Kebanyakan Screen Time? Hati-Hati Kena Popcorn Brain

CNN Indonesia
Jumat, 10 Jul 2026 09:15 WIB
Merasa susah fokus setelah multitasking buka platform ini itu di gadget? Bisa jadi kamu mengalami popcorn brain. Tenang, ada cara untuk mengatasinya.
Ilustrasi. Merasa susah fokus setelah multitasking buka platform ini itu di gadget? Bisa jadi kamu mengalami popcorn brain. Tenang, ada cara untuk mengatasinya. (iStockphoto/Kateryna Kukota)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau kamu pernah merasa susah fokus setelah terlalu lama scrolling media sosial di gadget, bisa jadi kamu sedang mengalami popcorn brain. Ketika mengalaminya, pikiranmu jadi lompat ke mana-mana, sulit diam, dan rasanya ingin terus mengecek notifikasi tanpa henti.

Meski bukan istilah medis resmi, fenomena ini mulai sama pentingnya dengan 'brain rot' karena sangat dekat dengan kebiasaan screen time kita sehari-hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau dibiarkan, popcorn brain bisa membuat kita cepat lelah secara mental, sulit konsentrasi, dan susah menikmati momen offline.

Bagaimana popcorn brain bisa terjadi?

Mengutip Mayo Clinic Press, popcorn brain adalah kondisi saat seseorang menjadi sangat mudah terdistraksi akibat paparan konten digital yang berlebihan.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kebiasaan otak yang terus berpindah dari satu tugas ke tugas lain, seperti sedang "loncat-loncat" tanpa jeda. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti membaca, bekerja, atau bahkan mengobrol langsung terasa lebih sulit dilakukan.

Istilah ini awalnya diperkenalkan oleh David M. Levy, seorang ilmuwan komputer dari University of Washington. Ia menggambarkannya sebagai keadaan ketika seseorang terlalu terpikat pada multitasking elektronik, sehingga kehidupan offline terasa kurang menarik.

Paparan notifikasi, video pendek, dan feed media sosial yang terus-menerus, membuat otak terbiasa menerima rangsangan instan.

Setiap like, komentar, atau pesan baru memberi dorongan kepuasan cepat yang memicu sistem reward di otak. Otak pun belajar untuk terus mencari 'hadiah' kecil tersebut.

Kebiasaan ini akhirnya mendorong multitasking yang sebenarnya tidak bisa membuat orang fokus.

"Ini menyebabkan rentang perhatian yang lebih pendek, di mana menjadi lebih sulit untuk fokus pada apa pun selama lebih dari beberapa menit pada satu waktu," kata ahli neuropsikologi Sanam Hafeez, seperti diberitakan Business Insider.

Misalnya, kamu sedang membalas email, lalu pindah membuka marketplace, kemudian mengecek berita, lalu kembali ke email lagi. Pola seperti ini membuat perhatian terpecah dan otak bekerja lebih keras dari yang seharusnya.

Desain platform penyedia konten digital agar kamu stay lebih lama di layanan mereka juga bisa menjadi pemicu popcorn brain.

Algoritma memilihkan konten yang sesuai minatmu, lalu menyajikannya dalam format yang cepat, singkat, dan mudah dikonsumsi. Lama-kelamaan, otak jadi terbiasa dengan stimulasi cepat dan kehilangan toleransi terhadap aktivitas yang lebih lambat.

"Dalam jangka panjang, stimulasi berlebihan ini dapat membuat kita merasa lelah secara mental dan kurang mampu berpikir mendalam atau berkreasi," ujar Hafeez.

Cara Mengatasi Popcorn Brain

Kabar baiknya, popcorn brain bisa dilatih agar kembali fokus. Langkah pertama, yakni sadar kamu mengalaminya.

Kesadaran ini penting karena perubahan perilaku lebih mudah dilakukan ketika kita memahami masalahnya. Adapun langkah lain yang bisa kamu lakukan, yaitu sebagai berikut:

  • Coba biasakan mindfulness, yaitu hadir penuh pada momen sekarang tanpa menghakimi. Salah satu latihan sederhananya adalah body scan dengan cara duduk tenang, pejamkan mata, atur napas, lalu perhatikan sensasi di tubuh dari kepala hingga kaki.
  • Ciptakan lingkungan yang lebih tenang dan terarah. Matikan notifikasi yang tidak penting, gunakan satu perangkat dalam satu waktu, dan coba 'puasa' media sosial dalam beberapa waktu.
  • Jika sedang butuh bekerja dengan fokus, gunakan teknik Pomodoro, yakni bekerja 25 menit lalu istirahat 5 menit agar fokus lebih terjaga.
  • Buatlah to-do list saat pikiran terasa berantakan. Daftar ini bisa memberi struktur dan membuatmu lebih mudah mengerjakan satu hal dalam satu waktu.
  • Ambil 5-10 menit untuk menarik napas dalam atau mendengarkan musik yang menenangkan sebelum mulai bekerja.

Popcorn brain menjadi tanda yang perlu diwaspadai bahwa otakmu mungkin terlalu sering menerima rangsangan digital tanpa jeda. Jadi, coba cek berapa lama screen time kamu dalam sehari. Jika jumlahnya sampai berjam-jam, waspadalah, kamu bisa saja alami popcorn brain!

(rti) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]