menjalani pemeriksaan CT scan dan MRI seperti yang dikutip dari detikHealth, Rabu (9/7).
Berdasarkan hasil pemeriksaan, ada 38 parasit yang bersarang di otaknya. Dokter spesialis penyakit menular yang menanganinya menduga Lowri kemungkinan terpapar telur cacing pita saat berlibur ke India melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Kondisinya sempat memburuk akibat pembengkakan otak di sekitar parasit. Selain kejang dan sakit kepala, Lowri juga mengalami gangguan kesehatan mental berupa kecemasan berat, paranoia, psikosis, hingga perubahan perilaku seperti anak kecil.
Lantas, bagaimana cacing pita bisa sampai ke otak?
Melansir World Health Organization (WHO), neurocysticercosis tidak terjadi karena seseorang memakan daging babi yang mengandung larva cacing pita.
Infeksi justru terjadi ketika seseorang tanpa sengaja menelan telur cacing pita Taenia solium melalui makanan, minuman, atau tangan yang terkontaminasi tinja manusia yang mengandung telur cacing.
Setelah masuk ke saluran pencernaan, telur akan menetas di usus. Larva kemudian menembus dinding usus, masuk ke aliran darah, dan dapat menyebar ke berbagai organ, termasuk otak.
Di dalam otak, larva membentuk kista yang bisa bertahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan keluhan. Masalah biasanya muncul ketika kista mulai mati atau memicu peradangan sehingga sistem kekebalan tubuh bereaksi.
Mengapa bisa menyebabkan kejang hingga psikosis?
Gejala neurocysticercosis bergantung pada jumlah kista, ukuran, lokasi di otak, serta respons imun masing-masing orang.
Mengutip studi dari The Lancet Neurology, kondisi ini merupakan salah satu penyebab paling umum epilepsi yang didapat (acquired epilepsy) di banyak negara berkembang.
Gejala yang paling sering muncul meliputi kejang, sakit kepala hebat, peningkatan tekanan di dalam otak, gangguan penglihatan, hingga gangguan keseimbangan.
Pada sebagian pasien, terutama bila terjadi pembengkakan otak atau kista berada di area tertentu, dapat muncul gangguan kejiwaan seperti perubahan kepribadian, kecemasan, depresi, halusinasi, hingga psikosis.
Menurut para peneliti, gangguan tersebut terjadi akibat kombinasi peradangan pada jaringan otak, peningkatan tekanan di dalam kepala, serta terganggunya fungsi area otak yang terdampak kista.
WHO menyebut neurocysticercosis sebenarnya dapat dicegah dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman, mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet, serta memastikan sanitasi lingkungan tetap baik.
Selain itu, daging juga perlu dimasak hingga benar-benar matang untuk mencegah infeksi cacing pita. Meski demikian, perlu diingat bahwa neurocysticercosis sendiri lebih sering terjadi akibat tertelannya telur cacing dari lingkungan yang terkontaminasi, bukan karena mengonsumsi daging babi yang kurang matang.
Karena itu, kebersihan diri dan keamanan pangan menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit yang dalam kasus tertentu dapat menimbulkan gangguan saraf hingga perubahan perilaku seperti yang dialami Lowri.
(anm/fef) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
