73 Persen Penderita Diabetes Tak Terdiagnosis, Waspadai Risikonya

CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Sekitar 73 persen penderita diabetes di Indonesia belum terdeteksi, ini meningkatkan risiko terkena retinopati diabetik. (iStockphoto/Maya23K)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari 73 persen penderita diabetes di Indonesia belum terdiagnosis. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit tersebut hingga muncul komplikasi serius, termasuk gangguan penglihatan yang dapat berujung pada kebutaan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Em Yunir mengatakan tingginya angka penderita diabetes yang tidak terdiagnosis menjadi tantangan besar dalam penanganan penyakit tidak menular di Indonesia.

"Sekitar 70 persen lebih pasien tidak terdiagnosis. Jadi yang bersangkutan tidak menyadari bahwa dia diabetes, hingga akhirnya terdeteksi saat berobat penyakit lain atau masuk kondisi gawat darurat," ujar Yunir dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik di Jakarta, Senin (20/7), mengutip Antara.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi diabetes di Tanah Air terus meningkat. Saat ini diperkirakan satu dari sepuluh penduduk Indonesia hidup dengan diabetes. Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) mencatat jumlah penyandang diabetes di Indonesia telah melampaui 20 juta jiwa dan diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 30 juta orang pada 2045.

Menurut Yunir, diabetes yang tidak terkendali akan mempercepat kerusakan organ tubuh. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti argometer taksi yang terus bergerak semakin cepat seiring tingginya kadar gula darah.

Tak hanya itu, diabetes juga kerap disertai faktor risiko lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, hingga kebiasaan merokok. Kombinasi kondisi tersebut dapat memicu berbagai komplikasi berat, mulai dari penyakit jantung, gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah, hingga kerusakan retina mata atau retinopati diabetik.

Komplikasi tersebut bukan hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan beban sosial dan ekonomi keluarga jika tidak ditangani sejak dini. Karena itu, Yunir mengimbau masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan kesehatan berkala atau medical check-up, termasuk pemeriksaan gula darah, agar diabetes dapat dideteksi lebih awal sebelum memicu komplikasi.

Jangan anggap penglihatan buram sebagai hal biasa

Senada dengan Yunir, Guru Besar Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Bayu Sasongko mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap gangguan penglihatan sebagai konsekuensi normal dari penuaan atau diabetes. Menurutnya, anggapan tersebut justru membuat banyak pasien terlambat mencari pertolongan medis hingga mengalami kerusakan mata permanen.

"Normalisasi seperti ini harus diluruskan karena menghambat penanganan dini," kata Bayu.

Ia menjelaskan, retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang dapat dicegah. Risiko kehilangan penglihatan dapat ditekan apabila pasien menjalani pemeriksaan mata secara rutin dan mendapatkan terapi sejak dini.

Sebaliknya, jika komplikasi terus dibiarkan berkembang, pasien berisiko kehilangan kemandirian karena gangguan penglihatan akan membatasi mobilitas dan akses terhadap informasi. Padahal sekitar 85 persen informasi yang diterima manusia berasal dari indra penglihatan.

Untuk menekan risiko kebutaan akibat diabetes, Kementerian Kesehatan bersama UGM dan Roche Indonesia memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan deteksi dini retinopati diabetik. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah akan memperluas layanan skrining retina di fasilitas kesehatan primer.

"Pemerintah berkomitmen tidak hanya mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah komplikasi turunannya secara menyeluruh. Melalui program Cek Kesehatan Gratis, masyarakat dapat memeriksakan gula darah secara berkala dan ke depan layanan skrining retina akan diperluas di Puskesmas," ujar Nadia.

Sementara itu, Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati, mengatakan pihaknya mendukung pemerintah melalui penguatan sistem skrining, sistem rujukan, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan agar lebih banyak pasien mendapatkan deteksi dini penyakit mata akibat diabetes.

"Diharapkan semakin banyak penyandang diabetes memperoleh pemeriksaan retina secara berkala sehingga risiko kebutaan akibat retinopati diabetik dapat ditekan," katanya.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK