Rantai yang Harus Diputus, Apa itu Eggshell Parenting?

CNN Indonesia
Rabu, 22 Jul 2026 09:45 WIB
Apa itu eggshell parenting?
Ilustrasi. Eggshell parenting merupakan gaya pengasuhan yang dipraktikkan orang tua yang rapuh, sensitif secara emosional, dan kurang mampu meregulasi emosi. (Getty Images/iStockphoto/Tomwang112)
Jakarta, CNN Indonesia --

Apa Anda dibesarkan orang tua yang amarahnya bisa meledak tak terduga atau pernah merasa bertanggung jawab menjaga emosi mereka? Jika iya maka, Anda dibesarkan oleh eggshell parent. Eggshell parent menciptakan eggshell parenting. Kenali eggshell parenting dan putus rantainya mulai sekarang.

Cara Anda membesarkan anak dipengaruhi cara orang tua membesarkan Anda dulu. Pola pengasuhan yang baik tentu dapat ditiru atau diteruskan. Namun jika yang ditemukan adalah eggshell parenting maka, sebaiknya pola pengasuhan ini tidak dilanjutkan ke anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu eggshell parenting?

Pernah dengar istilah "walking on the eggshell"? Istilah ini menggambarkan seseorang yang berjalan di tengah situasi tidak pasti dan penuh rasa tidak aman. Eggshell parenting lahir dari eggshell parent atau orang tua yang rapuh.

"Ketika orang tua memiliki suasana hati tidak stabil, ledakan emosi, dan perilaku yang tidak konsisten yang menyebabkan anak-anak mereka harus berhati-hati di sekitar mereka, mereka menunjukkan eggshell parenting," jelas psikoterapis Anna Hindell mengutip dari Parents.

Ledakan amarah atau gejolak emosi pada orang tua ini seringkali dipicu hal-hal yang tidak jelas bagi anak. Anak jelas merasa tidak aman karena perubahan suasana hati yang cepat dan tak jarang penuh ledakan.

Di kasus paling ekstrem, eggshell parenting bisa memicu masalah psikologis berat yang membuat orang tua dan anak bertukar peran. Anak justru merasa bertanggung jawab atas kondisi orang tua mereka. Lebih buruk lagi, anak merasa bersalah saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan orang tua.

Tanda Anda eggshell parent

Eggshell parenting berdampak terhadap perkembangan anak. Tumbuh dengan pola pengasuhan rapuh berpotensi membuat anak kesulitan meregulasi emosi, terlalu waspada dan stres.

Kemudian anak juga bisa mengalami attachment issue (masalah kemelekatan) antara anxious attchment style yakni anak takut diabaikan atau tidak dicintai atau avoidant attachment style yakni sulit mengandalkan dan terbuka dengan orang lain.

Sebaiknya Anda mengecek, apa Anda termasuk eggshell parent agar tidak kemudian mempraktikkan eggshell parenting. Berikut beberapa tandanya mengutip dari Huffington Post.

1. Terlalu waspada

Kewaspadaan berlebihan bisa muncul ketika dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif. Hal ini bisa terlihat dari Anda yang terus-menerus mengamati ruang untuk mencari tanda-tanda konflik, ketegangan atau ledakan emosi.

Kewaspadaan ini bisa muncul di situasi berbeda seperti lingkungan kerja.

2. Selalu ingin menyenangkan orang lain

Menjadi people pleaser yang diam-diam menghabiskan saldo/Foto: Pexels.com/Yan KrukauIlustrasi. Salah satu tanda Anda termasuk eggshell parent adalah keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain. (Pexels.com/Yan Krukau)

Anda memantau mood dan kebutuhan orang sekitar dan melakukan apa yang Anda bisa untuk membuat orang sekitar senang. Anda menekan kebutuhan sendiri atau menahan pendapat pribadi agar orang lain tidak marah.

Menjadi seorang people pleasure dianggap dapat menjauhkan diri dari 'ancaman' dan memperlihatkan diri sebagai seorang yang positif.

3. Sulit mengekspresikan emosi sendiri

Anak yang dibesarkan oleh eggshell parent sering takut mengekspresikan emosinya. Psikolog klinis Noelle Santorelli berkata anak belajar untuk menekan emosi sendiri karena menghindari konflik dengan orang tua yang emosinya bisa meledak tak terduga.

Selain kesulitan mengekspresikan emosi, Anda juga bisa kesulitan memahami atau mempercayai emosi Anda. Anda, misal, kecewa pada seseorang. Namun bukannya membiarkan diri merasakan kecewa, Anda justru mempertanyakan kenapa Anda merasakannya dan apa wajar untuk merasa kecewa.

4. Merasa punya tanggung jawab atas emosi orang lain

Kerap merasa bertanggung jawab atas emosi atau apa yang dirasakan orang lain? Hal ini secara alami muncul saat masa kecil dihabiskan untuk menjaga perasaan orang tua dan memastikan orang tua yang protektif merasa puas.

5. Tidak nyaman bersama orang tua

Anda bisa merasakan ketidaknyamanan ketika bersama orang tua. Bisa dikatakan Anda pernah menghabiskan waktu bersama orang tua yang begitu sensitif secara emosional dan butuh perhatian ekstra.

(els) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]