Rekor Sejarah Dunia, Pesawat Terbang Non-stop 24 Jam Antarbenua
Sebuah uji coba penerbangan pesawat Airbus milik maskapai Australia, Qantas, mencatatkan sejarah baru di dunia penerbangan usai mengudara secara non-stop selama 24 jam 24 menit.
Mengutip data dari Flightradar24, rute penerbangan dari Melbourne, Australia, menuju Toulouse di Prancis tersebut menempuh jarak sejauh 23.075,92 kilometer.
Pencapaian ini resmi memecahkan rekor dunia penerbangan jarak terjauh tanpa henti yang pernah dilakukan oleh pesawat komersial, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang armada Boeing 777-200LR sejak tahun 2005.
Pesawat bertolak dari Melbourne pada 27 Juli pagi dan mendarat dengan selamat di markas besar Airbus di Toulouse pada 28 Juli usai melintasi tiga benua, dua samudra, serta 17 zona waktu.
Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah penting bagi "Project Sunrise" milik Qantas, sebuah proyek ambisius yang bertujuan menghubungkan pantai timur Australia secara langsung dengan kota London dan New York tanpa transit.
Qantas pertama kali mencanangkan visi ini pada 2017 silam dan resmi memesan 12 armada Airbus A350-1000ULR yang dimodifikasi khusus pada tahun 2022.
Mengutip laporan The Guardian, pesawat ini dirancang khusus untuk rute penerbangan jarak sangat jauh atau ultra-long-haul dengan tambahan tangki bahan bakar berkapasitas 20.000 liter. Modifikasi ini memungkinkan pesawat memiliki daya jelajah maksimal tanpa henti hingga hampir 18.500 kilometer.
Bagi para pelancong, rute langsung ini berpotensi memangkas waktu tempuh hingga empat jam dibandingkan penerbangan konvensional yang harus melakukan sekali transit. Tiket untuk rute Sydney-London rencananya mulai dijual pada Februari 2027, dengan penerbangan perdana dijadwalkan meluncur pada Oktober di tahun yang sama.
Menghabiskan waktu penuh selama seharian di dalam pesawat tentu menimbulkan kekhawatiran terkait jet lag dan kelelahan fisik.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Qantas bekerja sama dengan ilmuwan dan peneliti tidur, Profesor Peter Cistulli dari Charles Perkins Centre Universitas Sydney. Kerja sama ini melahirkan desain interior serta pengalaman kabin yang dirancang berbasis ilmu ritme sirkadian tubuh manusia.
Qantas mengungkapkan bahwa interior pesawat dirancang sangat lapang dan ergonomis dengan hanya menyediakan 238 kursi. Angka ini merupakan kerapatan kursi paling sedikit di antara armada Airbus A350-1000 yang beroperasi di seluruh dunia, dari standar normal yang biasanya menampung lebih dari 300 penumpang.
Untuk membantu penumpang tetap aktif, maskapai menghadirkan "zona kebugaran" di antara kabin Premium Economy dan Economy. Area ini dilengkapi panel dinding berpegangan khusus untuk peregangan otot, stasiun hidrasi air minum, serta sajian penyegar premium.
Pesawat ini juga dibekali 12 skema pencahayaan khusus, seperti simulasi 'matahari terbit', 'matahari terbenam', hingga 'mode terjaga'. Teknologi pencahayaan ini diklaim membantu tubuh penumpang beradaptasi secara mulus dengan zona waktu di kota tujuan dan meminimalkan dampak jet lag.
Situs penerbangan AeroTime mencatat bahwa penerbangan komersial non-stop terlama sebenarnya pernah terjadi pada era Perang Dunia II saat Qantas mengoperasikan pesawat kapal terbang Catalina.
Dikenal dengan sebutan penerbangan "Double Sunrise", perjalanan tanpa henti melintasi Samudra Hindia kala itu memakan waktu hingga 33 jam, cukup lama hingga membuat penumpang dapat menyaksikan dua kali matahari terbit sebelum sampai di tujuan. Puluhan tahun berselang, penerbangan uji coba modern Melbourne-Toulouse ini kembali menyedot perhatian dunia.
Data Flightradar24 menunjukkan bahwa penerbangan ini mencatatkan 3.652.947 pantauan langsung atau live tracking views. Angka ini menjadikannya sebagai penerbangan yang paling banyak dipantau sepanjang sejarah nomor dua di dunia, berada tepat di belakang penerbangan terakhir mendiang Ratu Elizabeth II pada tahun 2022.
(wiw)