Jangan Terlambat, Ini Usia Terbaik untuk Program Bayi Tabung

CNN Indonesia
Rabu, 29 Jul 2026 23:16 WIB
Artificial insemination or in vitro fertilization. 3D illustration
Ilustrasi. Usia ibu juga berpengaruh pada tingkat keberhasilan bayi tabung. (iStockphoto/iLexx)
Jakarta, CNN Indonesia --

Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) menjadi salah satu harapan bagi pasangan yang mengalami infertilitas atau kesulitan memiliki keturunan. Seiring kemajuan teknologi reproduksi berbantu, tingkat keberhasilan IVF kini terus meningkat. Namun, para ahli mengingatkan bahwa usia calon ibu tetap menjadi faktor penentu utama keberhasilan program tersebut.

Bayi tabung merupakan metode pembuahan buatan dengan cara mengambil sel telur dari ovarium untuk kemudian dibuahi oleh sperma di laboratorium. Embrio yang berhasil terbentuk selanjutnya ditanamkan kembali ke dalam rahim agar terjadi kehamilan.

Dokter spesialis kandungan di Morula IVF Ivan Rizal Sini mengatakan, teknologi memang berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan IVF. Meski begitu, peluang keberhasilan sangat dipengaruhi oleh usia perempuan saat menjalani program.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang perlu kita edukasi adalah apa yang mereka lakukan sangat tergantung pada usia perempuannya," ujar Ivan dalam keterangannya.

Menurutnya, perempuan yang menjalani program bayi tabung pada usia lebih muda memiliki peluang hamil yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang baru memulai program pada usia 40 tahun atau lebih. Karena itu, ia menyarankan pasangan yang berencana menjalani IVF untuk tidak menunda hingga usia terlalu matang.

Idealnya, program dilakukan sebelum usia 35 tahun, ketika jumlah dan kualitas sel telur masih relatif baik.

"Pasien datang di usia lebih muda angka keberhasilannya lebih tinggi dibandingkan kalau dia tertunda di usia 40 atau lebih dari itu. Baiknya datang saat usia di bawah 35 tahun karena jumlah cadangan telurnya masih bagus," katanya.

Keberhasilan IVF mencapai 60 persen

Ivan mengungkapkan, tingkat keberhasilan program bayi tabung di Morula IVF Indonesia saat ini berada pada kisaran 50-60 persen. Pada perempuan berusia di bawah 35 tahun, peluang keberhasilan bahkan dapat mencapai sekitar 60 persen.

Menurutnya, angka tersebut sejalan dengan standar keberhasilan IVF yang berlaku secara global, baik di Australia, Amerika Serikat, maupun kawasan Asia Pasifik.

"Ada standar global, ada standar di Australia, Asia Pasifik, dan Amerika. Sampai saat ini standar global itu bervariasi dari 50 sampai 60 persen. Di bawah usia 35 tahun itu sekitar 60 persen," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa peluang keberhasilan setiap pasien tetap berbeda-beda karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi kesehatan, penyebab infertilitas, hingga kualitas embrio yang dihasilkan.

Selain usia, kemajuan teknologi juga memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan program bayi tabung. Salah satunya melalui teknologi Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A).

PGT-A merupakan metode skrining kromosom pada embrio sebelum proses transfer ke dalam rahim. Teknologi ini membantu dokter memilih embrio yang memiliki susunan kromosom normal sehingga peluang implantasi dan kehamilan menjadi lebih tinggi.

Dengan seleksi tersebut, embrio yang ditanamkan memiliki kualitas lebih baik sehingga risiko kegagalan akibat kelainan kromosom dapat dikurangi.

"Kalau mengikuti program PGT-A, embrionya dicek dulu sebelum kita tanamkan. Kemampuan untuk kehamilan per transfernya bisa lebih tinggi, sekitar 70 persen karena embrionya sudah terseleksi secara kromosom. Kalau yang biasa tidak cek kromosomnya," kata Ivan.

Sebagai upaya memperluas akses layanan fertilitas berstandar internasional di Indonesia, Morula IVF Indonesia akan membuka Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di kawasan Biomedica Campus, BSD City, Tangerang.

Klinik yang dijadwalkan mulai beroperasi pada September 2026 itu diharapkan dapat memberikan layanan fertilitas yang lebih komprehensif, mulai dari konsultasi, pemeriksaan, diagnosis, hingga program IVF dengan pendekatan yang lebih personal dan berbasis bukti ilmiah.

"Kami ingin menghadirkan ekosistem layanan yang lebih komprehensif, mulai dari konsultasi, diagnosis, hingga program IVF dengan pendekatan yang personal dan berbasis bukti ilmiah. Harapannya, semakin banyak pasangan Indonesia memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan impian menjadi orang tua," ujar Ivan.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]