Pesawat Listrik Terbesar di Dunia Siap Jalani Uji Terbang Perdana

CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 13:00 WIB
Ilustrasi pesawat listrik. (NASA/Carla Thomas/NASA/Carla Thomas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Era penerbangan ramah lingkungan memasuki babak baru. Pesawat listrik terbesar di dunia besutan Heart Aerospace, X1, siap mengudara usai mengantongi izin resmi untuk melakukan uji terbang dari Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA).

FAA menerbitkan Sertifikat Kelayakan Udara Khusus dalam Kategori Eksperimental atau SAC-EC setelah menginspeksi demonstrator pesawat tersebut di Bandara Internasional Plattsburgh, New York.

Izin tersebut memberikan lampu hijau bagi produsen pesawat yang berbasis di California ini untuk segera memulai uji terbang. Heart Aerospace sebelumnya telah bekerja sama dengan FAA selama lebih dari satu tahun serta menguji keandalan darat atau ground-testing untuk memastikan kesiapan pesawat eksperimental ini.

"Mendapatkan otorisasi penerbangan FAA membawa program X1 ke ambang penerbangan perdana," ujar Pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, dalam keterangan resminya, seperti dilansir Robb Report.

"Pencapaian ini mencerminkan kerja keras tim rekayasa dan uji terbang Heart, serta hubungan kerja sama erat yang telah kami bangun dengan FAA," tambahnya.

Dengan bentang sayap mencapai 32 meter, panjang badan pesawat (fuselage) 23 meter, serta bobot lepas landas melebihi 11,3 ton, X1 bakal memecahkan rekor sebagai pesawat listrik terbesar yang pernah terbang di udara.

Rekor sebelumnya dipegang oleh modifikasi pesawat Cessna Caravan 208B yang mengudara di Negara Bagian Washington pada tahun 2020 lalu.

Pesawat demonstrator ini akan berfungsi sebagai laboratorium terbang untuk menguji dan menyempurnakan teknologi hijau yang nantinya diterapkan pada model produksi massal, ES-30.

Model produksi ES-30 dirancang sebagai pesawat hybrid-electric bertipe regional jarak pendek yang mampu menampung hingga 30 penumpang.

Pesawat ini dibekali dua motor listrik serta dua mesin turboprop, sehingga dapat beroperasi menggunakan tenaga baterai murni, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, maupun gabungan keduanya. Inovasi teknologi ini tak hanya menekan biaya operasional maskapai, tetapi juga secara signifikan mengurangi emisi karbon.

ES-30 memiliki jangkauan terbang hibrida hingga 800 kilometer dan jangkauan daya listrik murni sejauh 200 kilometer. Baterai pesawat dapat terisi penuh hanya dalam waktu sekitar 30 menit dan mampu mendarat di landasan pacu pendek sepanjang 1.100 meter.

Proses sertifikasi dan pengoperasian resmi ES-30 ditargetkan rampung pada tahun 2031 mendatang, dengan program uji coba X1 yang menjadi pilar utamanya.

"Dengan sertifikat yang telah kami pegang, fokus penuh kami kini tertuju pada penerbangan. Kami siap menerbangkan X1 ke udara," tegas Forslund.

Saat ini, demonstrator X1 tengah menjalani persiapan akhir menjelang penerbangan pertamanya di New York yang diperkirakan bakal berlangsung dalam beberapa hari mendatang.

(wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK