Bukan Lagi Sekadar Tujuan Study Tour, Museum Kini Jadi Gaya Hidup
Meski tren kunjungan meningkat, Indira menilai museum tidak bisa hanya mengandalkan koleksi permanen untuk menarik pengunjung. Ia mengatakan, museum harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat melalui berbagai aktivasi, pembaruan pameran, hingga peningkatan fasilitas.
"Kami tidak bisa hanya berpikir punya koleksi bagus lalu orang pasti datang. Museum juga harus terus relevan dengan generasi muda," ujarnya.
Salah satu caranya adalah menghadirkan pameran temporer secara rutin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pameran tetap memang harus ada, tapi pameran temporer juga harus terus berjalan. Generasi sekarang cepat bosan, jadi harus selalu ada sesuatu yang baru," katanya.
Selain isi pameran, museum juga mulai memperhatikan kenyamanan pengunjung. Dari hasil evaluasi, salah satu kebutuhan yang paling sering disampaikan adalah tersedianya area makan yang lebih memadai.
"Awalnya kami membuat kantin, tapi sekarang ternyata sudah tidak mencukupi lagi. Kami sedang memikirkan kemungkinan membuat food court di Museum Nasional atau kafe di Galeri Nasional," ujar Indira.
Menurutnya, peningkatan fasilitas juga menjadi alasan yang dapat membenarkan penyesuaian harga tiket museum.
"Saya rasa kalau ada kenaikan harga tiket, memang harus diikuti dengan peningkatan layanan. Misalnya ada ruang pamer baru, fasilitas baru, food court, ruang anak, atau layanan lain yang memang membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih baik," katanya.
Ke depan, Indonesia Heritage Agency juga menyebut sedang bersiap menghadapi potensi lonjakan pengunjung seiring beroperasinya jalur MRT yang akan berhenti tepat di kawasan Monas pada 2027, berdekatan dengan Museum Nasional.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

