Berkeliling Indonesia Lewat Lembaran Kain di Museum Tekstil

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Sabtu, 25 Jul 2026 12:40 WIB
Museum Tekstil jadi salah satu museum yang layak dikunjungi. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kalau mendengar kata museum, yang terbayang mungkin ruang sunyi berisi benda-benda tua di balik kaca. Tapi, kesan itu perlahan menghilang begitu kaki melangkah ke Museum Tekstil Jakarta.

Museum yang berdiri sejak 1976 ini menempati sebuah bangunan bersejarah yang usianya bahkan jauh lebih tua. Dulunya, bangunan tersebut merupakan sebuah landhuis atau vila milik warga Prancis di Batavia pada awal abad ke-19, sebelum beberapa kali berganti kepemilikan dan akhirnya diresmikan menjadi Museum Tekstil pada 28 Juni 1976.

Lokasinya mudah dijangkau, jaraknya hanya sekitar 500 meter atau sekitar tujuh menit berjalan kaki dari Stasiun Tanah Abang.

Dengan tiket masuk Rp10 ribu untuk dewasa, kamu bisa menghabiskan waktu berjam-jam menikmati koleksi wastra Nusantara, belajar membatik, hingga sekadar bersantai membaca buku.

Suasana teduh langsung terasa begitu memasuki kompleks museum. Bangunan-bangunan tua mengelilingi halaman yang dipenuhi pepohonan. Ada Taman Pewarna Alam, Pendopo Batik, koperasi, hingga Galeri Batik yang bisa dijelajahi satu per satu.

Sebelum melangkah ke gedung pameran, perjalanan sebaiknya diawali dari Pendopo Batik. Di sini, pengunjung bisa mencoba membatik secara langsung.

Dengan membayar Rp50 ribu, pengunjung akan mendapat selembar kain, bisa memilih yang sudah berpola atau menggambar motif sendiri. Lengkap pula dengan canting, malam, serta pendamping yang akan mengajarkan proses membatik dari awal. Tangan yang semula masih canggung pelan-pelan mulai terbiasa mengikuti garis-garis pola dengan lilin panas.

Setelah selesai mencanting, kain diberi warna lalu dijemur hingga kering. Selagi menunggu kain mengering, waktunya berkeliling museum.

Berkeliling Indonesia lewat selembar kain

Gedung pamer utama langsung menyambut dengan dua koleksi yang mencuri perhatian. Salah satunya Kain Panjang Bulu Hayam dari Garut, Jawa Barat. Batik tulis yang dibuat pada 1950-an itu menampilkan lengkungan-lengkungan menyerupai bulu ayam dan sisik ikan dengan warna khas Garut: krem, cokelat, dan biru. Motif tersebut juga dikenal sebagai Sapu Jagad.

Persis di sampingnya, berdiri Kain Panjang Gajah Birawa dari Surakarta, koleksi hibah keluarga Presiden Soeharto. Kain karya R.A. Soemoharjomo, ibunda Tien Soeharto, itu menampilkan gajah, kijang, hingga burung yang beterbangan di antara lembah. Dalam tradisi Jawa, gajah melambangkan kegagahan sekaligus menjadi simbol kebesaran para bangsawan.

Museum Tekstil jadi salah satu museum yang layak dikunjungi. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)

Pandangan kemudian tertuju pada Umbul-Umbul Caruban Nagari (Royal Banner) dari Keraton Cirebon. Kain bersejarah yang menjadi salah satu koleksi awal Museum Tekstil ini merupakan sumbangan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegoro. Ragam hias kaligrafi bernuansa Islam yang memenuhi permukaannya membuat umbul-umbul ini tampil berbeda dari koleksi lain di sekitarnya.

Pesona museum ini sesungguhnya bukan hanya terletak pada koleksi-koleksi utamanya. Setiap langkah terasa seperti sedang diajak berkeliling Indonesia lewat selembar demi selembar kain.

Satu ruangan menghadirkan dodot dari Yogyakarta, tapis Lampung, kain panjang Taman Arum dari Cirebon, hingga tenun dari Flores dan Sulawesi Selatan.

Ruangan berikutnya menyimpan beragam wastra ritual berupa songket, selendang, sarung, hingga kain-kain yang digunakan dalam berbagai upacara adat.

Langkah selanjutnya membawa pengunjung bertemu Kain Panjang Jlamprang, tirai merah dari Lampung yang langsung menyambut dari kejauhan, hingga kampuh, kain impor dari India yang dahulu dikenal masyarakat sebagai sembagi.

Masih ada lagi Parang Rusak dari Surakarta, sarung Buketan Pekalongan dengan warna-warna cerah yang terasa akrab dengan motif busana masa kini, hingga Parang Baris dengan nuansa klasik yang khas.

Semakin jauh berjalan, warna-warna bumi mulai mendominasi. Udan Liris, Palepai dari Lampung, tenun Flores, hingga kain dari Maluku memenuhi ruang berikutnya.

Kalau ingin menikmati museum ini, rasanya tak perlu terburu-buru membaca setiap label koleksi. Justru keseruannya muncul ketika mencoba menebak asal setiap kain hanya dari corak dan warnanya.

"Motif parang begini pasti dari Jawa tengah."

"Yang garis-garis ini jangan-jangan ulos dari Sumatera."

Kadang tebakan itu benar, kadang juga meleset jauh. Justru di situlah letak serunya.

Koleksinya begitu banyak hingga museum ini tidak disusun seperti peta Indonesia dari barat ke timur. Kain dari Jawa bisa berdampingan dengan Flores, lalu disusul Lampung atau Maluku di ruangan berikutnya.

Mata pun terus diajak berpindah dari satu motif ke motif lain tanpa benar-benar tahu kejutan apa yang menunggu di sudut berikutnya.

Nuansa kembali berubah ketika memasuki area paling belakang. Deretan ulos dari Sumatera Utara memenuhi ruangan. Ada Ulos Sadum, Ragidup, Sibolang Marheter, Ulos Bintang Maratur, Tumtuman, hingga Uis Bebuluh Padang Rusak.

Perjalanan belum selesai.

Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..

Museum Tekstil dan Ajakan Berkeliling Indonesia Lewat Lembaran Kain


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :