LAPORAN DARI PARIS

Warisan Sang 'Raja Mutiara' Bersinar lewat L'eclat di Paris

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Kamis, 16 Jul 2026 13:15 WIB
Rumah perhiasan asal Jepang Mikimoto memamerkan koleksi mutiaranya yang bersinar di Paris Couture Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah hiruk-pikuk Paris Couture Week, perhatian tidak hanya tertuju pada gaun-gaun adibusana. Di Place Vendôme, alun-alun di jantung Kota Paris yang selama lebih dari satu abad menjadi pusat industri perhiasan paling prestisius di dunia, Mikimoto memperkenalkan koleksi high jewellery terbarunya, L'éclat.

Koleksi ini menjadi sebuah penghormatan terhadap mutiara dan sejarah panjang rumah perhiasan asal Jepang tersebut, sekaligus perjalanan inovasi yang mengubah industri perhiasan dunia.

Koleksi high jewellery terbaru ini mengangkat cahaya sebagai sumber inspirasi. Sesuai namanya, L'éclat, yang berarti 'kilau', Mikimoto mengeksplorasi bagaimana cahaya dipantulkan oleh permukaan mutiara, menghasilkan gradasi warna yang lembut sekaligus dramatis.

Pemilihan Place Vendôme bukanlah sebuah kebetulan. Kawasan ini dikenal sebagai rumah bagi sejumlah maison perhiasan paling bergengsi di dunia, mulai dari Cartier hingga Van Cleef & Arpels. Kehadiran Mikimoto di Place Vendôme juga menunjukkan bahwa warisan mutiara Jepang kini berdiri sejajar dengan jenama high jewellery Eropa yang telah lama mendominasi industri ini.

Kalung utama dalam koleksi ini memadukan White South Sea cultured pearls dengan tourmaline hijau, zamrud, dan safir biru. Kontras antara putih mutiara dan spektrum warna batu mulia menciptakan permainan cahaya yang terus berubah ketika dikenakan.

Eksplorasi tersebut berlanjut pada kalung dan anting dengan komposisi geometris yang memanfaatkan berlian dalam berbagai potongan. Garis-garis tegas dipadukan dengan lengkungan lembut sehingga menghasilkan ritme visual yang menggambarkan penyebaran cahaya.

Pada rancangan lain, spiral berlian berpadu dengan gradasi biru dan putih. Ada juga sebuah head jewellery yang terinspirasi gugusan galaksi mengikuti kontur kepala hingga garis rambut. Hal ini menunjukkan presisi pengerjaan yang menjadi ciri khas rumah perhiasan Mikimoto.

Namun, kekuatan utama Mikimoto tetap berada pada mutiaranya. Warisan tersebut berakar pada sosok Kokichi Mikimoto yang pada 1893 berhasil menciptakan mutiara budidaya pertama di dunia. Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perhiasan karena sebelumnya, mutiara alami merupakan komoditas yang sangat langka. Di alam liar, kurang dari satu dari seribu tiram mampu menghasilkan mutiara selama hidupnya, menjadikannya hanya dapat dimiliki kalangan bangsawan.

Melalui teknik budidaya yang dikembangkannya, Kokichi Mikimoto berhasil menghasilkan mutiara dengan kualitas tinggi secara berkelanjutan tanpa menghilangkan keindahan alaminya. Cita-cita Mikimoto juga sederhana, namun visioner:

"Impian saya adalah menghiasi leher seluruh perempuan di dunia dengan mutiara."

éclat, sebuah penghormatan terhadap mutiara dan sejarah panjang rumah perhiasan asal Jepang tersebut, sekaligus perjalanan inovasi yang mengubah industri perhiasan dunia." title="Mikimoto Bersinar Lewat L'éclat di Paris" />Rumah perhiasan asal Jepang Mikimoto memamerkan koleksi mutiaranya yang bersinar di Paris Couture Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Proses menghasilkan mutiara berkualitas tinggi pun tidak berlangsung singkat. Dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk membesarkan tiram hingga siap menjalani proses implantasi inti mutiara.

Setelah itu, tiram dikembalikan ke laut dengan arus yang stabil agar lapisan nacre dapat terbentuk secara perlahan. Selama musim dingin, metabolisme tiram melambat sehingga lapisan nacre tumbuh lebih rapat dan menghasilkan kilau yang lebih kaya.

Ketika masa panen tiba, setiap mutiara diambil secara manual sebelum disortir berdasarkan ukuran, bentuk, warna, dan terutama lustre, pantulan cahaya yang menjadi penentu kualitas tertinggi sebuah mutiara.

Mikimoto menggunakan berbagai jenis mutiara budidaya, termasuk Akoya yang menjadi kebanggaan Jepang karena dikenal memiliki kilau tajam, serta White South Sea pearls yang berukuran lebih besar dan berasal dari tiram bibir perak di perairan Australia, Indonesia, Filipina, dan Myanmar. Hanya mutiara Akoya dengan kualitas dan kilau terbaik yang berhak menyandang nama 'Mikimoto Pearl'.

Pada tahun 1927, selama tur di Amerika Serikat dan Eropa, inovasi Kokichi Mikimoto bahkan mendapat pengakuan dari Thomas Edison yang menyebut penemuan tersebut sebagai 'salah satu keajaiban dunia' karena berhasil mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil secara biologis.

Kini, semangat inovasi itu diterjemahkan dalam koleksi yang hanya diproduksi sekali setiap tahun.

"Mikimoto hanya membuat satu koleksi high jewellery setiap tahun. Koleksi dengan tingkat keahlian seperti ini membutuhkan waktu agar setiap karya mencapai kualitas setinggi mungkin," jelas Presiden Mikimoto Thailand, Yoshiro Sasaki saat presentasi berlangsung.

Presentasi L'éclat juga dihadiri duta merek global Mikimoto, James Jirayu Tangsrisuk, yang menguatkan citra internasional maison tersebut di hadapan para tamu Paris Couture Week.

Melalui L'éclat, Mikimoto tidak sekadar memamerkan keindahan mutiara. Koleksi ini menunjukkan bagaimana inovasi ilmiah, penguasaan teknik selama lebih dari satu abad, dan keterampilan para perajin berpadu menjadi karya yang menempatkan maison asal Jepang tersebut sebagai salah satu pemain penting di jantung dunia high jewellery di Place Vendôme.

(asr/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK