Alasan Gen Z Suka Film Horor: Realitas Hidup Tak Kalah Ngeri dan Gelap

CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 05:30 WIB
Michael Johnston dan Inde Navarrette sebagai Bear dan Niki dalam film Obsession (2025). (Blumhouse Productions)
Statista mencatat 91 persen Gen Z mengaku menonton film atau serial horor, menjadikan mereka kelompok usia dengan tingkat konsumsi horor tertinggi. (Blumhouse Productions)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film-film horor seperti Obsession dan Backrooms belakangan sukses menarik banyak penonton muda, terutama Gen Z.

Menurut laporan perusahaan riset pasar Statista yang dirilis tahun lalu, 91 persen konsumen Gen Z mengaku menonton film atau serial horor. Gen Z pun menjadi kelompok usia dengan tingkat konsumsi horor tertinggi.

Kepala Divisi Hiburan Global di agensi periklanan Dentsu, Cathy Boxall, menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi dibandingkan generasi lain. Ia juga mencatat horor kini menjadi genre favorit ketiga Gen Z setelah komedi dan film aksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata, ada alasan di balik kesukaan Gen Z menonton horor. Bagi generasi muda ini, kehidupan sehari-hari sudah terasa seperti film horor: mencekam.

Generasi Z tumbuh di tengah berbagai peristiwa yang penuh ketidakpastian. Berbagai momentum itu menjadi pengalaman yang membentuk generasi yang lahir sekitar 1997 hingga 2012.

Mereka melewati masa kecil dengan latar belakang krisis keuangan global 2008, lalu memasuki dunia kerja ketika prospek lapangan pekerjaan semakin suram akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Gen Z juga mengalami berbagai bencana iklim, seperti Badai Katrina, terbiasa menjalani simulasi penembakan di sekolah, hingga menghadapi pandemi Covid-19.

"Genre horor mengalami perubahan bersama Gen Z. Kini horor lebih banyak mengeksplorasi persoalan nyata yang gelap daripada sekadar adegan berdarah atau kekerasan," kata terapis sekaligus penulis buku Generation Anxiety: A Millennial and Gen Z Guide for Staying Afloat in Uncertain Times, Lauren Cook, dikutip CNN.

Film Obsession dan Backrooms, misalnya, menawarkan kengerian yang terasa dekat dengan kehidupan Gen Z. Kedua film juga menunjukkan bagaimana para sineas kini menciptakan horor yang relevan bagi generasi yang tumbuh dalam realitas yang penuh kecemasan.

Meski Obsession tetap menyajikan banyak adegan sadis, film itu juga mengangkat isu yang lebih dalam. Film garapan YouTuber berusia 26 tahun Curry Baker itu berkisah tentang seorang pria (Michael Johnston) yang menggunakan ranting ajaib demi membuat perempuan yang dicintainya (Indie Navarrette) membalas perasaannya.

Di balik kisah supranatural itu, film ini juga menyinggung budaya red pill, sebuah gerakan yang meyakini laki-laki hidup dalam sistem yang dianggap tidak adil bagi mereka, menolak feminisme, dan mendambakan kembali nilai-nilai tradisional.

Backrooms karya sineas Gen Z Kane Parsons juga menawarkan lebih dari sekadar cerita menakutkan. Film horor psikologis ini berkisah tentang pemilik toko furnitur yang perlahan terjerumus ke dalam sisi tergelap dirinya.

Diadaptasi dari serial YouTube buatan Parsons, film tersebut mengangkat tema keterasingan, trauma, dan keterbatasan pilihan hidup. Isu yang sangat akrab bagi Gen Z.

Cook menyebut Gen Z menyukai kejujuran yang ditawarkan film horor. Horor tidak berusaha mempermanis kenyataan.

"Gen Z mampu menghadapi sisi kelam kehidupan lebih baik dibanding generasi sebelumnya, yang cenderung ingin menutupi semuanya dengan senyum. Menurut saya, itu justru menjadi kekuatan mereka," ujarnya.

Menurut Kaitlyn Ruano, guru sekolah menengah berusia 23 tahun yang juga mengulas film dan serial televisi melalui situs The Drama Drive-In, Hollywood kini berhasil menghadirkan film horor yang benar-benar beresonansi dengan pengalaman hidup Gen Z. Generasi ini sangat peduli pada isu-isu sosial. Karena itu, horor menjadi medium yang sangat cocok untuk menggambarkan persoalan tersebut.

Ia menilai setiap generasi memiliki subgenre horor yang mencerminkan zamannya. Pada 1970-an, misalnya, film slasher yang berfokus pada seorang pembunuh yang memburu satu per satu korbannya dengan senjata tajam seperti pisau, kapak, atau parang, mendominasi.

Kemudian muncul film seperti The Craft pada era kepanikan terhadap praktik satanisme pada 1980-an dan 1990-an. Memasuki 2000-an, horor berubah menjadi lebih berorientasi pada aksi, termasuk maraknya film-film zombie.

"Horor aksi itu mencerminkan era perang melawan teror dan suasana masyarakat Amerika yang sangat militeristik," kata Ruano.

Studio film pun menikmati tren kesukaan Gen Z menonton film horor.

Menurut A24, studio di balik Backrooms, Kane Parsons menjadi sutradara termuda dalam sejarah Hollywood yang berhasil menempatkan filmnya di posisi pertama box office akhir pekan. Film itu meraup sekitar US$80 juta di Amerika Utara dan US$120 juta secara global hanya pada pekan pertama penayangannya.

Sementara itu, Obsession produksi Focus Features dan Blumhouse Productions, menempati posisi kedua pada pekan yang sama. Sejak dirilis pada 15 Mei lalu, film tersebut telah menghasilkan hampir US$150 juta, padahal biaya produksinya hanya sekitar US$750 ribu.

Keberhasilan kedua film itu dinilai sejalan dengan karakter Gen Z yang menyukai konten yang memancing rasa penasaran, ramai diperbincangkan di internet, dan mendorong diskusi di media sosial.

"Karena hidup di era yang sangat dipengaruhi media dan interaksi digital, saya rasa Gen Z cenderung lebih analitis dibandingkan generasi lain," kata Ruano.

Menurutnya, Gen Z senang mengulik setiap detail dari sebuah konten. Mereka tumbuh bersama artikel analisis dan video esai di YouTube.

Ruano juga memandang generasinya harus tumbuh di dunia yang penuh polarisasi politik, berbagai sisi gelap kehidupan, sekaligus memiliki definisi baru tentang escapism atau pelarian dari kenyataan.

Ia mengaku film-film ringan dan romantis era 1990-an atau awal 2000-an, seperti How to Lose a Guy in 10 Days, yang dulu terasa menyenangkan, kini justru terasa tidak realistis.

"Ketika menonton film atau serial dari era 1990-an dan 2000-an, tokohnya lulus kuliah lalu langsung mendapat pekerjaan atau magang impian. Rasanya malah membuat frustrasi karena kita bertanya-tanya, apakah hidup memang semudah itu dulu? Lalu lihatlah keadaan kita sekarang," katanya.

(pta) Add as a preferred
source on Google