Dokter Ingatkan Jangan Asal Ikut HYROX Tanpa Cek Kesehatan
HYROX belakangan populer di kalangan pencinta olahraga. Kompetisi kebugaran yang menggabungkan lari dan latihan kekuatan (strength training) ini memang menawarkan tantangan tersendiri.
Di balik tren tersebut, peserta diingatkan untuk tidak asal ikut tanpa mengetahui kondisi dan kesiapan tubuh.
Lihat Juga :Wellnest Festival Usai Olahraga, Minum Air Putih atau Isotonik? Ini Kata Dokter |
Dokter penyakit dalam, Jessica Marsigit, mengatakan HYROX merupakan olahraga dengan intensitas tinggi. Dalam satu perlombaan, peserta harus menyelesaikan delapan kali lari yang diselingi delapan pos latihan fungsional, sehingga hampir seluruh otot tubuh bekerja.
"HYROX itu sebenarnya brand. Ibaratnya seperti kita menyebut semua air mineral dengan (sebuah merek). Olahraga ini menggabungkan lari dan strength training dalam satu kompetisi," ujar Jessica, dokter dari dari Brawijaya Hospital Duren Tiga, dalam talkshow di CNN Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 di South Quarter Dome, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (22/7).
Menurutnya, aktivitas fisik berintensitas tinggi membuat kebutuhan energi dan oksigen tubuh meningkat. Otot akan bekerja lebih keras sehingga tubuh harus benar-benar siap untuk menjalani latihan maupun kompetisi tersebut.
Jika seseorang memaksakan diri saat kondisi fisiknya belum siap, risiko kelelahan berlebihan hingga cedera pun meningkat.
"Kalau dipaksakan dalam kondisi tubuh tidak siap, kita akan lebih cepat ngos-ngosan. Risiko cedera juga lebih besar. Karena itu memang harus ada persiapannya," kata dia.
Bagi orang dewasa yang masih berusia produktif, sekitar 20-30 tahun, dan tidak memiliki riwayat penyakit tertentu, ia mengatakan pemeriksaan kesehatan sederhana dapat dilakukan melalui Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q).
Kuesioner tersebut berisi sejumlah pertanyaan untuk menilai apakah seseorang cukup aman memulai olahraga berintensitas sedang hingga tinggi.
Pertanyaan dalam PAR-Q antara lain mencakup apakah seseorang pernah mengalami nyeri dada atau jantung berdebar saat berolahraga, pernah pingsan ketika beraktivitas fisik, memiliki gangguan sendi, mengonsumsi obat rutin, atau mempunyai riwayat penyakit jantung.
Sementara itu, bagi mereka yang berusia di atas 40 hingga 50 tahun, pemeriksaan kesehatan yang lebih menyeluruh atau medical check-up dianjurkan sebelum mengikuti olahraga seperti HYROX.
"Kalau usia di atas 40 atau 50 tahun, sebaiknya medical check-up dulu karena ini olahraga yang cukup berat," ujarnya.
Hal serupa juga berlaku bagi orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, seperti diabetes maupun hipertensi. Menurutnya, pemeriksaan bertujuan menilai kesiapan tubuh sebelum menjalani aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
"Bagi yang punya diabetes atau tekanan darah tinggi, sebaiknya tetap medical check-up untuk menilai kesiapan tubuhnya," tambahnya.
Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki riwayat penyakit jantung?
Ia menjelaskan kondisi tersebut tidak selalu menjadi larangan mutlak untuk berolahraga. Namun, jenis latihan hingga intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan berada di bawah pengawasan dokter, terutama dokter spesialis jantung.
"Kalau memang ada riwayat penyakit jantung, jangan langsung mengikuti program latihan sendiri. Konsultasikan dulu dengan dokter. Nanti bisa dibuatkan program latihan yang bertahap sesuai kondisinya," ujarnya.
Menurutnya, HYROX membutuhkan kerja jantung dan pasokan oksigen yang besar.
"Karena HYROX kebutuhan oksigennya cukup besar. Kalau misalnya ada sakit jantung, takutnya pas lagi kita paksa lari, kebutuhan oksigennya naik. Itu yang biasanya bisa tiba-tiba pingsan, jatuh, atau bahkan bisa sampai meninggal," jelasnya.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan tren sebagai alasan untuk mengabaikan kondisi kesehatan. Olahraga tetap penting dilakukan, tetapi jenis dan intensitasnya perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing.
"Tetap olahraga, tetapi pilih olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh dan, bila memang memiliki penyakit tertentu, lakukan di bawah pengawasan dokter," tutupnya.
(anm/fef)