Kapal Pesiar Kandas karena Sungai Mengering, 186 Penumpang Dievakuasi

CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 15:00 WIB
Phillipsburg, St. Maarten-October 30 , 2019- Passengers from the  Norwegian Gem disembark the NCL Norwegian Gem as she is docked for the day at the Cruise Ship terminal in Phillipsburg.
Ilustrasi kapal pesiar. (Istockphoto/KenWiedemann)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepolisian mengevakuasi 186 turis dari kapal pesiar yang kandas di Sungai Danube yang mengering. Sungai terpanjang kedua di Eropa tersebut mengalami penyusutan debit air hingga menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah.

Kapal pesiar Viking Ullur terjebak di dekat kota pelabuhan Vidin, Bulgaria, setelah menabrak gundukan pasir dangkal. Dampaknya, kapal gagal bersandar di pelabuhan untuk mengisi ulang pasokan logistik hingga membuat para penumpang kehabisan makanan dan air minum.

Menurut laporan kantor berita negara Bulgaria, BTA, sebanyak 52 kru kapal kemungkinan harus bertahan di atas kapal untuk jangka waktu yang belum ditentukan, tergantung kondisi navigasi dan proses pengapungan kembali kapal tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan melanda wilayah Eropa Tengah dan Barat. Sungai Danube-yang melintasi 10 negara dari Jerman hingga Laut Hitam-kini menyusut drastis hingga memperlihatkan bebatuan, gundukan pasir, dan bangkai kapal tua yang sebelumnya tak pernah terlihat.

Di Budapest, Hungaria, Otoritas Air Nasional mencatat tinggi muka air Sungai Danube berada di angka 23 sentimeter pada Rabu pagi. Angka ini jauh di bawah rekor terendah sebelumnya sebesar 33 sentimeter pada 2018.

Kementerian Transportasi dan Investasi Hungaria menyatakan kondisi ini memaksa kapal-kapal pesiar untuk berlabuh jauh di hulu sungai. Sementara itu, lalu lintas kapal kargo dihentikan hampir sepenuhnya.

Kondisi serupa terjadi di Serbia. Ratusan perahu kecil dan puluhan kapal kargo terdampar di tepi sungai yang mengering di dekat kota Novi Sad.

"Air Sungai Danube telah surut sekitar 15 hingga 20 meter dari garis pantai," ujar Radovan Segrt, pemilik rumah apung yang biasa menyewakan tur wisata sungai, seperti dilansir Independent. "Untuk musim panas kali ini, bisnis tur perahu sudah berakhir," tambahnya.

Surutnya air Sungai Danube tidak hanya melumpuhkan pariwisata dan industri pelayaran, tetapi juga mulai mengancam suplai energi listrik. Air sungai yang biasa digunakan sebagai pendingin reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di sejumlah negara kini memicu penghentian operasi reaktor.

Sungai Danube sendiri mengalir melewati 10 negara di Eropa, dari hulu hingga muaranya, di antaranya, Jerman, Austria, Slovakia, Hungaria, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Rumania, Moldova, dan Ukraina.

Di Rumania, aliran air Danube merosot hingga 1.630 meter kubik per detik, hanya sepertiga dari rata-rata normal di bulan Juli. Pemerintah setempat terpaksa mematikan satu unit reaktor di PLTN Cernavoda demi alasan keselamatan, dan menyusul satu reaktor lainnya dalam waktu dekat.

Langkah serupa diambil Hungaria. PLTN Paks, yang menyokong hampir separuh kebutuhan listrik negara tersebut, mulai menurunkan daya reaktornya akibat keterbatasan pasokan air pendingin.

Layanan Meteorologi Hungaria mencatat curah hujan dalam 90 hari terakhir berada 80-130 milimeter di bawah rata-rata tahunan di hampir seluruh wilayah negara.

Tingkat penurunan air sungai diprediksi masih akan memburuk dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, belum ada tanda-tanda curah hujan signifikan, sementara suhu udara diperkirakan melonjak hingga melampaui 38 derajat Celsius.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]