LAPORAN DARI PARIS

Kala Jonathan Anderson 'Memahat' Masa Depan Dior Couture

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 12:30 WIB
Pada musim dingin 2026/2027, Jonathan Anderson tengah mendefinisikan bagaimana Dior Couture akan dimaknai publik.
Pada musim dingin 2026/2027, Jonathan Anderson tengah mendefinisikan bagaimana Dior Couture akan dimaknai publik. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saat rumah mode memperkenalkan direktur kreatif anyar, beberapa koleksi pertama akan tampak seperti sebuah penghormatan pada sejarah dan pendahulunya. Tapi, itu tak berlaku bagi Dior.

Jonathan Anderson langsung memulai sebuah babak baru, new look, yang selalu tampak unik dan mendefinisi ulang percakapan tentang 'Diorisme'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada musim dingin 2026/2027, Dior haute couture dibuat bukan hanya tentang bagaimana Jonathan Anderson merancang gaun. Ia sedang mendefinisikan bagaimana Dior akan dimaknai publik.

Sebelum satu model pun melangkah ke runway, Anderson telah memberikan petunjuk mengenai awal dari koleksi ini. Inspirasinya bukan arsip Christian Dior ataupun nostalgia Paris, melainkan karya pematung Amerika, Lynda Benglis.

"Studio adalah laboratorium saya," demikian kutipan Benglis dalam pembuka shownote, yang diterima CNNIndonesia.com.

Anderson tampaknya melihat kesamaan mendasar antara seni pahat dan haute couture: keduanya mengubah material datar menjadi objek tiga dimensi melalui tangan manusia. Tak heran jika teknik menjadi protagonis utama.

Lipit tangan, simpul, draping, hingga pembentukan volume menjadi bahasa visual yang dominan, bukan hanya sekedar dekorasi. Hampir setiap siluet tampak lahir dari proses memahat, bukan menjahit. Alih-alih membiarkan kain mengikuti tubuh, Anderson justru memaksa kain menciptakan tubuhnya sendiri.

Look pembuka sudah memperlihatkan kesan ini. Sebuah stole shearling abu-abu berlipit dikenakan di atas blus satin sutra berwarna ecru yang diikat longgar, dipadukan celana hitam dengan lipit tangan dan simpul trompe-l'œil.

Tidak ada dramatisasi yang berlebihan. Sebaliknya, terdapat ketenangan yang justru memperlihatkan tingkat kesulitan pengerjaan untuk bisa menampilkan efek ini.

Anderson berkali-kali mengaburkan batas antara tekstil dan material industri. Permukaan metalik, efek iridescent, kain menyerupai kertas, hingga ilusi kawat yang diterjemahkan melalui jaring perak lembut menghadirkan paradoks yang menarik: benda-benda yang tampak keras ternyata lentur, sementara material yang lazimnya lembut justru memiliki ketegasan pahatan.

A model presents a creation by designer Jonathan Anderson as part of his Haute Couture Fall/Winter 2026-2027 collection show for fashion house Christian Dior in Paris, France, July 6, 2026. REUTERS/Sarah MeyssonnierPada musim dingin 2026/2027, Jonathan Anderson tengah mendefinisikan bagaimana Dior Couture akan dimaknai publik. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)

Pendekatan tersebut mencapai puncaknya pada look "Armadillo", berupa atasan dan rok mille-feuille berwarna perak yang dibangun dari rajutan, lembaran foil perak, payet, serta bunga dogwood berbahan sifon putih. Dari kejauhan, ia menyerupai instalasi seni kontemporer. Dari dekat, kompleksitas konstruksinya hampir mustahil dipercaya dikerjakan dengan tangan.

Di sinilah Anderson menunjukkan kemampuannya membaca couture bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai medium eksperimen.

Koleksi ini tidak berhenti pada hubungan antara seni dan busana. Anderson membawa penelitiannya menuju India, khususnya Ahmedabad di Gujarat, tempat Benglis memiliki hubungan panjang. Dari sana, lahir eksplorasi terhadap tradisi chintz abad ke-18, kain katun bermotif yang kelak mengubah sejarah dekorasi Eropa.

Daripada menggunakan India sebagai sumber eksotisme visual, Anderson justru mengangkat sejarah pertukaran budaya yang selama berabad-abad membentuk estetika Barat. Fragmen kain antik chintz dan indiennes benar-benar diaplikasikan pada tas Petit Dîner dan Lady Dior mini, menjadikan aksesori tersebut lebih menyerupai artefak sejarah.

Ahmedabad yang hijau dipertemukan dengan Santa Fe di New Mexico, tempat Benglis juga tinggal dan bekerja. Dua lanskap dengan karakter yang bertolak belakang diterjemahkan Anderson menjadi dialog warna sepanjang koleksi. Motif bunga hadir berdampingan dengan tekstur yang mengingatkan pada tanah liat, batu, logam, bahkan gurun. Hasilnya terasa organik, meski beberapa look tampak konseptual.

Anderson juga memahami bahwa Dior tidak dapat dipisahkan dari warisan Christian Dior sendiri. Karena itu, ketika Bar Jacket muncul kembali pada look ke-26, ia tidak diperlakukan sebagai benda museum.

Tweed hitam dengan tepian berjumbai buatan tangan dipadukan rok lilit berlipit matahari yang jauh lebih arsitektural daripada feminin dalam pengertian klasik. Anderson tidak membongkar ikon Dior. Ia mengubahnya, seperti munculnya Bar jacket di koleksi perdananya untuk Dior Men, cukup untuk bisa terlihat baru namun tetap memiliki siluet Bar.

Pendekatan serupa juga terlihat pada aksesori. Sepatu dengan ujung kotak memanjang, taburan mikro-payet, bunga transparan, hingga ornamen logam berlipit memperpanjang bahasa visual koleksi ini.

Perhiasannya pun berbicara dalam kosakata material: mother-of-pearl, kristal batu, oniks hijau ukir, hematit, kornelian, hingga micromosaic yang dikerjakan para pengrajin di Prancis dan India, termasuk Jaipur. Bahkan efek permukaan terakota pun disimulasikan melalui susunan cakram bergradasi.

Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google
Kala Jonathan Anderson 'Memahat' Masa Depan Dior Couture BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2