Indonesia Peringkat Kedua Kasus Gagal Jantung di Asia, Ini Penyebabnya
Penyakit gagal jantung masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Selain jumlah penderitanya terus meningkat, banyak pasien juga harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit akibat kondisi yang memburuk setelah sebelumnya dinyatakan stabil.
Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD), Indonesia menjadi negara dengan prevalensi gagal jantung tertinggi kedua di Asia setelah China. Indonesia berada di atas sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Malaysia yang menempati peringkat ketiga.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, mengatakan tingginya angka gagal jantung di Indonesia merupakan akumulasi berbagai penyakit kronis dan faktor risiko yang tidak dikendalikan sejak dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gagal jantung merupakan manifestasi akhir dari suatu penyakit jantung. Jadi, ini adalah akumulasi dari banyak hal yang akhirnya berkembang menjadi gagal jantung," kata Rony dalam Media Gathering Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (14/7).
Menurut Rony, tingginya kasus gagal jantung menjadi persoalan serius karena tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan angka rawat ulang di rumah sakit.
Hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, efek samping kemoterapi, hingga komplikasi kehamilan dapat menyebabkan penurunan fungsi pompa jantung apabila tidak ditangani dengan baik.
Faktor risiko tidak terkendali
Rony menjelaskan, salah satu penyebab tingginya angka gagal jantung di Indonesia adalah rendahnya pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Ia mencontohkan hipertensi yang dibiarkan selama bertahun-tahun akan membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Seiring waktu, kondisi tersebut dapat melemahkan otot jantung hingga berujung pada gagal jantung.
"Kalau faktor risikonya tidak dikontrol dengan baik, akhirnya menjadi gagal jantung. Kebanyakan orang Indonesia faktor risiko penyakit kardiovaskularnya tidak dijaga," ujarnya.
Selain hipertensi, diabetes yang tidak terkontrol juga dapat merusak metabolisme sel otot jantung atau dikenal sebagai diabetic cardiomyopathy. Kadar gula darah yang terus tinggi secara perlahan menurunkan kemampuan otot jantung dalam memompa darah.
Rony juga menyoroti pola makan tinggi garam dan lemak yang masih umum dijumpai di masyarakat. Kebiasaan tersebut meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyumbatan pembuluh darah koroner. Ketika aliran darah menuju otot jantung terganggu, sebagian jaringan jantung dapat mengalami kerusakan permanen.
"Kolesterol tinggi akhirnya menjadi penyakit jantung koroner, yang kemudian berkembang menjadi gagal jantung," katanya.
Di sisi lain, kepatuhan menjalani pengobatan juga masih menjadi tantangan. Menurut Rony, tidak sedikit pasien hipertensi maupun diabetes yang menghentikan konsumsi obat setelah merasa kondisinya membaik. Padahal, hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga dijuluki sebagai silent killer.
"Orang Indonesia kurang patuh. Sudah tidak ada keluhan, obatnya berhenti, padahal itu yang seharusnya dijaga sejak awal," jelasnya.
Ia menegaskan pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk menekan angka gagal jantung di Indonesia.
Gaya hidup turut memengaruhi
Selain faktor genetik, Rony mengatakan gaya hidup masyarakat Indonesia juga berkontribusi terhadap tingginya kasus gagal jantung. Pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta rendahnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini membuat banyak penyakit jantung baru terdiagnosis ketika kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
"Lifestyle di Indonesia sangat berpengaruh, ditambah faktor genetik, kondisi sosial, ekonomi, dan pengetahuan masyarakat, akhirnya prevalensi gagal jantung menjadi tinggi," pungkasnya.
(anm/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

