HARI ANAK NASIONAL

Literasi Digital Tak Jamin Orang Tua Lepas dari Jebakan Sharenting

Rhea Febriani Tritami | CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 18:45 WIB
Ilustrasi. Orang tua tahu apa risikonya berbagi aktivitas dan privasi anak di ranah digital, tetapi ternyata pengetahuan ini tak menahan mereka melakukan sharenting. (iStockphoto/ifeve)
Jakarta, CNN Indonesia --

Literasi digital yang tinggi ternyata tak membuat orang tua berhenti membagikan privasi anak di media sosial. Orang tua tetap melakukan 'sharenting' meski tahu ada banyak risiko kebocoran data hingga penyalahgunaan foto.

Menurut Associate Professor of Psychology sekaligus Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu Rizkyanti, ini merupakan salah satu ketidakkonsistenan orang tua. Sharenting sendiri merupakan tindakan orang tua membagikan aktivitas dan privasi anak di media sosial, seringnya tanpa persetujuan dari anak.

Charyna mencatat, ada sebuah riset terhadap 385 ibu dengan anak berusia di bawah 13 tahun di Jawa Timur terkait sharenting di media sosial Instagram.

"Jadi, riset terhadap hampir 400 ibu di Jawa Timur itu menemukan bahwa ternyata literasi digital hanya menyumbang 14,4 persen terhadap perubahan perilaku sharenting mereka," ujar Charyna kepada kepada CNNIndonesia.com di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7).

Lebih jauh, riset Birgitta Bestari Puspita dan Paulus A Edvra yang dipublikasikan di jurnal Komunikatif (2022) tersebut menyebutkan, mayoritas responden merupakan sarjana strata-1 (63,8 persen). Diikuti lulusan SMA/SMK (29,3 persen) dan S2 (5,9 persen).

Sebagian besar responden telah menyelesaikan program pendidikan wajib 12 tahun, bahkan sudah di jenjang perguruan tinggi. Meski demikian, aktivitas sharenting yang dilakukan relatif tidak berbeda.

"Mayoritas ibu dalam penelitian itu sebetulnya tahu risiko sharenting itu apa. [Misalnya] kebocoran data, penyalahgunaan foto, dan sebagainya, tapi pengetahuan itu enggak mengubah kebiasaan mereka. Literasi digitalnya bagus, tapi kenapa mereka tetap begitu?" tutur Charyna.

Menurutnya, 'kepercayaan diri' orang tua untuk tetap melakukan sharenting ada kaitannya dengan personal fable. Ini merupakan semacam keyakinan seseorang bahwa pengalamannya unik dan istimewa, berbeda dari orang lain.

Keyakinan tersebut memunculkan anggapan efek buruk dari sharenting tak akan terjadi pada dirinya. Menariknya, personal fable justru sering terjadi pada tahap perkembangan psikologi remaja.

"Jadi, di tahap perkembangan remaja itu, salah satu karakter yang paling melekat sama mereka adalah mereka sangat yakin kalau mereka melakukan sesuatu, bisa mampu mengatasinya," ujar Charyna.

Ia mencontohkan, anak remaja yang suka mengebut saat berkendara di jalan raya. Ketika diperingatkan orang tuanya tentang bahaya berkendara, anak remaja cenderung percaya diri kecelakaan tak akan terjadi pada dirinya.

[Gambas:Video CNN]

Kepercayaan diri seperti ini bisa saja terjadi pada orang tua, sekalipun literasi digital mereka tinggi dan memahami bahaya dari berbagi aktivitas anak di media sosial.

Di sisi lain, tak sedikit pula orang tua yang membatasi screen time anak karena adanya ketakutan anak akan mengalami kecanduan gawai. Sebagai role model bagi anak, aturan soal screen time ini sangat bertentangan dengan perilaku sharenting.

"Orang tua is the main role model. Tapi lagi-lagi, kan, ternyata, fenomena sharenting itu ketika dia mengontenkan anaknya tanpa izin dari si anak ini, itu juga paradoxical menurut saya," ucap Charyna.

Jadi, literasi digital bukan satu-satunya faktor yang bisa membuat seseorang menahan dorongan untuk mengunggah konten terkait ranah privasi di media sosial.

"Tapi ternyata ada yang lain lagi. Ini yang masih dicari apa," ucap Charyna.

(rti/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK