Fenomena Crush Recession, Saat Gen Z Mulai Enggan Jatuh Cinta
Ada masa ketika memiliki gebetan menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari masa remaja. Sebuah pesan singkat dari orang yang disukai bisa mengubah suasana hati seharian, sementara rasa deg-degan setiap kali bertemu menjadi pengalaman yang dikenang hingga dewasa.
Namun, pengalaman itu tampaknya mulai memudar di kalangan Generasi Z (Gen Z). Muncul istilah crush recession, sebuah fenomena yang menggambarkan semakin sedikit anak muda yang benar-benar memiliki 'crush' atau gebetan.
Istilah ini mulai ramai diperbincangkan di media sosial sepanjang 2025. Meski sekilas terdengar seperti tren sesaat, sejumlah pakar menilai fenomena tersebut mencerminkan perubahan besar dalam cara Gen Z memandang hubungan romantis.
Lihat Juga :Wellnest Festival Lula Kamal Ajak Warga Curhat ke Psikolog Pakai BPJS Kesehatan |
Apa itu crush recession?
Crush recession merujuk pada menurunnya keinginan atau antusiasme Gen Z untuk menyukai seseorang secara romantis. Bukan karena mereka tidak ingin menjalin hubungan, melainkan karena proses menuju hubungan dianggap semakin melelahkan secara emosional.
Julie Nguyen, pelatih kencan bersertifikat di Hily, mengatakan Gen Z sebenarnya masih mendambakan kedekatan emosional. Namun, mereka merasa dunia kencan saat ini dipenuhi tekanan yang membuat hubungan terasa tidak lagi sederhana.
"Gen Z adalah generasi yang mendambakan keintiman, tetapi merasa kewalahan dengan tuntutan emosional dalam dunia kencan," ujar Nguyen mengutip Real Simple.
Menurutnya, yang berubah bukanlah keinginan untuk mencintai, melainkan kesediaan mengambil risiko emosional yang kini terasa jauh lebih besar.
Salah satu faktor yang memperkuat fenomena ini adalah media sosial. Di masa lalu, seseorang bisa diam-diam menyukai orang lain tanpa diketahui siapa pun. Perasaan itu cukup disimpan di buku harian atau dinikmati sendiri.
Kini, hampir semua interaksi berpotensi menjadi konsumsi publik. Sebuah kencan bisa menjadi bahan obrolan grup, unggahan media sosial, atau bahkan viral.
Akibatnya, memiliki gebetan tak lagi terasa sebagai pengalaman pribadi, tetapi juga membawa risiko rasa malu, penolakan, hingga penghakiman dari lingkungan sekitar.
Menurut Nguyen, bagi banyak Gen Z, risiko tersebut terasa lebih besar dibandingkan kebahagiaan yang mungkin didapat dari memiliki gebetan.
Beban ekonomi ikut memengaruhi
Psikolog sekaligus salah satu pendiri Authentic Connections Therapy and Wellness, Brittany Woolford, menilai crush recession juga berkaitan dengan kondisi hidup yang dihadapi Gen Z.
Generasi ini tumbuh di tengah biaya pendidikan yang tinggi, ketidakpastian ekonomi, serta tekanan finansial yang terus meningkat. Dalam kondisi seperti itu, hubungan asmara sering kali dipandang sebagai sesuatu yang membutuhkan energi emosional tambahan.
"Jika harus menghadapi ketidakstabilan ekonomi sekaligus membuka diri terhadap kemungkinan patah hati, banyak orang merasa itu terlalu berat," kata Woolford.
Dengan kata lain, banyak anak muda melakukan semacam 'perhitungan untung-rugi' sebelum memutuskan untuk terlibat secara emosional dengan seseorang.
Dating apps membuat pilihan terasa tak ada habisnya
Faktor lain yang turut berperan adalah aplikasi kencan. Meski aplikasi tersebut memudahkan orang bertemu pasangan, keberadaan ribuan profil justru membuat seseorang sulit memberikan perhatian penuh pada satu orang.
Lihat Juga : |
Woolford menyebut fenomena ini sebagai bentuk kelumpuhan dalam mengambil keputusan. Saat selalu ada kemungkinan bertemu orang lain yang dianggap lebih menarik, rasa spesial terhadap satu individu menjadi semakin sulit tumbuh. Akibatnya, pengalaman klasik memiliki gebetan perlahan memudar.
Meski demikian, para pakar menilai crush recession bukan berarti Gen Z kehilangan minat terhadap cinta. Sebaliknya, mereka hanya lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dan cenderung menghindari situasi yang dianggap penuh tekanan atau membuat mereka harus tampil sesuai ekspektasi orang lain.
Di sisi lain, banyak anak muda masih berusaha memahami jati dirinya di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Mereka lebih nyaman menemukan rasa aman dalam kelompok pertemanan dibandingkan langsung membangun hubungan romantis yang membutuhkan keterbukaan emosional lebih besar.
Para ahli optimistis Gen Z tetap akan menemukan cara mereka sendiri untuk menjalin hubungan yang sehat. Mereka tidak sedang menolak romansa, melainkan memilih pendekatan yang terasa lebih autentik, minim tekanan, dan sesuai dengan kebutuhan emosional mereka.
(tis/tis)